Respons Keras Iran atas Ancaman Trump, Biarkan Dia Bicara Sendiri

Iran merespons ultimatum Donald Trump dengan santai dan menyebut ancaman AS hanya retorika yang tak berpengaruh pada militernya. (Foto: Media Sosial X)

Iran merespons ultimatum Donald Trump dengan santai dan menyebut ancaman AS hanya retorika yang tak berpengaruh pada militernya

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras terkait potensi serangan militer. Iran pun merespons dengan nada menantang, bahkan menyindir pernyataan Trump sebagai sesuatu yang tidak perlu ditanggapi serius.

Menurut Saeed Jalili, anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, sikap diam bukanlah cara yang tepat menghadapi pernyataan Trump. Ia justru mendorong agar Trump dibiarkan terus berbicara.

“‘Diam saja’ bukan respons yang tepat terhadap ocehan Trump; biarkan dia berbicara lebih banyak,” tulis Jalili dalam unggahannya.

Ia menilai, pernyataan Trump justru membuka gambaran tentang karakter Amerika Serikat di mata dunia. “Tidak ada yang lebih efektif dalam memperlihatkan wajah asli Amerika Serikat selain luapan pernyataan Trump,” tambahnya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump, dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4), mengancam akan “melenyapkan” Iran dalam satu malam. Ancaman itu menjadi bagian dari tekanan AS agar Iran memenuhi tuntutan tertentu, termasuk terkait akses di Selat Hormuz.

Ancaman Serius dan Respons Militer Iran

Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengklaim bahwa militer AS memiliki kemampuan untuk menghancurkan infrastruktur penting Iran dalam waktu singkat. Ia menyebut jembatan dan pembangkit listrik Iran bisa dilumpuhkan dalam hitungan jam.

“Kami punya rencana, karena kekuatan militer kami, di mana setiap jembatan di Iran akan hancur lebur pada pukul 12 tengah malam besok,” kata Trump, sebagaimana dikutip dari laporan internasional.

Ia juga menambahkan bahwa seluruh pembangkit listrik di Iran bisa dihancurkan dalam waktu empat jam jika diperlukan, meski menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan hal itu terjadi.

Menanggapi hal tersebut, militer Iran menilai ancaman tersebut sebagai retorika yang tidak berdampak pada kesiapan pasukan mereka. Juru bicara markas komando pusat Iran Khatam Al Anbiya menyebut pernyataan Trump sebagai bentuk sikap arogan.

“Retorika kasar, arogan, dan ancaman tak berdasar dari presiden AS yang delusional tidak berdampak pada kelanjutan operasi ofensif,” ujarnya.

Menurut pihak militer Iran, ancaman verbal semacam itu tidak akan menghambat operasi maupun strategi pertahanan mereka terhadap pihak yang dianggap musuh.

Ultimatum yang disampaikan Trump sendiri disebut akan mencapai batas waktu pada Selasa (7/4) pukul 20.00 waktu Iran. Situasi ini membuat hubungan kedua negara kembali berada dalam kondisi tegang dan penuh ketidakpastian.

Di tengah dinamika tersebut, pernyataan dari kedua pihak menunjukkan bahwa konflik masih didominasi oleh perang retorika, meski tetap menyimpan potensi eskalasi yang lebih besar jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Referensi:
Detik

📚 ️Baca Juga Seputar Internasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉

Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED