Krisis Pupuk Global Imbas Perang Iran, Harga Pangan Terancam Naik
Konflik yang melibatkan Iran memberikan dampak luas terhadap sektor global, tidak hanya energi tetapi juga pertanian. Salah satu efek paling...
Read more
Nama Bagher Ghalibaf mendadak menjadi sorotan internasional setelah disebut-sebut sebagai sosok yang dilirik oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk berperan dalam masa depan kepemimpinan Iran.
Berdasarkan laporan sejumlah sumber yang dikutip Reuters, beberapa pejabat Gedung Putih disebut memandang Ghalibaf sebagai figur yang dapat diajak bekerja sama. Bahkan, menurut laporan Politico, pemerintahan Trump secara diam-diam mempertimbangkan Ghalibaf sebagai mitra potensial di masa depan.
“Pemerintahan Trump diam-diam mempertimbangkan ketua parlemen Iran sebagai mitra potensial dan bahkan pemimpin masa depan,” demikian laporan tersebut.
Meski begitu, isu ini langsung dibantah oleh Ghalibaf maupun pemerintah Iran. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan atau negosiasi dengan Amerika Serikat.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan,” kata Ghalibaf.
Bagher Ghalibaf lahir pada 23 Agustus 1961 dan saat ini menjabat sebagai ketua parlemen Iran sejak 2020. Sebelum terjun ke dunia politik, ia memiliki latar belakang kuat di militer.
Ia pernah menjabat sebagai komandan angkatan udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada periode 1997 hingga 2000. Setelah itu, kariernya berlanjut sebagai kepala kepolisian nasional Iran.
Pada tahun 2005 hingga 2017, Ghalibaf menjabat sebagai wali kota Teheran. Selama masa itu, ia juga aktif dalam kontestasi politik nasional.
Menurut data dari Al Jazeera, Ghalibaf telah beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden Iran, yakni pada 2005, 2013, 2017, dan 2024. Namun, upayanya tersebut belum membuahkan hasil.
Pada pemilu 2017, ia bahkan memutuskan mundur dari pencalonan sebelum pemungutan suara berlangsung.
Karier politiknya mencapai puncak saat ia terpilih sebagai ketua parlemen pada Mei 2020, menggantikan Ali Larijani yang telah lama menjabat.
Meski disebut sebagai figur yang potensial untuk diajak bernegosiasi, Ghalibaf dikenal sebagai salah satu tokoh Iran yang memiliki sikap keras terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Dalam berbagai kesempatan, ia kerap melontarkan kritik tajam dan pernyataan tegas terhadap kedua negara tersebut.
“Tentu saja kami tidak mencari gencatan senjata. Kami percaya bahwa agresor harus dihukum,” kata Ghalibaf dalam sebuah pernyataan di media sosial.
Ia juga sempat mengejek klaim kemenangan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran, serta memperingatkan bahwa kawasan strategis seperti Selat Hormuz tidak akan kembali normal seperti sebelumnya.
Dalam pernyataan lain, Ghalibaf bahkan menyebut lembaga keuangan yang mendanai militer Amerika Serikat sebagai target sah bagi Iran.
“Obligasi pemerintah AS berlumuran darah orang Iran. Belilah, dan Anda membeli serangan terhadap aset Anda,” ujarnya.
Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun namanya dikaitkan dengan potensi kerja sama, sikap politik Ghalibaf tetap konsisten dengan garis keras Iran terhadap Barat.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Bea Cukai Sidoarjo melakukan pemusnahan rokok ilegal dengan nilai mencapai Rp5,9 miliar sebagai bagian dari upaya penegakan hukum di bidang...
Kecelakaan tunggal terjadi di Dusun Medain, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat pada Jumat (10/4/2026), melibatkan sebuah mobil...