Scaling Gigi dan Mitos Gigi Goyang yang Masih Banyak Dipercaya

Scaling gigi kerap dianggap bikin gigi goyang dan renggang. Kenali fakta sebenarnya, manfaat scaling, efek setelah tindakan, dan risiko karang gigi.

Scaling gigi kerap dianggap bikin gigi goyang dan renggang

Scaling gigi masih sering dikaitkan dengan anggapan bahwa prosedur ini dapat membuat gigi menjadi goyang atau terlihat lebih renggang. Padahal, perubahan yang terlihat setelah scaling umumnya berkaitan dengan karang gigi yang sebelumnya menutupi sebagian permukaan dan celah gigi.

Karang gigi terbentuk dari plak yang tidak dibersihkan secara optimal. Plak sendiri merupakan lapisan lengket yang terdiri dari bakteri, sisa makanan, dan komponen air liur. Jika dibiarkan, lapisan tersebut dapat mengalami mineralisasi dalam beberapa hari hingga akhirnya mengeras menjadi karang gigi.

Karang gigi tidak dapat dibersihkan hanya dengan menyikat gigi. Ketika sudah mengeras, endapan tersebut melekat kuat pada permukaan gigi sehingga membutuhkan alat khusus yang digunakan oleh tenaga profesional.

Kenapa Scaling Tidak Membuat Gigi Renggang?

Berdasarkan informasi dalam laporan kesehatan gigi, karang gigi dapat terbentuk di atas maupun di bawah garis gusi. Karang gigi yang berada di atas garis gusi biasanya terlihat berwarna putih kekuningan, sedangkan yang berada di bawah gusi cenderung lebih gelap.

Jika penumpukan karang gigi berlangsung lama, celah di antara gigi dapat terlihat seperti terisi oleh endapan tersebut. Ketika scaling dilakukan dan karang gigi berhasil diangkat, ruang yang sebelumnya tertutup menjadi terlihat kembali.

Kondisi tersebut bukan berarti scaling membuat gigi bergeser atau renggang. Celah yang terlihat sebenarnya merupakan bagian dari struktur gigi yang sebelumnya tertutup karang gigi.

Scaling juga tidak bertujuan memutihkan warna alami gigi. Gigi dapat terlihat lebih bersih atau cerah setelah prosedur karena karang gigi dan noda pada permukaan gigi ikut terangkat. Warna email gigi sendiri tidak berubah menjadi putih karena scaling.

Baca Juga:  Rahasia Umur Panjang Terungkap Ini Kebiasaan Sehari Hari yang Sering Diabaikan

Menurut penjelasan dalam materi kesehatan gigi tersebut, scaling dilakukan menggunakan alat khusus, salah satunya ultrasonic scaler. Alat ini memanfaatkan getaran dan semburan air untuk membantu mengangkat karang gigi. Pada bagian tertentu, dokter gigi juga dapat menggunakan alat manual untuk membersihkan area yang membutuhkan penanganan lebih detail.

Prosedur biasanya berlangsung sekitar 30 hingga 60 menit, tergantung jumlah karang gigi dan kondisi gusi pasien.

Dampak Karang Gigi Jika Dibiarkan

Karang gigi bukan hanya persoalan penampilan. Penumpukan plak dan karang gigi di sekitar garis gusi dapat memicu peradangan atau gingivitis.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain gusi mudah berdarah ketika menyikat gigi, gusi merah atau bengkak, bau mulut yang menetap, serta rasa tidak nyaman pada gusi.

Jika kondisi tersebut dibiarkan dalam waktu lama, peradangan gusi dapat berkembang menjadi periodontitis. Pada kondisi yang lebih serius, jaringan dan tulang yang menopang gigi dapat mengalami kerusakan.

Dampaknya dapat berupa gusi turun, gigi terasa goyang, hingga meningkatnya risiko kehilangan gigi. Artinya, gigi goyang yang muncul akibat penyakit gusi tidak sama dengan anggapan bahwa scaling menyebabkan gigi menjadi goyang.

Setelah scaling, sebagian orang juga dapat mengalami gigi sensitif untuk sementara. Gusi mungkin terasa sedikit nyeri atau mengalami perdarahan ringan, terutama jika sebelumnya sudah mengalami peradangan.

Celah gigi yang sebelumnya tertutup karang gigi juga dapat terasa lebih jelas setelah prosedur. Hal ini umumnya merupakan kondisi yang dapat terjadi setelah endapan diangkat.

Baca Juga:  Makanan Asin Berlebihan Bisa Picu Hipertensi, Ini Batas Natrium Harian

Untuk membantu menjaga kesehatan gigi setelah scaling, kebersihan mulut tetap perlu diperhatikan. Menyikat gigi secara rutin membantu mengendalikan plak sebelum berubah menjadi karang gigi. Membersihkan sela gigi juga penting karena area tersebut sering sulit dijangkau oleh sikat gigi biasa.

Frekuensi scaling tidak harus sama untuk setiap orang. Kebutuhannya bergantung pada kondisi kebersihan mulut, jumlah karang gigi, kesehatan gusi, serta risiko penyakit periodontal.

Pada orang dengan risiko penyakit gusi lebih tinggi, pemeriksaan dan perawatan dapat dilakukan lebih sering. Karena itu, jadwal scaling sebaiknya ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter gigi, bukan semata-mata mengikuti jadwal yang sama untuk semua orang.

Scaling yang dilakukan oleh tenaga profesional dengan teknik yang tepat tidak bertujuan mengikis email gigi. Prosedur tersebut dilakukan untuk mengangkat plak dan karang gigi yang sudah mengeras agar kebersihan mulut dan kesehatan gusi dapat lebih terjaga.

Referensi:
Detik Health

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED