Komet MAPS Hancur di Dekat Matahari, Ini Fakta Menarik di Baliknya
Fenomena komet C/2026 A1 atau MAPS menjadi salah satu peristiwa astronomi yang paling dinantikan pada April 2026. Namun, harapan untuk...
Read more
Pada awal Maret 2026, citra satelit milik Badan Antariksa Eropa atau ESA menangkap perubahan mencolok di wilayah Antartika. Sejumlah area terlihat berwarna kehijauan, memicu perhatian para ilmuwan dan publik global.
Berdasarkan pengamatan dari satelit Sentinel-3, warna hijau tersebut dikaitkan dengan pertumbuhan fitoplankton, organisme mikroskopis yang mampu melakukan fotosintesis. Menurut laporan yang dikutip dari pengamatan ilmiah tersebut, fitoplankton memang dapat memberikan warna khas pada perairan laut, terutama saat jumlahnya meningkat drastis.
Meski tampak tidak biasa, fenomena ini ternyata bukan tanda bahaya langsung. Para ilmuwan menegaskan bahwa kemunculan fitoplankton dalam jumlah besar merupakan bagian dari siklus alami ekosistem laut di wilayah kutub.
Proses ini terjadi ketika malam kutub berakhir dan sinar matahari kembali menyinari Antartika. Pencairan es laut kemudian melepaskan nutrien ke perairan, yang memicu pertumbuhan fitoplankton. Arus laut selanjutnya menyebarkan organisme ini hingga terlihat jelas dari citra satelit.
Fitoplankton memiliki peran penting dalam ekosistem laut. Organisme ini menjadi dasar rantai makanan bagi berbagai biota, termasuk krill yang merupakan sumber makanan utama bagi banyak hewan laut di Antartika. Selain itu, fitoplankton juga berkontribusi dalam siklus karbon global dan produksi oksigen.
Namun, di balik fenomena alami tersebut, para ilmuwan mulai mencatat adanya perubahan yang lebih dalam. Berdasarkan data penelitian terbaru, komposisi fitoplankton di wilayah ini mengalami pergeseran sejak 2016.
Jenis diatom yang sebelumnya mendominasi kini mulai berkurang, digantikan oleh kelompok lain seperti cryptophytes dan haptophytes. Pergeseran ini terjadi seiring dengan berkurangnya es laut akibat perubahan iklim.
Di wilayah Semenanjung Antartika Barat, peningkatan biomassa fitoplankton juga terdeteksi, terutama pada musim gugur austral. Tidak hanya itu, distribusi organisme ini kini tidak lagi terbatas di permukaan laut, tetapi juga ditemukan di bawah lapisan es dan lebih terkonsentrasi di area pesisir.
Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan rantai makanan laut. Krill, yang sangat bergantung pada jenis fitoplankton tertentu, bisa terdampak jika komposisi organisme ini terus berubah.
Selain itu, kemampuan Antartika dalam menyerap karbon juga dapat terganggu. Pemanasan laut yang terjadi secara bertahap dapat mengurangi efektivitas fitoplankton dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer.
Menurut para peneliti, pemantauan melalui satelit menjadi kunci untuk memahami dinamika ini. Teknologi seperti Sentinel memungkinkan analisis perubahan ekosistem laut secara real-time, sekaligus membantu mengidentifikasi dampak pemanasan global terhadap keanekaragaman hayati.
Fenomena Antartika yang terlihat menghijau ini pada akhirnya tidak sekadar menjadi pemandangan unik dari luar angkasa. Lebih dari itu, kondisi tersebut menjadi indikator penting perubahan ekosistem laut yang perlu terus dipantau secara serius.
Referensi:
Bloomberg Technoz
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Sains Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia sains — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabar baik bagi penggemar produk Apple di Tanah Air. iPhone 17e yang sebelumnya dirilis secara global pada Maret 2026 kini...
Pemerintah melalui Panitia Seleksi Nasional Sumber Daya Manusia Program Hasil Terbaik Cepat resmi membuka rekrutmen pengelola Koperasi Desa Merah Putih...