Strategi Diet Tanpa Lapar yang Aman dan Bikin Kenyang Lebih Lama
Diet kerap identik dengan pembatasan porsi dan rasa lapar yang berkepanjangan. Tak sedikit orang menganggap menurunkan berat badan berarti harus...
Read more
Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan belum lama ini mengundang perhatian luas. Banyak pihak terkejut karena usia Lula masih tergolong muda, yakni 26 tahun. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa sebelum meninggal, Lula diketahui memiliki riwayat masalah kesehatan, termasuk Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) serta pembengkakan usus.
Informasi tersebut memicu berbagai pertanyaan di tengah masyarakat, terutama mengenai kemungkinan GERD memicu kematian mendadak. Kondisi ini kerap dianggap sepele karena gejalanya umum, seperti nyeri ulu hati, sensasi panas di dada, hingga rasa asam di tenggorokan. Namun, apakah benar GERD bisa berujung fatal jika tidak ditangani dengan baik?
Menurut Prof dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, spesialis penyakit dalam, GERD pada dasarnya bukanlah penyakit yang menyebabkan kematian mendadak. Meski demikian, kondisi ini tetap memerlukan perhatian medis serius, terutama bila disertai penyakit atau komplikasi lain.
“Secara umum GERD tidak menyebabkan kematian mendadak. Namun, jika disertai kondisi lain, risikonya bisa meningkat,” kata Prof Ari, spesialis penyakit dalam.
Ia menjelaskan bahwa GERD dapat memperburuk kondisi tubuh apabila pasien mengalami infeksi atau gangguan kesehatan lain yang tidak terkontrol. Dalam situasi tertentu, komplikasi tersebut dapat berkembang menjadi masalah serius.
“Yang paling dekat bisa menyebabkan kondisi infeksi, kemudian terjadi infeksi sistemik atau sepsis. Itu memang bisa berujung kepada kematian. Nah, kondisi-kondisi lain itu bisa saja memperburuk keadaan,” ujar Prof Ari.
Karena itu, pengobatan GERD tidak boleh diabaikan. Dengan terapi yang teratur dan pola hidup yang tepat, kondisi ini umumnya dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan komplikasi lanjutan.
GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang akibat melemahnya katup lambung bagian bawah. Dalam jangka panjang, paparan asam lambung yang terus-menerus dapat menyebabkan peradangan pada kerongkongan dan memicu gangguan lain.
Menurut Prof Ari, pengobatan yang konsisten sangat penting untuk mencegah dampak lanjutan. Jika GERD dibiarkan tanpa penanganan, kondisi tersebut dapat memperburuk sistem imun dan membuka peluang terjadinya infeksi.
Selain itu, penderita GERD kerap mengalami gangguan tidur, penurunan nafsu makan, hingga stres yang berkepanjangan. Kombinasi faktor ini bisa memperlemah kondisi tubuh secara keseluruhan. Apabila disertai infeksi lain, risiko komplikasi serius pun meningkat.
Pengendalian GERD biasanya melibatkan perubahan gaya hidup, seperti pengaturan pola makan, menghindari makanan pemicu asam lambung, serta penggunaan obat sesuai anjuran dokter. Dengan kondisi yang terkontrol, potensi komplikasi dapat ditekan secara signifikan.
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan belum lama ini mengundang perhatian luas. Banyak pihak terkejut...
Diet kerap identik dengan pembatasan porsi dan rasa lapar yang berkepanjangan. Tak sedikit orang menganggap menurunkan berat badan berarti harus...