Diet Super Ketat Cristiano Ronaldo, Efektif untuk Kesehatan atau Berisiko?
Cristiano Ronaldo dikenal sebagai salah satu atlet dengan disiplin luar biasa dalam menjaga kondisi fisiknya. Selain latihan intensif, kapten Timnas...
Read more
Kasus kolaps mendadak saat berolahraga kembali menjadi perhatian publik. Kondisi ini sering mengejutkan karena terjadi tiba-tiba tanpa tanda peringatan yang jelas. Banyak orang beranggapan bahwa seseorang yang terlihat bugar dan rutin berolahraga pasti memiliki jantung yang sehat, namun pada kenyataannya hal tersebut belum tentu berlaku.
Menurut spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular Brawijaya Hospital, dr Simon Salim, SpPD-KKV, kasus kolaps mendadak saat olahraga sebenarnya jauh lebih jarang dibandingkan kejadian kolaps yang terjadi ketika seseorang tidak sedang beraktivitas fisik. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa 18 November 2025 di kawasan Jakarta Selatan.
“Kalau dilihat secara keseluruhan, mereka yang berolahraga itu angka kolaps tiba-tibanya lebih sedikit dibandingkan mereka yang nggak pernah berolahraga,” kata dr Simon.
Ia menjelaskan bahwa penyebab seseorang tiba-tiba tumbang tidak selalu berkaitan dengan serangan jantung atau penyumbatan pembuluh darah. Faktor pemicu dapat sangat beragam dan tidak selalu berhubungan langsung dengan organ jantung.
“Tergantung. Nggak semua gara-gara serangan jantung. Ada yang memang gara-gara gangguan irama jantung,” jelasnya.
Tidak hanya itu, dr Simon menambahkan bahwa ada juga kasus kolaps yang tidak berkaitan sama sekali dengan gangguan jantung. Dalam beberapa kejadian, diagnosis penyebab baru dapat diketahui setelah dilakukan pemeriksaan medis menyeluruh.
“Ada lagi yang bukan karena jantung sama sekali, karena penyebabnya banyak dan tergantung hasil autopsi harusnya,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa masalah kelistrikan jantung bisa menjadi faktor lain yang memicu kolaps tiba-tiba, meskipun tidak ada riwayat gangguan kardiovaskular sebelumnya. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi sulit.
Sayangnya, menurut dr Simon, hampir tidak ada tanda peringatan spesifik sebelum seseorang mengalami kolaps mendadak saat berolahraga. Oleh karena itu, langkah pencegahan yang paling efektif bukanlah menunggu gejala muncul, melainkan memastikan kemampuan penanganan darurat di tempat umum.
“Sayangnya nggak ada. Maka pencegahan yang terbaik adalah semua orang di public space itu harus mampu melakukan RJP atau resusitasi jantung paru, harus mampu melakukan bantuan hidup dasar,” beber dr Simon.
Ia juga menekankan pentingnya keberadaan alat Automated External Defibrillator (AED) di fasilitas umum. AED berfungsi mengevaluasi irama jantung dan memberikan kejutan listrik otomatis apabila diperlukan untuk mengembalikan irama normal.
“Setiap orang, pegawai, atau bahkan kita sendiri mampu melakukan bantuan hidup dasar. Mampu melakukan resusitasi jantung paru dan ada AED di public space, itu yang penting,” pungkasnya.
Dengan kata lain, kemampuan memberikan pertolongan pertama dan akses terhadap AED menjadi faktor yang sangat menentukan bagi penyelamatan nyawa seseorang sebelum penanganan medis lebih lanjut dilakukan.
Referensi: Detik Health
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉
Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Bingkisan Tanpa Nama di Kotak Pos Semua bermula pada akhir pekan yang membosankan ketika sebuah paket plastik hitam tergeletak di...
Bagian 1: Papan Kayu di Batas Kota Jalan pintas itu selalu terlihat normal di siang hari. Namun, saat pukul tiga...