Fresh Graduate Gelisah: Kirim CV Setiap Hari, Tapi Panggilan Wawancara Malah Sepi

Visual ilustratif yang menggambarkan frustrasi fresh graduate saat mengirim ratusan CV tapi tak kunjung mendapat panggilan wawancara. (Sumber: bbc.com)

Visual ilustratif yang menggambarkan frustrasi fresh graduate saat mengirim ratusan CV tapi tak kunjung mendapat panggilan wawancara

Bagi banyak fresh graduate, pengiriman CV setiap pagi menjadi rutinitas harian—dari JobStreet, LinkedIn, hingga Glints. Dalam sehari, tidak jarang mereka mengirim tiga hingga lebih banyak lamaran, berharap ada perusahaan yang akhirnya memberi panggilan interview. Namun bagi Abel, salah satu contoh generasi baru ini, harapan itu belum juga terwujud. Sudah hampir setahun Abel mengisi lowongan tiap hari, beberapa kali ikut job fair—termasuk di Velodrome Jakarta—tapi panggilan interview tak kunjung datang. Bahkan saat sempat ikut interview pun, Abel merasa seperti di-“ghosting” oleh perusahaan.

Fenomena serupa kerap dibagikan di forum-forum online dan menjadi cerita kolektif mahasiswa baru lulus—mereka merasa tenggelam dalam lautan lamaran kerja yang tak mendapat tanggapan. Persaingan yang semakin ketat, termasuk masuknya sistem ATS otomatis, menjadi alasan utama—CV tanpa kata kunci sesuai bisa langsung di-delete sebelum dibaca manusia.

Tak hanya itu, pendekatan “CV umum untuk semua lamaran” juga jadi bumerang. Banyak HRD berharap pelamar menyiapkan CV yang disesuaikan dengan jabatan, karena CV generik justru terkesan tidak serius. Ditambah lagi, fresh graduate sering kekurangan pengalaman spesifik atau skill yang benar-benar relevan dengan posisi yang dilamar—yang membuat mereka kalah bersaing meski sudah sering berkirim lamaran.

Padahal di Indonesia, peluang kerja untuk lulusan baru tersedia cukup banyak. Meski begitu, realitanya adalah, persaingan yang ketat dan sulitnya “menonjol” bikin fresh graduate kesulitan mendapat panggilan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pertama, pilih lowongan yang cocok dengan latar belakang dan skill kamu—hindari melamar ke posisi yang terlalu jauh dari keahlian. Kedua, coba atur CV dan cover letter agar lebih tepat sasaran: highlight pengalaman kuliah, proyek, atau soft skill yang mendukung posisi. Ketiga, manfaatkan jaringan profesional—teman, alumni, atau LinkedIn bisa jadi jalan terbuka lebih cepat dibanding pelamar umum. Keempat, ikuti tren terbaru tentang waktu terbaik mengirim lamaran—misalnya dalam 24–48 jam setelah lowongan diposting agar peluang dilihat recruiter lebih tinggi.

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED