Trump Ungkap Opsi Keras atau Damai dalam Konflik AS dan Iran
Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat memiliki dua opsi utama dalam menghadapi konflik dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan setelah...
Read more
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Amerika Serikat secara tegas meminta Iran untuk mengakui kekalahan dan menerima kesepakatan yang ditawarkan guna mengakhiri konflik.
Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, Presiden Donald Trump disebut siap mengambil langkah lebih keras jika Iran tidak segera merespons situasi saat ini. Ia menegaskan bahwa Washington menilai Iran telah mengalami kekalahan secara militer dalam konflik yang berlangsung.
“Jika Iran gagal menerima realitas saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus mengalami hal tersebut, Presiden Trump akan memastikan mereka dipukul lebih keras daripada sebelumnya,” kata Karoline Leavitt.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Presiden Trump tidak sedang menggertak. Menurutnya, opsi serangan lanjutan tetap terbuka jika Iran dianggap melakukan kesalahan perhitungan dalam menyikapi situasi.
“Presiden Trump tidak sedang menggertak dan Ia siap untuk melepaskan neraka. Iran tidak boleh melakukan salah perhitungan lagi,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya tensi, Amerika Serikat juga diketahui telah mengajukan proposal gencatan senjata kepada Iran. Berdasarkan laporan yang dikutip dari media internasional, tawaran tersebut mencakup sejumlah poin strategis yang bertujuan menghentikan konflik dan membuka ruang negosiasi lanjutan.
Disebutkan bahwa proposal tersebut berisi 15 poin yang telah disampaikan kepada pihak Iran melalui Pakistan. Islamabad bahkan disebut bersedia menjadi tuan rumah dalam proses negosiasi antara Washington dan Teheran.
Selain itu, laporan lain menyebutkan bahwa Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan untuk membahas lebih lanjut isi dari kesepakatan tersebut. Beberapa poin yang disebut masuk dalam rencana itu antara lain pembatasan program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, serta pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Namun, respons dari Iran justru menunjukkan sikap penolakan. Pemerintah Iran menilai tawaran tersebut tidak mencerminkan kondisi sebenarnya dan bahkan menyindir balik posisi Amerika Serikat.
Menurut juru bicara militer Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, pihaknya menilai Amerika Serikat tidak berada dalam posisi kuat untuk menawarkan kesepakatan. Ia bahkan menyebut kekuatan strategis AS telah berubah menjadi kegagalan.
“Kekuatan strategis yang dulu Anda bicarakan telah berubah menjadi kegagalan strategis,” kata Ebrahim Zolfaghari dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Ia juga menambahkan bahwa Amerika Serikat seharusnya mampu keluar dari konflik jika benar memiliki kekuatan besar seperti yang diklaim selama ini. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa Iran tidak mudah menerima tekanan dari pihak luar.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih penuh tantangan. Masing-masing pihak masih mempertahankan posisi dan kepentingannya di tengah konflik yang belum mereda.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Peristiwa tragis terjadi di wilayah Karawang, Jawa Barat, ketika seorang pria berinisial C berusia 32 tahun meninggal dunia setelah lehernya...
Kabar penting bagi pemilik Surat Izin Mengemudi atau Surat Izin Mengemudi yang masa berlakunya baru saja habis. Dalam kondisi tertentu,...