Diserang AS dan Israel, Ini Alasan Iran Masih Mampu Bertahan dan Membalas

Meski digempur AS dan Israel, Iran masih mampu melancarkan serangan balasan. Analis menilai ada faktor miskalkulasi hingga kemandirian alutsista. (Foto: Irib)

Meski digempur AS dan Israel, Iran masih mampu melancarkan serangan balasan

Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah memasuki hari keenam. Meski digempur serangan udara dan tekanan militer dari dua kekuatan besar, Teheran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah.

Alih-alih melemah, Iran justru terus melancarkan serangan balasan yang menyasar situs-situs militer Amerika Serikat di negara-negara sekutunya di kawasan Timur Tengah. Sebagian besar rudal dan drone Iran memang berhasil dicegat sistem pertahanan udara AS dan negara-negara Arab. Namun beberapa di antaranya lolos dan memicu kerusakan serta kebakaran di sejumlah titik strategis.

Sejumlah negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait hingga Siprus ikut terdampak karena menampung pangkalan militer AS yang menjadi target balasan Iran.

Situasi ini terjadi setelah Iran kehilangan pemimpin tertingginya, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu. Sejumlah komandan militer Iran juga dilaporkan tewas.

Di tengah isolasi internasional dan embargo panjang yang membatasi akses pembelian senjata, muncul pertanyaan besar. Mengapa Iran masih mampu bertahan?

Miskalkulasi dan Struktur Politik Kuat

Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menilai salah satu faktor utama adalah miskalkulasi dari pihak Amerika Serikat dan Israel.

Menurut Yon, kedua negara tersebut cenderung meremehkan kapasitas militer Iran, terutama terkait jumlah dan kemampuan rudal jarak jauh yang banyak disimpan di fasilitas bawah tanah.

“Tentu soal persenjataan Iran, terutama misil dan rudal jarak jauh, itu kan tidak sepenuhnya bisa diprediksi oleh Amerika Serikat atau Israel karena mereka banyak menyimpan alutsista di bawah tanah, tidak terekspos,” kata Yon.

Ia menilai Presiden Donald Trump terlalu yakin serangan udara dapat melumpuhkan Iran dalam waktu singkat, termasuk dengan membunuh Khamenei.

“Dia berharap kematian Khamenei mendorong rakyat Iran turun ke jalan dan mengambil alih kekuasaan. Ternyata tidak. Justru semangat perlawanan semakin kuat,” ujar Yon.

Selain faktor militer, struktur politik Iran dinilai sangat tangguh. Sistem pemerintahan berbasis ulama memiliki mekanisme kontingensi yang rapi ketika pemimpin tertinggi wafat. Menurut Yon, ancaman pembunuhan bukan hal baru bagi elite Iran sehingga mereka sudah terbiasa menghadapi risiko tersebut.

Swasembada Alutsista dan Dukungan Teknologi

Pakar hubungan internasional Universitas Indonesia, Sya’roni Rofii, menilai embargo dan sanksi internasional justru mendorong Iran menjadi lebih mandiri dalam industri pertahanan.

“Iran dipaksa mengandalkan teknologi dalam negeri. Ilmuwan mereka dituntut berinovasi di tengah embargo dan itu berhasil,” kata Sya’roni.

Ia menambahkan, kepemimpinan Iran menanamkan semangat perlawanan terhadap Barat sejak tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini memperkuat komitmen untuk membangun kemandirian pertahanan.

Berdasarkan laporan media internasional, Iran bahkan telah mengekspor drone dan rudal ke Rusia sejak invasi ke Ukraina pada 2022. Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengklaim lebih dari 90 persen peralatan tempur mereka diproduksi secara mandiri.

Di sisi lain, meski tidak terlibat langsung, Rusia dan China disebut memberikan dukungan teknologi tidak langsung. Mulai dari sistem navigasi, radar, hingga dukungan teknologi informasi dan kecerdasan buatan.

Yon menilai Rusia dan China tidak akan secara terbuka mendeklarasikan dukungan militer langsung untuk menghindari konfrontasi besar dengan AS. Namun kerja sama teknologi yang sudah terjalin lama memberi Iran keunggulan tersendiri dalam menghadapi tekanan militer.

Perang yang terus berlangsung menunjukkan bahwa konflik ini tidak sekadar adu kekuatan militer, tetapi juga adu strategi, ketahanan politik, dan kemandirian industri pertahanan.

Referensi:
CNNIndonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Internasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED