Mengenal Tes Kesamaptaan IPDN, Standar Fisik yang Wajib Dipenuhi Calon Praja

Tes kesamaptaan IPDN menguji kekuatan, daya tahan dan kelincahan calon praja melalui lari, push up, sit up, pull up dan shuttle run.

Tes kesamaptaan IPDN menguji kekuatan, daya tahan dan kelincahan calon praja melalui lari, push up, sit up, pull up dan shuttle run

Tes kesamaptaan IPDN menjadi salah satu tahapan yang perlu diperhatikan calon praja dalam mengikuti Seleksi Penerimaan Calon Praja (SPCP). Tes ini dirancang untuk mengukur kemampuan fisik peserta sebelum mereka dinyatakan lolos menjadi praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Berdasarkan ketentuan yang dijelaskan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), tes kesamaptaan mencakup beberapa aktivitas fisik, mulai dari lari, push up, sit up, pull up atau chinning, hingga shuttle run. Rangkaian tersebut digunakan untuk melihat daya tahan, kekuatan, koordinasi dan kelincahan peserta.

Tes kesamaptaan menjadi bagian dari tahapan Pantukhir. Dalam ketentuan yang dirujuk, rangkaian Pantukhir dilaksanakan di Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

IPDN sendiri mencatat bahwa seleksi calon praja berlangsung melalui sejumlah tahapan. Pada seleksi sebelumnya, rangkaian tersebut mencakup seleksi administrasi, seleksi kompetensi dasar, tes kesehatan, tes psikologi, tes kesamaptaan hingga pemeriksaan penampilan.

Jenis Tes Kesamaptaan IPDN dan Standar Fisik

1. Lari

Tes lari digunakan untuk mengukur kemampuan daya tahan tubuh peserta. Berdasarkan ketentuan yang dijelaskan PANRB, peserta pria menjalani lari selama 12 menit dengan jarak minimal 1.200 meter.

Sementara itu, peserta wanita diberikan waktu 14 menit dengan jarak minimal 1.200 meter. Perbedaan durasi tersebut menjadi salah satu ketentuan yang perlu diperhatikan calon praja saat mempersiapkan diri.

Latihan lari sebaiknya tidak hanya berfokus pada kecepatan. Peserta perlu membangun stamina agar mampu mempertahankan ritme selama durasi tes berlangsung.

Baca Juga:  Kronologi Lengkap Kematian Siswa SMP di Grobogan, Diduga Akibat Bullying di Sekolah

2. Push up

Push up digunakan untuk melihat kemampuan dan daya tahan otot tubuh bagian atas. Dalam ketentuan yang dirujuk, peserta pria ditargetkan mampu melakukan 35 sampai 40 kali push up, sedangkan peserta wanita berada pada kisaran 30 sampai 35 kali dalam waktu sekitar satu menit.

Jumlah repetisi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Gerakan push up harus dilakukan dengan teknik yang benar agar setiap repetisi dapat dinilai sesuai ketentuan.

3. Sit up

Sit up digunakan untuk mengukur daya tahan dan fleksibilitas otot perut. Standar yang tercantum dalam materi PANRB adalah 35 sampai 40 kali untuk peserta pria dan 30 kali untuk peserta wanita dalam satu menit.

Latihan secara rutin diperlukan agar tubuh terbiasa melakukan gerakan berulang dalam waktu yang telah ditentukan. Peserta juga perlu menjaga teknik agar tidak hanya mengejar jumlah gerakan.

4. Pull up dan chinning

Pull up menguji kekuatan otot lengan dan bagian tubuh atas. Gerakannya dilakukan dengan bergantung pada tiang horizontal, kemudian menarik tubuh hingga dagu melewati tiang sebelum kembali ke posisi awal dengan tangan lurus.

Berdasarkan ketentuan yang dijelaskan PANRB, standar pull up peserta pria adalah 10 kali. Chinning juga tercantum sebagai salah satu bentuk latihan dalam rangkaian tes kesamaptaan.

Peserta perlu membiasakan diri dengan gerakan tersebut sejak jauh hari karena kemampuan menarik beban tubuh membutuhkan kekuatan otot yang terlatih.

Baca Juga:  Evaluasi Diperlukan, Bukan Hanya Air Mata: Sindiran DPR ke Waka BGN atas Kasus Keracunan MBG

5. Shuttle run

Shuttle run digunakan untuk mengukur kelincahan, akselerasi, koordinasi dan kemampuan mengubah arah dengan cepat.

Dalam penjelasan PANRB mengenai tes kesamaptaan, shuttle run dilakukan dengan pola berlari di antara dua titik. Peserta dituntut bergerak cepat sekaligus mampu menjaga keseimbangan ketika melakukan perubahan arah.

Karena membutuhkan kombinasi kecepatan dan kelincahan, latihan shuttle run sebaiknya tidak diabaikan. Peserta dapat melatih kemampuan sprint pendek, perubahan arah dan koordinasi gerak sebagai bagian dari persiapan.

Tes kesamaptaan pada dasarnya bukan sekadar menguji siapa yang mampu melakukan gerakan paling banyak. Setiap jenis ujian memiliki tujuan berbeda untuk melihat kondisi fisik calon praja secara lebih menyeluruh.

Bagi peserta yang sedang mempersiapkan seleksi IPDN, latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Daya tahan, kekuatan otot dan kelincahan perlu dilatih secara seimbang, sementara teknik setiap gerakan juga harus diperhatikan.

Ketentuan seleksi dapat berubah mengikuti kebijakan dan pengumuman resmi pada tahun penerimaan. Karena itu, calon peserta tetap perlu memeriksa informasi terbaru dari IPDN dan instansi pemerintah terkait sebelum mengikuti seleksi.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED