Spotify dan Label Musik Menang Gugatan Pembajakan Lagu, Nilainya Fantastis
Kasus dugaan pelanggaran hak cipta di industri musik digital kembali mencuat. Platform arsip digital Anna's Archive dinyatakan bersalah oleh pengadilan...
Read more
Bagi banyak anak muda, terutama generasi Gen Z, memiliki second account atau akun kedua di media sosial seperti Instagram dan TikTok sudah menjadi hal yang umum.
Akun anonim ini biasanya digunakan sebagai ruang bebas untuk berbagi cerita pribadi, mengunggah meme santai, atau sekadar mengeluhkan aktivitas sehari hari tanpa harus khawatir dilihat oleh keluarga, dosen, atau rekan kerja.
Namun, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence kini menimbulkan kekhawatiran baru. Identitas pemilik akun anonim tersebut ternyata bisa saja dilacak dan diungkap dengan bantuan teknologi AI.
Sebuah studi yang dihimpun dari laporan media internasional menunjukkan bahwa teknologi Large Language Models atau LLM mampu mengidentifikasi identitas asli pengguna dari potongan informasi yang tersebar di internet.
Penelitian ini disoroti oleh dua peneliti AI, yaitu Simon Lermen dan Daniel Paleka, yang menjelaskan bahwa AI dapat mengumpulkan berbagai petunjuk kecil dari aktivitas pengguna di media sosial.
Teknologi tersebut tidak bergantung pada nama asli atau foto profil pengguna. Sebaliknya, AI bekerja dengan menganalisis konteks dari berbagai unggahan yang tampaknya tidak berkaitan.
Sebagai contoh, seorang pengguna mungkin mengunggah video yang mengeluhkan kesulitan menghadapi ujian di kampus. Di unggahan lain, ia menyebut nama hewan peliharaan, lalu di postingan berbeda memperlihatkan kafe favorit tempatnya sering nongkrong.
Bagi manusia, informasi tersebut mungkin terlihat acak. Namun bagi AI, potongan informasi tersebut bisa menjadi puzzle jejak digital yang dapat disusun untuk menemukan identitas pengguna sebenarnya.
Dengan menelusuri berbagai platform di internet, AI dapat mencocokkan informasi tersebut dengan akun utama atau identitas asli pengguna dengan tingkat keyakinan yang tinggi.
Kemampuan AI dalam mengungkap identitas akun anonim membuka potensi risiko baru bagi pengguna internet.
Salah satu ancaman yang paling dikhawatirkan adalah doxing, yaitu praktik mengungkap identitas seseorang secara publik di internet tanpa izin.
Jika identitas pemilik second account terungkap, pengguna dapat menjadi target cyberbullying atau serangan digital lainnya, terutama jika akun tersebut berisi opini yang sensitif atau kontroversial.
Selain itu, para peneliti juga memperingatkan bahwa teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh peretas untuk melakukan penipuan yang lebih personal.
Dengan memanfaatkan informasi yang dikumpulkan AI dari berbagai unggahan, pelaku kejahatan siber dapat melakukan teknik spear phishing, yaitu penipuan yang dirancang secara khusus untuk menipu target tertentu.
Peretas dapat menyamar sebagai teman atau orang yang dikenal oleh korban, lalu mengirim pesan atau tautan berbahaya yang terlihat meyakinkan.
Pakar keamanan siber dari University of Edinburgh, Marc Juarez, memperingatkan bahwa perkembangan AI membuat batas antar platform digital semakin mudah ditembus.
“Ini sangat mengkhawatirkan. Studi ini membuktikan bahwa kita harus memikirkan kembali praktik privasi kita,” kata Juarez.
Meski begitu, teknologi AI juga tidak sepenuhnya sempurna.
Profesor ilmu komputer dari University College London, Peter Bentley, menjelaskan bahwa AI terkadang membuat kesalahan saat mencocokkan identitas pengguna.
Menurutnya, sistem AI dapat mengalami fenomena yang disebut sebagai halusinasi AI, yaitu kondisi ketika sistem menghasilkan kesimpulan yang tidak akurat.
“Orang orang nantinya bisa dituduh melakukan hal hal yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan,” kata Bentley.
Hal ini berarti AI juga berpotensi menuduh seseorang sebagai pemilik akun anonim tertentu hanya karena memiliki kebiasaan atau minat yang mirip.
Untuk mengurangi risiko tersebut, para peneliti mendorong perusahaan media sosial agar memperketat pengawasan terhadap aktivitas pengumpulan data otomatis oleh bot atau proses scraping.
Namun, perlindungan terbaik tetap berada di tangan pengguna itu sendiri.
Profesor dari University of California Berkeley, Marti Hearst, menegaskan bahwa AI hanya dapat menghubungkan identitas pengguna jika terdapat pola informasi yang konsisten antara akun anonim dan akun utama.
Artinya, semakin banyak detail pribadi yang dibagikan secara konsisten di internet, semakin mudah pula teknologi AI melacak identitas seseorang.
Referensi:
Kompas
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internet Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internet — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Seorang pengelola arisan berinisial NNS (31) alias Saska J menjadi sorotan setelah diduga terlibat kasus penipuan dengan nilai mencapai miliaran...
Sebanyak 139 guru honorer berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, menghadapi persoalan...