Dampak Serangan Israel di Lebanon Ribuan Korban Jiwa dan Puluhan Ribu Rumah Hancur
Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan Israel ke Lebanon berlangsung selama puluhan hari dan menimbulkan dampak besar bagi...
Read more
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan perpanjangan gencatan senjata secara sepihak. Keputusan tersebut menuai respons keras dari pihak Iran karena dilakukan tanpa kesepakatan bersama.
Menurut penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, langkah tersebut tidak memiliki makna nyata bagi pihaknya. “Perpanjangan gencatan senjata Trump tidak berarti apa-apa,” kata Mahdi Mohammadi.
Ia juga menyoroti bahwa di tengah perpanjangan gencatan senjata tersebut, kebijakan blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat tetap berjalan. Menurutnya, tindakan itu justru menunjukkan inkonsistensi dan harus direspons secara tegas.
Menurut Mahdi Mohammadi, pendekatan yang dilakukan Amerika Serikat lebih tepat dijawab dengan aksi militer dibandingkan melalui jalur diplomasi. Ia bahkan menilai langkah tersebut sebagai bagian dari strategi tertentu. “Perpanjangan gencatan senjata Trump jelas merupakan taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak. Saatnya bagi Iran untuk mengambil inisiatif telah tiba,” ujarnya.
Berdasarkan penjelasan dari Perserikatan Bangsa Bangsa, gencatan senjata sepihak adalah keputusan penghentian konflik yang diumumkan oleh satu pihak tanpa melibatkan pihak lawan. Artinya, tidak diperlukan persetujuan dari pihak lain untuk menyatakan penghentian sementara atau permanen dari aksi militer.
Namun dalam praktiknya, gencatan senjata yang lebih umum adalah yang disepakati oleh kedua pihak yang bertikai atau dikenal sebagai belligerency. Kesepakatan ini biasanya dituangkan dalam perjanjian tertulis, meskipun dalam beberapa kasus juga bisa dilakukan secara lisan.
Berdasarkan data dari PBB melalui laman peacemaker, gencatan senjata sepihak dapat bersifat sementara maupun tanpa batas waktu. Bahkan, satu pihak dapat memperpanjangnya secara mandiri tanpa harus menunggu persetujuan pihak lain.
Meski demikian, efektivitas gencatan senjata sering kali menjadi tantangan tersendiri. Bahkan dalam kesepakatan dua pihak sekalipun, pelanggaran tetap kerap terjadi di lapangan.
Sebagai contoh, PBB pernah memfasilitasi beberapa kesepakatan gencatan senjata dalam konflik di Lebanon pada tahun 1978, 1981, dan 1982. Namun konflik tetap kembali pecah setelah kesepakatan tersebut, dan perang baru benar benar berakhir pada 1990.
Hal ini menunjukkan bahwa baik gencatan senjata sepihak maupun yang disepakati bersama tidak selalu menjamin berakhirnya konflik secara permanen.
Dalam konteks konflik antara Amerika Serikat dan Iran, keputusan sepihak tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk meredakan ketegangan. Apalagi, langkah itu diambil tanpa kesepakatan langsung antara kedua pihak yang berkonflik.
Kondisi ini membuat dinamika geopolitik di kawasan semakin kompleks, dengan potensi eskalasi yang masih terbuka jika tidak diiringi langkah diplomasi yang konkret.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Wacana pemberian insentif untuk sepeda motor listrik kembali mencuat di tengah perubahan kebijakan kendaraan listrik di Indonesia. Meski sebelumnya pemerintah...
Kebijakan pemerintah terkait kendaraan listrik di Indonesia memasuki babak baru. Sejumlah insentif yang sebelumnya diberikan untuk mendorong adopsi mobil listrik...