Stroke di Usia Muda Makin Mengkhawatirkan, Kenali Tanda Bahayanya

Stroke tidak hanya menyerang lansia. Kenali faktor risiko stroke di usia muda, mulai dari gaya hidup, penyakit penyerta, faktor genetik hingga gejala awal.

Stroke tidak hanya menyerang lansia

Stroke selama ini identik dengan kelompok lanjut usia. Namun, kondisi tersebut ternyata juga dapat menyerang orang yang masih berada pada usia produktif, termasuk mereka yang berusia 20-an, 30-an hingga 40-an.

Perubahan pola hidup menjadi salah satu hal yang ikut berperan. Kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, merokok, konsumsi alkohol berlebihan dan rutinitas kerja yang padat dapat meningkatkan sejumlah faktor risiko stroke sejak usia muda.

Dikutip dari keterangan Dr Anoop Kumar Singh, ahli bedah saraf di Rumah Sakit Lifeline, India, terjadi perubahan pada profil usia pasien stroke. Menurutnya, stroke yang dahulu lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut kini semakin sering dijumpai pada orang dewasa muda.

“Didorong oleh transisi gaya hidup yang cepat dan realitas demografis, kami mendeteksi lonjakan stroke, serangan jantung, dan kondisi vaskular terkait yang belum pernah terjadi sebelumnya pada orang dewasa muda,” kata Dr Anoop Kumar Singh.

Menurut Dr Singh, perubahan gaya hidup dapat berkontribusi terhadap munculnya hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi dan obesitas pada usia yang lebih muda. Kondisi tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah, termasuk stroke.

Temuan tersebut juga sejalan dengan penjelasan dokter di Indonesia. Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, dr Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), menyebut stroke dapat dipicu berbagai faktor yang memengaruhi pembuluh darah.

“Ketika stroke ini terjadi, memang ada banyak faktor risiko yang terlibat di sana. Ada darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol, misalnya ada keturunan,” kata dr Ramdinal Aviesena Zairinal.

Faktor Risiko Stroke di Usia Muda

Gaya hidup menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Orang yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk, jarang berolahraga dan memiliki pola makan kurang sehat dapat lebih rentan mengalami masalah kesehatan yang menjadi faktor risiko stroke.

Berdasarkan keterangan dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi lemak dan gula, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol serta stres dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko stroke pada usia muda.

Baca Juga:  Waspada Sariawan Berkepanjangan, Gejala Awal Kanker Mulut yang Sering Terlewat

Masalah kesehatan seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi dan obesitas juga perlu dikendalikan. Kondisi tersebut dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas sehingga seseorang yang masih muda bisa saja tidak menyadari bahwa dirinya memiliki faktor risiko stroke.

Selain faktor yang dapat dipengaruhi oleh gaya hidup, faktor keturunan juga tidak boleh diabaikan.

Dr Singh menjelaskan bahwa seseorang dengan orang tua yang memiliki riwayat hipertensi sejak dini, diabetes, hiperlipidemia atau gangguan pembekuan darah tertentu dapat memiliki predisposisi yang lebih besar terhadap stroke.

“Risikonya meningkat secara signifikan. Jika orang tua memiliki riwayat hipertensi dini, diabetes, hiperlipidemia, atau trombofilia genetik seperti defisiensi Protein C/S, keturunan akan membawa predisposisi yang jelas,” kata Dr Singh.

Bagi orang yang memiliki riwayat keluarga kuat, ia menyarankan agar pemeriksaan kesehatan tidak harus menunggu sampai usia 35 tahun. Evaluasi dasar dapat mulai dipertimbangkan sejak usia 20 hingga 25 tahun untuk kelompok dengan faktor risiko genetik yang kuat.

Kenali Gejala Stroke dengan BE-FAST

Salah satu masalah dalam mengenali stroke pada usia muda adalah gejalanya terkadang dianggap sebagai keluhan biasa. Pusing atau gangguan penglihatan misalnya, bisa saja dianggap sebagai migrain atau akibat kelelahan.

Padahal, gejala stroke umumnya muncul secara tiba-tiba. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian, terutama apabila terjadi pada salah satu sisi tubuh.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  1. Kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba, termasuk tersandung, sulit berjalan atau tubuh tiba-tiba condong ke salah satu sisi.
  2. Gangguan penglihatan mendadak, seperti pandangan kabur atau kehilangan penglihatan pada salah satu maupun kedua mata.
  3. Wajah tiba-tiba terlihat tidak simetris, terutama ketika tersenyum. Salah satu sisi wajah dapat terlihat turun atau terkulai.
  4. Lengan atau kaki tiba-tiba melemah, terasa berat atau mengalami mati rasa pada salah satu sisi tubuh.
  5. Gangguan bicara, seperti bicara pelo, sulit mengucapkan kata-kata, sulit memahami pembicaraan atau bahkan tidak mampu berbicara.

Untuk membantu masyarakat mengenali gejala stroke dengan lebih cepat, Dr Singh merekomendasikan metode BE-FAST.

Baca Juga:  Dokter Ungkap: Urutan Makan yang Tepat Sayur dan Buah Dulu, Baru Nasi

B berarti Balance atau keseimbangan. Perhatikan jika seseorang tiba-tiba kehilangan koordinasi, tersandung atau mengalami pusing yang disertai gangguan keseimbangan.

E berarti Eyes atau mata. Waspadai gangguan penglihatan yang muncul mendadak pada salah satu atau kedua mata.

F berarti Face atau wajah. Minta orang tersebut tersenyum dan perhatikan apakah salah satu sisi wajah terlihat turun.

A berarti Arms atau lengan. Minta orang tersebut mengangkat kedua lengan. Jika salah satu lengan tidak mampu bertahan pada posisi tersebut atau tiba-tiba turun, kondisi itu perlu dicurigai.

S berarti Speech atau bicara. Perhatikan apakah ucapan terdengar pelo, tidak jelas, sulit dipahami atau orang tersebut kesulitan memahami pembicaraan.

T berarti Time atau waktu. Jika tanda-tanda tersebut muncul secara tiba-tiba, segera cari pertolongan medis.

Dokter spesialis saraf dari RS Pusat Otak Nasional, dr Beny Rilianto, menjelaskan bahwa BE-FAST penting untuk membantu mengenali gejala stroke sejak awal. Menurutnya, terdapat masa emas dalam penanganan stroke sehingga pasien perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan yang mampu menangani stroke.

Dalam kondisi stroke, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko kerusakan otak dan kecacatan. Karena itu, jangan menunggu gejala membaik sendiri apabila tanda seperti wajah menurun sebelah, kelemahan anggota tubuh, gangguan bicara, gangguan penglihatan atau kehilangan keseimbangan muncul secara mendadak.

Pencegahan juga dapat dimulai sejak usia muda dengan rutin memeriksa tekanan darah, kadar gula dan kolesterol, menjaga berat badan, aktif bergerak, menerapkan pola makan sehat serta menghindari rokok dan konsumsi alkohol berlebihan.

Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan yang dikutip ANTARA, pengendalian faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, gangguan lemak darah, penyakit jantung, merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, stres dan konsumsi alkohol menjadi bagian penting dalam upaya mencegah stroke.

Referensi:
DetikHealth

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED