Resmi Mundur, Tim Cook Tinggalkan Kursi CEO Apple Setelah 15 Tahun
Kabar mengejutkan datang dari raksasa teknologi Apple. Setelah hampir 15 tahun menjabat sebagai Chief Executive Officer, Tim Cook resmi mengumumkan...
Read more
Harga Bitcoin kembali tertekan dan merosot di bawah level USD 64.000. Dalam satu titik perdagangan, aset kripto terbesar di dunia itu sempat menyentuh USD 62.303 atau sekitar Rp 974 juta jika diasumsikan kurs Rp 15.650 per dolar AS. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak November 2024. Terakhir, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 63.010 atau sekitar Rp 986 juta.
Penurunan ini memperpanjang tren negatif Bitcoin yang telah turun hampir 30 persen dalam setahun terakhir. Tekanan jual yang terus berlangsung memicu kekhawatiran baru di kalangan investor.
Menurut Marion Laboure, analis Deutsche Bank, situasi ini mencerminkan menurunnya minat pasar terhadap kripto. “Penjualan yang stabil ini menurut pandangan kami menandakan investor kehilangan minat dan pesimisme secara keseluruhan tentang kripto semakin meningkat,” kata Marion Laboure dalam catatan analisnya.
Kejatuhan harga Bitcoin berdampak langsung pada industri penambangan. Penambangan kripto dikenal sebagai proses yang membutuhkan daya komputasi tinggi dan konsumsi listrik besar. Ketika harga jual turun drastis, model bisnis para penambang pun ikut terpukul.
Berdasarkan laporan Bloomberg, sejumlah perusahaan komputasi skala besar mulai mematikan perangkat tambang mereka. Langkah ini diambil karena operasional menjadi tidak ekonomis di tengah penurunan harga dan kenaikan biaya listrik.
Menurut data dari Luxor Technology, indeks harga hash yang menjadi indikator pendapatan penambang mencapai titik terendah dalam sejarah pekan ini. Artinya, potensi keuntungan dari aktivitas menambang semakin menyusut.
Sementara itu, berdasarkan laporan Coindesk yang dikutip dari Futurism, biaya rata-rata untuk menambang satu Bitcoin saat ini mencapai sekitar USD 87.000 atau setara Rp 1,36 miliar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding harga jual pasar yang hanya sekitar USD 63.000. Kondisi ini membuat aktivitas penambangan berada dalam posisi merugi.
Harry Sudock, Chief Business Officer CleanSpark, menyebut penurunan kali ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah industri kripto. “Penurunan ini bersejarah, terbesar sejak pelarangan di China,” ujar Harry Sudock.
Ia menjelaskan bahwa badai musim dingin yang mendorong kenaikan harga listrik, ditambah aksi jual di sektor teknologi global, menjadi faktor yang memperparah tekanan terhadap Bitcoin.
Menariknya, kondisi ini terjadi saat kripto kerap dipromosikan sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Namun realitanya berbeda. Ketika Bitcoin tertekan, harga emas justru mencetak rekor tertinggi pada akhir tahun lalu karena investor mencari instrumen yang dianggap lebih stabil.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa perusahaan tambang mulai mengalihkan perangkat keras mereka untuk mendukung pengembangan model kecerdasan buatan atau AI. Pergeseran ini dinilai sebagai upaya bertahan di tengah krisis kripto, meski sektor AI sendiri juga menghadapi tantangan dan keraguan investor.
Referensi:
detikINET
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉
Kumpulan Artikel dan Berita IT Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia it — semua ada di sana!Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sebuah kisah menyentuh sekaligus mengejutkan viral di media sosial. Seorang pria harus menerima kenyataan pahit setelah memergoki kekasihnya bersama pria...
Kecelakaan lalu lintas terjadi di kawasan Setiabudi, Bandung, saat sebuah mobil box melaju kencang dan kehilangan kendali di tikungan. Insiden...