Bijak Bermedia Sosial, Pahami Dampak Psikologis Sebelum Berbagi

Psikiater Lahargo Kembaren jelaskan tiga filter penting sebelum unggah konten di media sosial agar terhindar dari dampak negatif. (Foto: Freepik)

Psikiater Lahargo Kembaren jelaskan tiga filter penting sebelum unggah konten di media sosial agar terhindar dari dampak negatif

Bijak bermedia sosial kini menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Di era digital, pikiran, pendapat, hingga pilihan pribadi yang diunggah ke ruang publik bisa memicu perdebatan luas dan bahkan berdampak pada kehidupan pribadi.

Psikiater Lahargo Kembaren mengingatkan pentingnya menyaring konten sebelum dibagikan ke media sosial. Menurutnya, secara psikologis dan etika digital, ada tiga filter sederhana yang perlu dipertimbangkan sebelum menekan tombol unggah.

Tiga Filter Penting Sebelum Posting di Media Sosial

1. Kebutuhan atau Impuls

Menurut Lahargo, pengguna perlu bertanya pada diri sendiri apakah unggahan tersebut benar-benar berdasarkan kebutuhan atau hanya dorongan emosi sesaat. Konten yang diunggah saat emosi memuncak cenderung impulsif dan berisiko disalahpahami.

“Kalau di-posting saat emosi memuncak, biasanya lebih impulsif dan berisiko disalahpahami,” kata Lahargo dalam keterangan pers yang dikutip pada Senin 23 Februari 2026.

Konten impulsif sering kali meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus dan bisa berdampak panjang.

2. Perhatikan Dampak Sosial

Isu tertentu seperti identitas negara, keluarga, atau anak termasuk topik sensitif karena menyangkut nilai kolektif masyarakat. Pengguna media sosial yang bijak perlu mempertimbangkan cara penyampaian serta potensi dampak sosialnya.

Kesalahan dalam memilih kata atau konteks dapat memicu polemik yang sebenarnya bisa dihindari.

3. Gunakan Prinsip Future Self

Lahargo juga menekankan pentingnya prinsip future self, yakni mempertimbangkan dampak unggahan dalam jangka panjang.

“Tanya diri sendiri: Apakah saya tetap nyaman jika posting-an ini dilihat lima tahun lagi? Media sosial itu ruang publik permanen. Tidak semua yang terasa benar untuk diucapkan, aman untuk dipublikasikan,” jelas Lahargo.

Jejak digital bersifat permanen dan dapat memengaruhi reputasi pribadi maupun profesional di masa depan.

Alasan Psikologis Orang Suka Unggah Hal Pribadi

Menurut Lahargo, ada beberapa faktor psikologis yang mendorong seseorang membagikan pilihan atau pengalaman pribadi di media sosial.

Butuh Validasi
Respons sosial seperti tanda suka, komentar, dan bagikan memicu pelepasan dopamin di otak. Hal ini membuat individu terdorong untuk terus membagikan konten pribadi.

Signal Identitas Diri
Unggahan sering dijadikan cara menunjukkan nilai, posisi sosial, dan perspektif hidup seseorang.

Regulasi Emosi
Sebagian orang menggunakan media sosial sebagai sarana katarsis atau pelepasan emosi, mirip seperti menulis jurnal namun dilakukan di ruang publik.

“Kadang yang di-posting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami,” kata Lahargo.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai kasus viral, termasuk unggahan kontroversial seorang alumni LPDP yang menyatakan tidak ingin anaknya menjadi Warga Negara Indonesia. Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas di ruang publik digital.

Stres Kolektif dan Kecemasan Masa Depan

Lahargo menjelaskan bahwa keluhan stres menjadi WNI bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor psikologis.

Collective Stress muncul ketika seseorang terus terpapar isu sosial, ekonomi, atau kebijakan publik yang terasa sulit dikendalikan. Paparan diskusi dan konten viral bernuansa kekecewaan dapat memperkuat rasa lelah emosional atau burn out.

Social Comparison dan Future Anxiety terjadi ketika individu membandingkan kondisi dalam negeri dengan gambaran kehidupan di luar negeri. Hal ini bisa memicu kecemasan terhadap masa depan.

“Bukan berarti individu membenci negaranya, tetapi mereka sedang mencari rasa aman dan kepastian untuk kehidupan di masa depan,” kata Lahargo.

Selain itu, paparan berita negatif secara terus menerus dapat memicu bias kognitif seperti catastrophizing, yaitu kecenderungan melihat situasi lebih buruk dari realitas objektif.

“Banyak orang bukan lelah menjadi WNI, tapi lelah merasa tidak punya kendali atas masa depan,” kata dokter yang aktif di Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia.

Mengeluh di Media Sosial atau Konsultasi Profesional

Secara psikologis, mengeluh di media sosial dan berkonsultasi dengan profesional memiliki fungsi berbeda.

Mengunggah keluhan di media sosial bisa menjadi bentuk katarsis atau pelepasan emosi sementara. Namun, menurut Lahargo, media sosial bukan ruang pemulihan.

“Curhat di media sosial boleh saja sebagai ekspresi, tapi pemulihan dari stres yang dialami tetap butuh ruang aman yang tidak menghakimi salah satunya lewat konsultasi ke profesional kesehatan jiwa,” jelasnya.

Konsultasi ke psikolog atau psikiater disarankan jika keluhan sudah mengganggu tidur, relasi, atau fungsi kehidupan sehari-hari.

📚 ️Baca Juga Seputar Tips

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Tips Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia tips — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED