Tren Wisata Terbaru, Turis Mulai Memburu Destinasi Sepi dan Autentik
Tren perjalanan wisata mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya destinasi populer menjadi pilihan utama untuk berlibur, kini semakin banyak wisatawan yang...
Read more
Menginap di hotel biasanya menjadi bagian menyenangkan dari perjalanan. Kasur empuk, kamar bersih, suhu ruangan nyaman, dan fasilitas lengkap seharusnya membuat tubuh lebih mudah beristirahat.
Namun, tidak sedikit orang justru mengalami kesulitan tidur ketika bermalam di tempat baru. Mata sulit terpejam, tubuh mudah terbangun, atau tidur terasa kurang berkualitas meski kondisi kamar sebenarnya sudah nyaman.
Salah satu penyebabnya adalah fenomena yang dikenal sebagai first night effect. Kondisi ini terjadi ketika seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur atau mengalami kualitas tidur yang lebih rendah saat berada di lingkungan yang asing.
Menurut peneliti senior bidang tidur dari University of Freiburg, Anna Wick, salah satu faktor yang berperan adalah kondisi otak yang masih berada dalam mode waspada. Ketika seseorang berada di tempat baru, otak membutuhkan waktu untuk memastikan lingkungan tersebut aman sebelum benar-benar masuk ke kondisi tidur yang lebih dalam.
Fenomena tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan tidur. Pada banyak kasus, kondisi ini hanya berlangsung sementara dan membaik setelah tubuh mulai mengenali lingkungan baru.
Peneliti tidur dari University of Pittsburgh, Ahmad Mayeli, menyebut first night effect kemungkinan dialami oleh banyak orang, meskipun tidak semuanya menyadarinya.
Menurut Mayeli, seseorang rata-rata dapat kehilangan sekitar 20 sampai 30 menit waktu tidur ketika bermalam di lingkungan yang berbeda dari biasanya.
Masalahnya bukan hanya berkurangnya durasi tidur. Aktivitas pada bagian otak yang berkaitan dengan tidur juga dapat tetap lebih tinggi ketika seseorang berada di tempat baru. Akibatnya, tidur yang diperoleh bisa terasa kurang nyenyak dibandingkan ketika tidur di rumah.
Kondisi tersebut sebenarnya merupakan bagian dari mekanisme tubuh dalam menghadapi lingkungan yang belum familiar. Setelah melewati malam pertama, otak biasanya mulai mengenali suasana kamar, suara di sekitar, pencahayaan, serta kondisi lingkungan lainnya.
Ketika rasa familiar mulai terbentuk, tingkat kewaspadaan dapat menurun dan kualitas tidur berangsur membaik.
Namun, first night effect bukan satu-satunya alasan seseorang sulit tidur ketika traveling.
Perjalanan yang melelahkan juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Psikolog Lisa Strauss menjelaskan bahwa rasa lelah akibat perjalanan dapat mengganggu tidur, bahkan ketika seseorang tidak mengalami perubahan zona waktu.
Kondisi kamar hotel juga memiliki pengaruh besar. Suara kendaraan atau aktivitas orang lain, cahaya yang masuk dari luar, suhu ruangan yang terlalu panas atau dingin, hingga lampu indikator perangkat elektronik dapat membuat seseorang lebih sulit terlelap.
Faktor psikologis juga tidak boleh diabaikan. Seseorang yang merasa cemas atau kurang rileks ketika berada di lingkungan baru dapat menjadi lebih sulit tidur.
Menariknya, kekhawatiran mengenai tidur juga dapat menciptakan masalah baru. Pikiran seperti “Bagaimana kalau malam ini saya tidak bisa tidur?” justru dapat membuat tubuh semakin tegang sehingga proses untuk terlelap menjadi lebih sulit.
Ada sejumlah cara sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu tubuh beradaptasi ketika harus tidur di hotel atau tempat baru.
Menurut Lisa Strauss, menjaga kamar tetap sejuk dan gelap dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih mendukung untuk tidur. Jadwal tidur juga sebaiknya tetap konsisten meskipun sedang bepergian.
Rutinitas sebelum tidur yang biasa dilakukan di rumah juga dapat dipertahankan. Misalnya, membaca buku, bersantai di tempat tidur, atau melakukan aktivitas ringan sebelum tidur.
Penggunaan ponsel dan perangkat dengan layar juga sebaiknya dikurangi menjelang waktu tidur. Kebiasaan tersebut bahkan lebih baik mulai diterapkan beberapa hari atau beberapa minggu sebelum perjalanan agar tubuh sudah terbiasa.
Membuat kamar hotel terasa lebih familiar juga bisa membantu. Wisatawan dapat membawa bantal atau selimut favorit dari rumah jika memungkinkan. Barang yang sudah familiar dapat memberikan rasa nyaman dan membantu mengurangi kesan asing dari lingkungan baru.
Jika memiliki agenda penting pada pagi hari, ada strategi lain yang dapat dipertimbangkan. Ahmad Mayeli menyarankan untuk tiba di tempat tujuan sehari lebih awal. Dengan begitu, tubuh memiliki kesempatan untuk beradaptasi sebelum menjalani aktivitas utama.
Kehilangan sedikit waktu tidur pada malam pertama umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Tubuh biasanya membutuhkan waktu untuk mengenali lingkungan baru sebelum dapat benar-benar rileks.
Karena itu, ketika kasur hotel sudah nyaman tetapi mata masih sulit terpejam, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan bahwa hotel atau fasilitasnya bermasalah. Otak mungkin hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan tempat baru.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Travel Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia travel — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Tren perjalanan wisata mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya destinasi populer menjadi pilihan utama untuk berlibur, kini semakin banyak wisatawan yang...
Menginap di hotel biasanya menjadi bagian menyenangkan dari perjalanan. Kasur empuk, kamar bersih, suhu ruangan nyaman, dan fasilitas lengkap seharusnya...