Viral Minum Air Hangat Sebelum Tidur Bisa Menjaga Ginjal, Ini Penjelasan Dokter
Belakangan ini media sosial diramaikan oleh klaim yang menyebut minum air putih hangat sebelum tidur dapat membuat ginjal lebih sehat....
Read more
Perbincangan mengenai surrogate mother atau ibu pengganti kembali ramai di media sosial. Topik ini mencuat setelah sejumlah figur publik dunia secara terbuka membagikan pengalaman memiliki anak melalui bantuan rahim perempuan lain. Fenomena tersebut langsung memicu perdebatan luas, terutama terkait aspek etika, kesehatan, dan potensi eksploitasi perempuan.
Di berbagai platform media sosial, warganet terbagi dalam dua kubu. Sebagian menganggap surrogate mother sebagai solusi medis yang sah selama dilakukan atas dasar persetujuan dan kompensasi yang adil. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan moralitas praktik ini, khususnya ketika melibatkan perempuan dari kelompok ekonomi lemah.
Salah satu pengguna media sosial menulis, “Jujur gwe masih gak paham dengan orang yang pro surrogate… Lu pinjem rahim orang lain buat hamil, begitu lahir anaknya lu ambil.” Di sisi lain, pendapat berbeda juga bermunculan. “Menurutku win win solution. it’s not exploitative if it involves consent. plus mereka dibayar,” tulis warganet lainnya.
Kekhawatiran utama yang kerap disorot adalah risiko eksploitasi perempuan, terutama jika dorongan ekonomi menjadi alasan utama seseorang bersedia menjadi ibu pengganti. Selain itu, aspek psikologis juga menjadi perhatian, mengingat ibu pengganti harus melepaskan bayi yang telah dikandung selama sembilan bulan, yang berpotensi memengaruhi ikatan batin atau bonding.
Di dunia medis internasional, surrogate mother bukanlah praktik baru. Berdasarkan penjelasan American Society for Reproductive Medicine (ASRM), surrogacy dibagi menjadi dua jenis utama, yakni traditional surrogacy dan gestational surrogacy.
Dalam praktik modern, gestational surrogacy menjadi metode yang paling umum digunakan. Pada metode ini, ibu pengganti tidak memiliki hubungan genetik dengan bayi. Embrio dibentuk dari sel telur dan sperma orang tua biologis atau donor, lalu ditanamkan ke rahim ibu pengganti melalui prosedur in vitro fertilization atau IVF. Dengan demikian, ibu pengganti hanya berperan sebagai tempat tumbuh kembang janin hingga proses persalinan.
Berdasarkan keterangan ASRM, metode ini banyak dipilih oleh pasangan yang memiliki kendala medis serius, seperti gangguan rahim, risiko kehamilan tinggi, atau trauma medis akibat kehamilan sebelumnya. Sejumlah figur publik dunia diketahui memilih jalur ini setelah menghadapi kondisi kesehatan yang mengancam keselamatan jika hamil kembali.
Praktik surrogate mother juga kerap dipandang sebagai jembatan bagi pasangan yang mengalami infertilitas atau tidak memungkinkan menjalani kehamilan secara alami, namun tetap ingin memiliki anak dengan keterkaitan genetik.
Meski demikian, penerapan surrogacy di setiap negara sangat bergantung pada regulasi hukum yang berlaku. Di beberapa negara, praktik ini dilegalkan dengan pengawasan ketat, sementara di negara lain dilarang sepenuhnya.
Di Indonesia, posisi hukum terkait surrogate mother tergolong tegas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya diperbolehkan bagi pasangan suami istri yang sah. Aturan tersebut secara eksplisit mensyaratkan bahwa hasil pembuahan sel telur dan sperma harus ditanamkan kembali ke dalam rahim istri pemilik sel telur tersebut.
Artinya, penggunaan rahim perempuan lain, baik melalui kesepakatan pribadi maupun kontrak komersial, tidak memiliki dasar hukum dan dinyatakan melanggar peraturan yang berlaku. Ketentuan ini sekaligus menegaskan bahwa praktik surrogate mother tidak dapat diakui legalitasnya di Indonesia, terlepas dari alasan medis atau persetujuan para pihak yang terlibat.
Dengan latar belakang tersebut, diskusi mengenai surrogate mother di Indonesia tidak hanya menyentuh ranah medis, tetapi juga etika, hukum, serta perlindungan hak perempuan. Perdebatan yang muncul di ruang publik mencerminkan kompleksitas isu ini, terutama ketika tren global bertemu dengan nilai sosial dan regulasi nasional.
Referensi: DetikHealth
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Belakangan ini media sosial diramaikan oleh klaim yang menyebut minum air putih hangat sebelum tidur dapat membuat ginjal lebih sehat....
Cuaca di wilayah Jakarta dan sekitarnya terasa lebih panas dibanding biasanya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dirasakan banyak warga...