6 Kejanggalan Misteri Hilangnya Daylenn Pua di Tangga Haiku Hawaii
Dunia pendakian dan penjelajahan alam menyimpan berbagai kisah misterius yang membingungkan, tetapi sedikit yang menyita perhatian publik internasional seperti tragedi...
Read more
Sejarah pelayaran samudra pada abad ke-17 tidak hanya dipenuhi oleh kisah sukses perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan. Di balik kejayaan maskapai dagang Hindia Belanda (VOC), tersimpan deretan catatan kelam yang menyayat hati. Salah satu peristiwa paling mengerikan dan penuh intrik dalam sejarah maritim dunia adalah tragedi karamnya Kapal Batavia.
Pelayaran perdana kapal megah milik VOC ini berakhir tragis pada awal Juni 1629. Bukan sekadar kecelakaan laut biasa akibat hempasan karang, musibah yang menimpa Kapal Batavia berkembang menjadi arena pembantaian massal, kudeta berdarah, serta pertarungan penyintas yang melampaui batas kemanusiaan di sebuah pulau terpencil lepas pantai Australia Barat.

Pada Oktober 1628, kapal unggulan VOC yang dinamai Batavia bertolak dari pelabuhan Amsterdam menuju pusat pemerintahan kolonial mereka di Hindia Belanda, yakni kota Batavia (sekarang Jakarta, Indonesia). Kapal ini dirancang secara masif dengan panjang mencapai 44 meter, lebar 12 meter, serta bobot berkisar antara 500 hingga 600 ton. Pembuatannya diperkirakan menghabiskan lebih dari 700 batang pohon kayu jati dan oak, menjadikannya salah satu simbol kekuatan maritim Eropa pada zamannya.
Di atas Kapal Batavia, terangkut sekitar 340 orang yang terdiri dari awak kapal, tentara bayaran, pejabat VOC, serta warga sipil beserta keluarga mereka yang berniat memulai hidup baru di Asia. Selain manusia, kapal ini juga membawa muatan bernilai fantastis: kargo berupa ribuan koin perak perbekalan perdagangan, emas, permata, barang antik, hingga konstruksi gapura batu pasir seberat belasan ton.
Namun, benih bencana telah tertanam bahkan sebelum kapal mencapai perairan Asia. Ketegangan hebat terjadi antara Komandan Armada Francisco Pelsaert dan Kapten Kapal Ariaen Jacobsz. Permusuhan ini dimanfaatkan oleh seorang asisten pedagang sekaligus heretik radikal bernama Jeronimus Cornelisz. Bersama Jacobsz, Cornelisz secara rahasia merencanakan pembangkangan (mutiny) untuk menguasai kapal beserta seluruh harta kekayaannya. Ketika kapal terpisah dari konvoi utamanya akibat badai di dekat Tanjung Harapan, Afrika Selatan, rencana kudeta tersebut mulai dijalankan secara bertahap.
Sebelum rencana pembangkangan dijalankan sepenuhnya, nasib naas menimpa pelayaran ini pada dini hari tanggal 4 Juni 1629. Akibat kesalahan navigasi dan pengawasan di tengah kegelapan malam, Kapal Batavia menghantam terumbu karang Morning Reef di Kepulauan Houtman Abrolhos—sekitar 60 kilometer di sebelah barat Geraldton, Australia Barat—dalam kecepatan tinggi.
Benturan dahsyat tersebut merusak lambung kapal secara permanen. Dalam kekacauan dan kepanikan malam itu, sekitar 40 hingga 100 orang tewas tenggelam. Sebagian besar penyintas yang berhasil menyelamatkan diri merayap menepi ke pulau-pulau karang kecil di sekitarnya yang sangat tandus dan terisolasi.
Sekitar 180 penyintas dipindahkan menggunakan sekoci menuju sebuah pulau karang kecil yang kemudian dinamai Beacon Island. Di kemudian hari, pulau karang ini dijuluki sebagai Batavia’s Graveyard (Pemakaman Batavia) akibat tragedi kelam yang terjadi di sana.
Pulau tersebut sama sekali tidak memiliki sumber air bersih maupun pepohonan untuk berteduh. Para korban selamat harus bertahan hidup di bawah terik matahari yang menyengat dan suhu malam yang dingin, bergantung pada sedikit jatah air dan makanan yang berhasil diselamatkan dari bangkai kapal yang mulai hancur dihantam ombak.
Melihat kondisi darurat akibat ketiadaan air bersih di pulau-pulau sekitarnya, Komandan Francisco Pelsaert bersama Kapten Ariaen Jacobsz dan sekitar 40 awak kapal mengambil keputusan ekstrem. Mereka meninggalkan mayoritas penyintas di pulau untuk mendayung sekoci terbuka berukuran 9 meter menuju daratan utama Australia.
Setelah gagal menemukan air bersih di sepanjang pantai Australia yang terjal, Pelsaert dan rombongannya nekat melakukan perjalanan laut spektakuler sejauh 3.000 kilometer melintasi Samudra Hindia menuju kota Batavia menggunakan sekoci tersebut. Perjalanan berbahaya ini berhasil ditempuh dalam waktu 33 hari. Setibanya di Batavia, Pelsaert segera meminjam kapal penyelamat bernama Sardam dari Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen untuk kembali menyelamatkan para korban.

Sementara Pelsaert berlayar mencari bantuan, kondisi di Beacon Island berubah menjadi neraka di bumi. Jeronimus Cornelisz, yang tertinggal di pulau dan berhasil berenang dari bangkai kapal, mengambil alih kepemimpinan atas ratusan penyintas yang linglung dan ketakutan.
Cornelisz, yang memegang paham nihilistik dan percaya bahwa dirinya berada di atas hukum moral, mendirikan kediktatoran yang kejam. Bersama sekolompok pengikutnya yang bersenjata, ia melucuti seluruh peralatan para penyintas. Selama tiga setengah bulan, Cornelisz dan loyalisnya membantai secara sistematis lebih dari 125 pria, wanita, dan anak-anak. Pembunuhan dilakukan secara sadis melalui pemenggalan, penenggelaman, hingga penggorokan leher guna menghemat perbekalan serta menghilangkan potensi perlawanan.
Untuk menyingkirkan pihak yang berpotensi melawan, Cornelisz mengirim sekelompok prajurit VOC di bawah pimpinan prajurit pemberani bernama Wiebbe Hayes ke Pulau Wallabi Utara. Cornelisz menduga kelompok Hayes akan mati kelaparan dan kehausan di pulau tersebut.
Namun, Hayes dan anak buahnya justru menemukan sumber air segar serta populasi walabi sebagai bahan makanan. Setelah menyadari pembantaian yang dilakukan Cornelisz melalui penyintas yang berhasil melarikan diri, Hayes segera membangun benteng perahanan dari tumpukan batu kapur dan menyusun senjata darurat dari pecahan kayu dan besi. Kelompok Hayes berhasil memukul mundur beberapa kali serangan pasukan Cornelisz dan bahkan berhasil menawan Cornelisz dalam sebuah pertempuran sengit.

Pada pertengahan September 1629, kapal penyelamat Sardam yang dipimpin Pelsaert akhirnya tiba kembali di Kepulauan Houtman Abrolhos. Mengetahui kedatangan kapal penyelamat, pasukan pemberontak dan pasukan benteng Wiebbe Hayes terlibat dalam perlombaan mendayung sekoci menuju kapal Sardam untuk memberikan laporan pertama.
Wiebbe Hayes berhasil mencapai kapal Pelsaert lebih awal dan membongkar seluruh kejahatan serta tindakan pembantaian yang dilakukan oleh Cornelisz dan pengikutnya. Pelsaert segera menahan para pemberontak. Setelah melakukan persidangan singkat di lokasi kejadian, Cornelisz beserta antek-antek utamanya dijatuhi hukuman mati dengan cara dipotong kedua tangannya sebelum digantung di tiang gantungan yang didirikan di pulau tersebut. Eksekusi ini dicatat sebagai eksekusi hukum Eropa pertama dalam sejarah benua Australia.
Dalam penjatuhan vonis kepada para pemberontak yang tersisa, dua orang awak kapal muda bernama Wouter Loos dan Jan Pelgrom de Bye menerima hukuman unik dari Pelsaert. Mereka tidak dihukum mati, melainkan sengaja ditelantarkan (marooned) di daratan utama Australia Barat bersama sedikit perbekalan dan cermin hias untuk berinteraksi dengan penduduk asli.
Keputusan ini menjadikan kedua pemberontak tersebut secara tidak sengaja sebagai orang Eropa pertama yang tinggal dan menetap di benua Australia, meskipun nasib akhir mereka di pedalaman daratan Australia tidak pernah diketahui lagi hingga saat ini.

Bangkai Kapal Batavia berada di dasar laut selama lebih dari 300 tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali pada tahun 1963 oleh nelayan monster laut dan penyelam lokal. Penemuan situs ini memicu ekskavasi arkeologi maritim berskala besar oleh Western Australian Museum.
Dari dasar laut dan area kuburan massa di Beacon Island, para arkeolog berhasil mengangkat ribuan artefak bersejarah, termasuk koin perak VOC, senjata meriam, instrumen navigasi astrolabe, peralatan medis, hingga kerangka para korban pembantaian. Bagian lambung kayu Kapal Batavia yang tersisa diangkat dan dikonservasi secara rumit. Saat ini, rekonstruksi sisa lambung kapal dan gerbang batu karangnya dipamerkan secara megah di WA Shipwrecks Museum di Fremantle, Australia Barat.
Tragedi karamnya Kapal Batavia menjadi studi kasus terpenting dalam sejarah maritim dunia mengenai psikologi manusia di bawah tekanan isolasi ekstrem, bahaya histeria kelompok, serta pentingnya kepemimpinan berintegritas. Peristiwa ini mengubah protokol navigasi kapal-kapal VOC yang melintasi rute berbahaya Roaring Forties di Samudra Hindia.
Situs bencana ini beserta kamp penyintas di Kepulauan Houtman Abrolhos kini ditetapkan secara resmi masuk ke dalam Australia’s National Heritage List bersama peninggalan megah lainnya seperti Great Barrier Reef. Rekam jejak tragis ini berdiri kokoh sebagai pengingat abadi akan kerapuhan sifat manusia saat diuji oleh keputusasaan, keberanian tanpa batas dari para pahlawan seperti Wiebbe Hayes, serta kekejaman yang mampu lahir di tengah keterasingan alam liar.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Misteri Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia misteri — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Dunia pendakian dan penjelajahan alam menyimpan berbagai kisah misterius yang membingungkan, tetapi sedikit yang menyita perhatian publik internasional seperti tragedi...
Dunia kriminalitas dan sejarah misteri Amerika Serikat mengenal satu kasus hilangnya sekelompok orang yang paling membingungkan serta merindingkan: tragedi Yuba...