Ramalan Kontroversial Dukun Ghana Sebut Argentina Bakal Tersingkir oleh Cape Verde
Laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Cape Verde mulai diwarnai berbagai prediksi menjelang pertandingan. Salah satu...
Read more
Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa terus menimbulkan dampak serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berkaitan dengan suhu tinggi sejak 21 Juni 2026, sementara jutaan warga masih menghadapi cuaca yang jauh di atas normal.
Menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, suhu panas ekstrem kini menjadi ancaman kesehatan yang semakin nyata di kawasan Eropa. Ia menyebut fenomena tersebut sering dijuluki sebagai “pembunuh senyap” karena dampaknya dapat berakibat fatal, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.
“Stres akibat suhu panas sering disebut sebagai ‘pembunuh senyap’. Bangunan rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu seperti ini,” kata Tedros melalui akun media sosial X.
Menurut WHO, lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni akibat gelombang panas yang terus bergerak ke berbagai wilayah Eropa.
Berdasarkan analisis yang dikutip dari AFP, sekitar 191 juta orang diperkirakan menghadapi suhu minimum mencapai 35 derajat Celsius pada akhir Juni, terutama di Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia.
Sementara itu, analisis yang mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi Jerman dan proyeksi populasi Joint Research Centre yang dihimpun organisasi Austria Klimadashboard menunjukkan sekitar 381 juta penduduk Eropa, di luar Turki, mengalami suhu di atas 30 derajat Celsius.
Di Prancis, otoritas kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan di luar angka normal sejak 24 Juni. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator besarnya dampak gelombang panas terhadap kesehatan masyarakat.
Menurut Tedros, situasi ini tidak hanya meningkatkan angka kematian, tetapi juga memengaruhi berbagai sektor kehidupan. Banyak sekolah ditutup sementara, sedangkan jaringan listrik menghadapi lonjakan konsumsi energi akibat meningkatnya penggunaan pendingin ruangan.
WHO menilai perubahan iklim menjadi faktor utama yang memperparah frekuensi gelombang panas.
“Dipicu oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya terjadi sekali dalam satu generasi kini muncul hampir setiap tahun. Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di Bumi, dengan laju peningkatan suhu dua kali lebih tinggi dibanding rata-rata global,” ujar Tedros.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, WHO terus bekerja sama dengan negara-negara anggota untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak suhu ekstrem. Upaya itu meliputi peningkatan sistem kesehatan, langkah pencegahan, hingga penyusunan respons darurat ketika gelombang panas melanda.
Tedros juga menyerukan pemerintah di berbagai negara Eropa agar segera menerapkan rencana aksi kesehatan terkait suhu panas sebagai bagian dari strategi menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin sering terjadi.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Film animasi Minions and Monsters resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 30 Juni 2026. Film berdurasi sekitar 1 jam 30...
Rapper sekaligus aktor Korea Selatan T.O.P dipastikan akan menggelar tur fan meeting solo pertamanya di Asia. Kabar tersebut menjadi momen...