Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump disebut memiliki kepentingan besar di balik operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya pada akhir pekan lalu.
Menurut Jake Auchincloss, anggota Kongres Demokrat dari Massachusetts, operasi militer tersebut bukan semata-mata soal pemberantasan narkoba atau terorisme. AS diketahui menggempur Caracas terlebih dahulu sebelum menangkap Maduro, sesuai perintah langsung dari Presiden Donald Trump.
Dalam wawancaranya, Auchincloss menyebut bahwa motive utama operasi itu berkaitan dengan kepentingan minyak.
“Ini adalah pertumpahan darah demi minyak. Ini tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba,” kata Jake Auchincloss, anggota Kongres Amerika Serikat.
Ia menambahkan bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga dianggap menjadi sasaran strategis Amerika Serikat. “Ini selalu tentang fakta bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia,” ujar Auchincloss.
Trump Terang-Terangan Akan Kuasai Minyak Venezuela
Menurut Auchincloss, narkoba yang dipersoalkan selama ini sebagian besar justru dikirim ke Eropa. Ia juga menilai bahwa kokain bukan jenis narkoba yang paling banyak membunuh warga Amerika Serikat. “Itu adalah fentanyl yang berasal dari China,” ucapnya.
Tak lama setelah Maduro ditangkap, Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola minyak Venezuela. Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Trump menyebut perusahaan minyak dan gas AS akan menggelontorkan investasi besar-besaran untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela.
Trump mengatakan perusahaan minyak AS akan masuk untuk membangun kembali fasilitas minyak yang rusak dan menghasilkan keuntungan besar bagi negaranya.
Venezuela sendiri diketahui memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak atau 17 persen dari total cadangan dunia, lebih besar dibanding Arab Saudi maupun Iran. Saat ini, Chevron merupakan satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di negara tersebut, dengan ekspor sekitar 140.000 barel per hari pada kuartal empat 2025.
Hubungan Washington dan Caracas sebelumnya memang sudah memanas sejak periode pertama Trump. Ketegangan kembali meningkat pada periode kedua, termasuk serangkaian operasi militer AS di wilayah perairan Venezuela dengan dalih pemberantasan narkoba.
Serangkaian tekanan tersebut membuat pemerintahan Maduro yakin bahwa tujuan utama Amerika Serikat adalah menggulingkan kekuasaan dan menguasai sumber daya alam Venezuela, terutama minyak.