Ketersediaan Air di IKN Menjadi Tantangan Besar Pembangunan

BRIN memperingatkan krisis air di IKN jika pembangunan tak diimbangi solusi air. Hanya sebagian kecil air murni tersedia di wilayah tersebut. (Sumber: ikn.go.id)

BRIN memperingatkan krisis air di IKN jika pembangunan tak diimbangi solusi air

Berdasarkan laporan CNN Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memaparkan hasil prediksi mengenai ketersediaan air di wilayah Ibu Kota Negara (IKN). Dalam kajian tersebut, BRIN menyatakan bahwa jumlah air yang benar-benar tersedia sangat terbatas. (Menurut laporan CNN Indonesia)

Peneliti BRIN menggunakan metode artificial neural network (ANN) yang didukung data satelit untuk memodelkan persebaran air di IKN dan sekitarnya. Hasilnya membuka peluang bahwa pembangunan skala besar tanpa strategi air yang matang bisa berhadapan dengan krisis air yang nyata.

Angka-angka Kritis dari Penelitian BRIN

Persentase Ketersediaan Air

Menurut laman resmi BRIN, hasil kajian menunjukkan bahwa bagian kategori air tinggi (high water / HW) hanya mencapai sekitar 0,51 persen dari total wilayah yang diteliti. Sementara itu, air yang berada dalam vegetasi (vegetation water / VW) diperkirakan sebesar 20,41 persen. Sisanya, sekitar 79,08 persen, diklasifikasikan sebagai non-air (non water / NW).

Angka ini memperlihatkan bahwa air murni yang benar‑benar bisa diakses dan dimanfaatkan secara langsung sangat sedikit.

Akurasi Model Prediksi

Model yang digunakan oleh BRIN memiliki akurasi tinggi. Berdasarkan data, tingkat akurasi mencapai 97,7 persen, dengan kappa index sebesar 0,96. Tingginya akurasi ini memberi keyakinan bahwa hasil prediksi relatif andal sebagai masukan kebijakan air IKN.

Risiko Jika Vegetasi Berkurang

Dalam analisisnya, peneliti menyebut bahwa sebagian besar air terikat di struktur vegetasi. Jika wilayah tersebut dikonversi menjadi area bangunan atau infrastruktur tanpa komponen hijau memadai, jumlah air yang tersimpan akan makin menurun.

Peringatan Krisis Air di Tengah Pembangunan

Ancaman Bagi Kebutuhan Air Harian

Dalam pembangunan IKN yang besar dan padat, kebutuhan air untuk konsumsi warga, fasilitas umum, irigasi taman kota, pendingin, serta sistem sanitasi akan sangat tinggi. Jika ketersediaan air tidak dikelola baik, maka pasokan air bisa sulit mencukupi — terutama di musim kemarau atau musim kering.

Beban pada Infrastruktur Air

Kapasitas tangki, sistem perpipaan, sumur dalam atau tambang air bawah tanah akan ditekan jika input air di alam sangat terbatas. Pengembangan seperti waduk buatan atau teknologi desalinasi mungkin akan wajib disertakan agar pertumbuhan kota tetap maju tanpa kelangkaan.

Dampak Ekologis dan Lingkungan

Konversi vegetasi menjadi pemukiman atau infrastruktur tanpa mempertahankan ruang hijau dapat mempercepat hilangnya cadangan air yang terikat di dalam tanah dan tanaman. Hal ini juga meningkatkan risiko kekeringan lokal dan menurunnya kemampuan alami tanah untuk menyerap air hujan.

Perbandingan dengan Kota Lain

Berbagai kota baru di dunia menghadapi tantangan serupa ketika ekspansi kota tidak seimbang dengan manajemen air. Sebagai contoh, kota-kota di negara tunnya atau gurun sering menjumpai bahwa pembangunan cepat memicu krisis air kecuali disertai sistem konservasi air dan manajemen cerdas.

Referensi: CNN Indonesia
Referensi tambahan: BRIN
Referensi tambahan: Detik

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉

Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED