Kebiasaan Anak yang Sering Dianggap Nakal Ternyata Bisa Menjadi Tanda Kecerdasan
Tidak sedikit orang tua merasa khawatir ketika anak terlihat sangat aktif, sering bertanya, atau gemar membongkar berbagai benda di rumah....
Read more
Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Memenuhi kebutuhan dan membuat anak bahagia merupakan bentuk kasih sayang yang wajar. Namun, kebiasaan selalu menuruti keinginan anak tanpa memberikan batasan justru dapat memengaruhi perkembangan perilakunya.
Memanjakan anak bukan sekadar memberikan banyak fasilitas atau memenuhi permintaannya. Masalah dapat muncul ketika orang tua terlalu sering menghindari kata “tidak”, tidak memberikan aturan yang jelas, atau membiarkan anak menentukan hampir semua hal tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Anak yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan mungkin terlihat bahagia. Namun, ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan, mereka dapat lebih sulit menerima penolakan, mengelola rasa kecewa, atau memahami bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan.
Pola pengasuhan seperti ini kerap dikaitkan dengan pola asuh permisif, yaitu gaya pengasuhan yang cenderung hangat tetapi memiliki batasan dan tuntutan perilaku yang lebih rendah. Penelitian mengenai pola asuh anak menunjukkan bahwa kurangnya batasan dan pengawasan dapat berkaitan dengan masalah regulasi diri dan perilaku pada anak.
Ada sejumlah perilaku yang dapat menjadi tanda bahwa seorang anak terbiasa mendapatkan terlalu banyak kelonggaran dalam pengasuhan. Tanda tersebut tentu tidak bisa digunakan untuk langsung memberi label kepada anak, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi bagi orang tua.
1. Sulit menerima kata tidak
Anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dapat terbiasa menganggap keinginannya harus dipenuhi. Ketika orang tua menolak permintaan, anak mungkin menunjukkan protes, marah, menangis, atau terus memaksa hingga mendapatkan apa yang diinginkan.
Masalahnya bukan pada anak yang sesekali kecewa ketika keinginannya ditolak. Rasa kecewa merupakan bagian dari proses perkembangan. Yang perlu diperhatikan adalah ketika anak hampir selalu tidak mampu menerima batasan.
2. Tidak pernah merasa cukup
Anak yang terlalu sering mendapatkan barang atau fasilitas belum tentu belajar menghargai apa yang sudah dimiliki. Mereka dapat terus meminta sesuatu yang baru meskipun kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi.
Alih-alih menikmati atau menghargai apa yang dimiliki, perhatian anak justru terus berpindah kepada keinginan berikutnya.
3. Cenderung egois
Anak juga perlu belajar memahami perasaan dan kebutuhan orang lain. Jika hampir semua keputusan selalu berpusat pada keinginan anak, mereka dapat kesulitan memahami bahwa orang lain tidak harus selalu memberikan perlakuan khusus.
Karena itu, mengajarkan anak berbagi, menunggu giliran dan mempertimbangkan perasaan orang lain menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial.
4. Sulit menerima kekalahan
Tidak ada anak yang selalu senang ketika kalah. Namun, anak yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan dapat mengalami kesulitan lebih besar ketika menghadapi kegagalan.
Mereka mungkin menyalahkan orang lain, marah, menangis berlebihan atau menolak mengakui hasil yang tidak sesuai harapan.
Padahal, belajar menghadapi kekalahan merupakan bagian penting dalam membangun kemampuan mengelola emosi dan menghadapi kekecewaan.
5. Menolak melakukan tugas sederhana
Anak yang terlalu terbiasa dilayani dapat enggan melakukan tugas yang sebenarnya sesuai dengan usia mereka. Contohnya merapikan mainan, menyikat gigi, membereskan barang sendiri atau membantu pekerjaan sederhana di rumah.
Jika semua kebutuhan anak selalu dilakukan oleh orang tua, anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk belajar bertanggung jawab dan mandiri.
6. Mudah menunjukkan perilaku agresif
Kesulitan mengendalikan emosi juga dapat menjadi salah satu masalah ketika batasan dalam pengasuhan terlalu longgar. Anak yang belum belajar mengelola rasa marah dan frustrasi dapat melampiaskannya melalui perilaku agresif.
Penelitian mengenai pola asuh menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh permisif dan masalah perilaku tertentu. Salah satu penelitian menemukan bahwa pola asuh permisif dapat berkaitan dengan perilaku eksternal yang mengganggu, terutama ketika anak kurang mendapatkan arahan dan batasan perilaku yang konsisten.
Namun, perilaku agresif tidak semata-mata disebabkan oleh pola asuh. Temperamen anak, lingkungan, hubungan keluarga dan berbagai faktor perkembangan lainnya juga dapat berperan.
7. Bertindak impulsif
Anak perlu belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Kemampuan menunggu, mengikuti aturan dan mengendalikan dorongan merupakan bagian dari perkembangan regulasi diri.
Ketika orang tua selalu memberikan apa yang diminta anak agar mereka tidak menangis atau kecewa, anak kehilangan kesempatan untuk berlatih menghadapi rasa frustrasi secara sehat.
Penelitian mengenai regulasi diri pada anak menemukan bahwa pola asuh permisif berkaitan dengan kesulitan regulasi diri. Anak membutuhkan kehangatan sekaligus kehadiran orang tua yang konsisten dalam memberikan batasan dan arahan.
Memberikan batasan bukan berarti orang tua harus menjadi keras atau tidak memenuhi kebutuhan anak. Justru, anak membutuhkan kombinasi kasih sayang, perhatian, aturan dan konsekuensi yang konsisten agar dapat memahami bagaimana berperilaku dalam berbagai situasi.
Orang tua tetap dapat mengatakan “tidak” ketika permintaan anak tidak sesuai kebutuhan atau aturan keluarga. Yang penting adalah menjelaskan alasannya dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
Misalnya, ketika anak meminta mainan baru padahal masih memiliki banyak mainan yang belum digunakan, orang tua dapat menjelaskan bahwa saat ini belum waktunya membeli mainan baru. Anak mungkin kecewa, tetapi pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk belajar menerima penolakan.
Hal serupa dapat dilakukan ketika anak kalah dalam permainan. Orang tua tidak harus langsung mengubah hasil agar anak merasa senang. Sebaliknya, anak dapat dibantu mengenali perasaannya dan memahami bahwa kalah merupakan bagian dari permainan.
Kemandirian juga perlu dibangun secara bertahap. Anak dapat diberi tanggung jawab sederhana sesuai usianya, seperti merapikan mainan, menyimpan pakaian kotor, menyiapkan perlengkapan sekolah atau membantu pekerjaan rumah yang aman.
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya menerima kasih sayang dalam bentuk barang atau pemenuhan keinginan. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk belajar mengambil keputusan, menghadapi konsekuensi, menghargai orang lain dan mengelola emosi.
Penelitian mengenai perkembangan sosial dan emosional anak juga menunjukkan bahwa pola asuh yang memberikan kehangatan sekaligus struktur dan arahan dapat mendukung kemampuan regulasi diri serta perilaku sosial yang lebih baik.
Pada akhirnya, memberikan yang terbaik untuk anak bukan berarti selalu memberikan apa yang mereka minta. Anak juga perlu memiliki ruang untuk mengalami rasa kecewa, menunggu, menyelesaikan tugas sendiri dan memahami bahwa setiap keinginan memiliki batas.
Orang tua dapat tetap menjadi tempat yang aman dan penuh kasih sayang tanpa harus menghilangkan semua tantangan dari kehidupan anak. Justru melalui batasan yang sesuai usia dan konsisten, anak mendapatkan kesempatan untuk belajar menjadi lebih mandiri dan mampu mengendalikan dirinya.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Parenting Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia parenting — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Tren sustainability atau keberlanjutan semakin masuk ke berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya memengaruhi cara perusahaan menjalankan bisnis dan konsumen memilih...
Melihat banyak helai rambut tertinggal di sisir, bantal, atau lantai kamar mandi memang bisa membuat khawatir. Namun, rambut rontok setiap...