Kronologi Lengkap Kasus Suami Bela Istri dari Jambret yang Berujung Tersangka
Kasus yang menimpa Hogi Minaya (43) menyita perhatian publik setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka dalam peristiwa kecelakaan maut yang menewaskan...
Read more
Partai Golkar menyatakan dukungan terhadap sistem pemilihan kepala daerah atau Pilkada melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sikap ini diambil setelah partai berlambang beringin tersebut melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Pilkada langsung yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Indonesia.
Menurut Ketua Fraksi Golkar MPR, Melchias Markus Mekeng, salah satu alasan utama dukungan tersebut adalah tingginya biaya politik yang harus dikeluarkan calon kepala daerah dalam Pilkada langsung. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi melahirkan praktik tidak sehat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
“Fraksi Partai Golkar dalam Rapimnas yang terakhir itu memutuskan dipilih secara DPRD. Pertimbangannya, kita sudah mengalami dipilih langsung oleh masyarakat, yang terjadi adalah biaya politiknya terlalu tinggi,” kata Melchias Markus Mekeng, Ketua Fraksi Golkar MPR.
Biaya politik yang besar, menurut Mekeng, sering kali mendorong kepala daerah terpilih untuk mencari cara mengembalikan modal kampanye setelah menjabat. Kondisi inilah yang dinilai menjadi salah satu faktor munculnya budaya korupsi di tingkat daerah.
“Kalau biaya terlalu tinggi, nantinya orang berpikir saat menjadi bupati, wali kota, atau gubernur bisa mencari uang untuk mengembalikan dana yang sudah dikeluarkan. Faktanya, sudah ratusan bupati dan puluhan gubernur ditangkap. Ini tidak sehat dan tujuan Pilkada tidak tercapai,” ujarnya.
Golkar memandang bahwa citra Indonesia di mata internasional juga ikut terdampak akibat maraknya kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah. Indeks persepsi korupsi dinilai sulit membaik apabila sistem politik masih menuntut biaya tinggi sejak awal kontestasi.
Selain mendorong Pilkada lewat DPRD, Golkar juga menilai ada pekerjaan rumah lain yang harus diselesaikan sebelum sistem tersebut diterapkan. Mekeng menyebut bahwa isu dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) masih perlu dibenahi agar sistem politik berjalan lebih ideal.
Menurut Mekeng, terdapat sejumlah persoalan mendasar dalam Pileg, mulai dari sistem proporsional terbuka, tertutup, atau campuran, hingga ambang batas parlemen atau parliamentary threshold yang masih menjadi perdebatan.
“Pileg masih ada berbagai isu yang harus diselesaikan. Apakah proporsional terbuka, tertutup, atau campuran. Parliamentary threshold mau 4 persen, 7 persen, atau di bawahnya. Ini harus diselesaikan dulu,” katanya.
Jika Pilkada melalui DPRD disetujui, Golkar mengusulkan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta aparat penegak hukum lainnya dilibatkan secara aktif dalam pengawasan proses pemilihan. Mekeng menilai pengawasan akan jauh lebih efektif karena jumlah pemilih lebih terbatas.
“Ada yang bilang kalau lewat DPRD ujungnya tetap money politics. Tapi lebih mudah mengontrol 30 sampai 40 orang dibanding ratusan ribu masyarakat. Kalau DPRD satu kabupaten 40 orang, turunkan KPK, jaksa, polisi untuk mengawasi. Dibanding harus mengawasi 200 ribu pemilih,” jelasnya.
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan belum lama ini mengundang perhatian luas. Banyak pihak terkejut...
Diet kerap identik dengan pembatasan porsi dan rasa lapar yang berkepanjangan. Tak sedikit orang menganggap menurunkan berat badan berarti harus...