Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan baru di tengah konflik dengan Iran. Persediaan sejumlah amunisi dan rudal Amerika Serikat dilaporkan mulai tergerus setelah digunakan dalam operasi militer selama beberapa bulan.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena Washington sebelumnya disebut memiliki kemampuan militer besar untuk menghadapi Teheran. Namun, laporan sejumlah media menunjukkan bahwa penggunaan persenjataan dalam jumlah besar mulai memberikan tekanan terhadap stok senjata Amerika Serikat.
Menurut laporan yang dikutip dari media AS, lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dan lebih dari 1.000 rudal pencegat THAAD telah digunakan pada bulan pertama konflik. Selain itu, sedikitnya 1.300 rudal balistik taktis juga telah dikerahkan.
Laporan Reuters pada 4 Agustus menyebut militer AS telah menggunakan “hampir seluruh” persediaan rudal jarak jauh untuk menghadapi Iran. Reuters juga melaporkan bahwa selama konflik yang telah berlangsung sekitar lima bulan, stok rudal presisi jarak jauh AS mengalami tekanan serius.
Tekanan serupa juga terlihat pada sistem pertahanan udara. Berdasarkan laporan Reuters, sekitar 65 persen pencegat Patriot dan 38 persen pencegat THAAD telah digunakan sejak perang dimulai. Hampir separuh rudal jelajah Tomahawk milik Angkatan Laut AS juga telah dikerahkan.
Kondisi ini membuat kemampuan Amerika Serikat untuk menghadapi konflik berkepanjangan menjadi perhatian. Persediaan rudal presisi dibutuhkan bukan hanya untuk operasi di Iran, tetapi juga untuk menjaga kesiapan menghadapi ancaman dari negara lain.
Trump Bantah AS Kekurangan Senjata
Meski laporan mengenai stok senjata yang menipis terus bermunculan, Trump membantah bahwa Amerika Serikat mengalami kekurangan amunisi.
Dalam pernyataan di Truth Social pada Kamis (6/8), Trump mengatakan Amerika Serikat masih memiliki persediaan amunisi dalam jumlah besar. Ia juga menyebut produksi senjata sedang ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan militer.
“AS memiliki sejumlah besar amunisi, terutama jenis-jenis tertentu. Selain itu, sejumlah besar amunisi sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan pertahanan sedang membangun pabrik dan fasilitas produksi terbesar dalam sejarah negara kita,” tulis Trump.
Namun, Trump juga menyinggung informasi mengenai kondisi persediaan militer yang bocor ke publik. Ia menyatakan pihak yang membocorkan informasi tersebut akan dikejar dan terancam hukuman penjara.
Di sisi lain, pemerintah AS memang telah mengambil sejumlah langkah untuk mempercepat produksi rudal. Pada awal Agustus, Amerika Serikat meneken kesepakatan senilai lebih dari US$3 miliar atau sekitar Rp48,9 triliun untuk meningkatkan produksi komponen rudal Patriot dan THAAD. Kapasitas produksi Patriot ditargetkan meningkat tiga kali lipat, sedangkan produksi THAAD ditargetkan naik empat kali lipat.
Reuters juga melaporkan bahwa Amerika Serikat berupaya meningkatkan produksi Tomahawk dari sekitar 60 menjadi 1.000 rudal per tahun. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah AS sedang berusaha mengisi kembali persediaan senjata yang terkuras akibat berbagai operasi militer.
Sementara itu, Trump pada 6 Agustus mengatakan perang dengan Iran kemungkinan dapat berakhir dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ia juga mengakui bahwa meski AS memiliki persediaan besar untuk jenis amunisi tertentu, beberapa persediaan lainnya memang mulai menipis.
Referensi:
CNN Indonesia