Mobil Listrik China Kuasai Pasar Indonesia Bagaimana Kondisinya di Negara Lain
Dominasi mobil listrik asal China di pasar Indonesia semakin terlihat jelas, terutama pada segmen kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV....
Read more
Insiden pecah ban mobil yang dialami selebritas Ratna Listy di Tol Cipali pada Sabtu, 6 Desember 2025, menjadi pengingat serius bagi para pengemudi. Berdasarkan pemberitaan dari media nasional, Ratna memperlihatkan kondisi ban belakang kiri mobilnya yang robek melingkar mengikuti pelek dan mengeluarkan asap. Beruntung, kejadian itu tidak menyebabkan kecelakaan fatal dan seluruh penumpang selamat.
Menurut laporan resmi yang dikutip dari pemberitaan tersebut, pecah ban kerap terjadi secara tiba-tiba, terutama saat mobil melaju pada kecepatan tinggi. Tanpa perawatan dan pengecekan rutin, risiko kerusakan ini bisa meningkat drastis. Untuk memahami lebih jauh, berikut uraian penyebab ban mobil bisa pecah seperti yang dijelaskan dalam referensi teknis dari Suzuki Indonesia.
Kerusakan ban dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari tekanan udara, usia pakai, kondisi jalan, hingga beban kendaraan. Memahami faktor-faktor ini sangat penting agar pengemudi dapat mengambil langkah pencegahan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
Menurut penjelasan dari pihak pabrikan otomotif, tekanan ban yang tidak sesuai standar adalah penyebab paling umum pecah ban. Tekanan angin yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi sama-sama berisiko.
1. Tekanan angin terlalu rendah
Ban dengan tekanan rendah mengalami gesekan lebih besar dengan permukaan jalan. Kondisi ini membuat ban cepat panas dan melemahkan struktur dinding ban. Ketika suhu meningkat, ban berpotensi pecah secara mendadak. Selain itu, tekanan rendah membuat mobil terasa berat, tidak stabil, dan boros bahan bakar.
2. Tekanan angin terlalu tinggi
Sebaliknya, tekanan berlebih membuat ban menjadi keras. Dinding ban bekerja lebih berat karena area kontak dengan permukaan jalan menjadi lebih kecil. Situasi ini membuat ban lebih rentan terhadap benturan dan benda tajam. Saat menghantam lubang atau polisi tidur, ban bisa sobek dan pecah.
Pabrik kendaraan biasanya mencantumkan rekomendasi tekanan angin pada bagian pintu pengemudi atau buku manual. Pemeriksaan tekanan sebaiknya dilakukan minimal seminggu sekali atau sebelum perjalanan jauh, terutama di jalan tol.
Berdasarkan informasi teknis industri otomotif, ban memiliki masa pakai ideal antara 3 sampai 5 tahun, tergantung intensitas penggunaan dan kondisi jalan.
Meski permukaannya masih terlihat baik, material karet ban akan mengeras seiring waktu. Proses oksidasi dan paparan panas menyebabkan dinding ban mudah retak dan melemah. Ban yang sudah tua menjadi lebih rentan pecah, terutama jika terkena benturan keras.
Tanda-tanda ban aus yang perlu diperhatikan antara lain:
Pola tapak menipis sampai melewati indikator TWI
Muncul retakan pada dinding atau permukaan ban
Permukaan ban keras dan licin
Mobil bergetar pada kecepatan tertentu
Jika tanda-tanda ini muncul, ban sebaiknya segera diganti sebelum menimbulkan risiko kecelakaan.
Berdasarkan pedoman keselamatan yang dikeluarkan pabrikan otomotif, setiap ban memiliki batas Load Index atau kemampuan daya dukung maksimum. Membawa muatan berlebih membuat ban bekerja di luar kapasitasnya.
Muatan berlebih meningkatkan panas pada ban dan mempercepat kelelahan material. Panas yang terlalu tinggi dapat membuat ban meledak, terutama saat mobil dipacu dalam kecepatan tinggi di jalan tol.
Penting untuk selalu mengecek batas muatan kendaraan yang tertera pada label pintu atau buku manual. Beban berlebih tidak hanya merusak ban, tetapi juga mempengaruhi performa rem dan suspensi.
Kondisi jalan yang berlubang, retak, atau dipenuhi kerikil tajam ikut menjadi penyebab pecah ban. Saat ban menghantam lubang dalam pada kecepatan tinggi, dinding ban dapat robek atau kawat di dalam ban putus.
Kerusakan ini tidak selalu langsung terasa. Pada beberapa kasus, ban baru pecah pada perjalanan berikutnya ketika tekanan dan panas meningkat. Bila pengemudi mendengar suara benturan keras pada ban, sebaiknya berhenti dan memeriksa kondisi ban secara teliti.
Jika ditemukan benjolan pada sisi ban, itu tanda dinding ban sudah tidak layak digunakan.
Panas berlebih membuat struktur karet ban melemah. Menurut panduan pabrikan, panas dapat meningkat karena:
Tekanan angin rendah
Penggunaan pada kecepatan tinggi tanpa jeda
Cuaca sangat panas
Kualitas ban rendah
Pada perjalanan jauh, pengemudi disarankan beristirahat setiap dua atau tiga jam agar ban mendapat waktu mendingin. Bila tercium bau karet terbakar, segera berhenti dan cek kondisi ban.
Pelek yang penyok, retak, atau tidak presisi dapat menekan bagian tertentu ban secara tidak merata. Tekanan yang tidak seimbang ini dapat merusak dinding ban dari dalam sehingga ban mudah pecah.
Kerusakan pelek biasanya terdeteksi saat melakukan balancing dan spooring. Jika kondisi pelek tidak layak, segera diganti untuk menghindari kerusakan lebih besar pada ban.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Mobil Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia mobil — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sebuah video viral memperlihatkan seorang pemilik usaha yang dibuat geram oleh sikap tukang parkir yang diduga melakukan ancaman terkait penggunaan...
Aksi pencurian kendaraan bermotor terjadi di kawasan BSD City pada Selasa pagi (21/4/2026) sekitar pukul 07.15 WIB. Kejadian ini menimpa...