Sibukkan Dirimu dengan Mengurus Diri Sendiri: Sebuah Nasihat untuk Introspeksi
Di era digital dan media sosial saat ini, batas antara ruang privat dan publik semakin kabur. Sangat mudah bagi kita...
Read more
Ada orang yang diuji dengan sakit, kehilangan, kegagalan, dan kesempitan rezeki. Namun ada pula yang diuji dengan sesuatu yang justru sangat ia sukai: harta, jabatan, popularitas, ilmu, kecantikan, kesehatan, bahkan banyaknya amal.
Yang sering tidak disadari, ujian berupa nikmat terkadang jauh lebih halus.
Seseorang bisa saja tetap rajin beribadah, tetapi perlahan muncul perasaan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ia mulai memandang rendah mereka yang menurutnya tidak sebaik dirinya.
Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap ujub.
Apa Itu Ujub?
Ujub adalah ketika seseorang merasa kagum terhadap dirinya sendiri, merasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, kemudian kelebihan tersebut membuatnya memandang dirinya lebih tinggi.
Ujub tidak selalu terlihat dari perkataan.
Kadang ia hanya bersemayam di dalam hati.
Misalnya, seseorang melihat orang lain yang jarang menghadiri kajian lalu berkata dalam hati, “Untung aku tidak seperti dia.”
Atau ketika seseorang memiliki ilmu agama lebih banyak, kemudian mulai merasa bahwa dirinya lebih saleh daripada orang lain.
Bahkan seseorang bisa merasa ujub karena amalnya sendiri.
Ia rajin salat, banyak bersedekah, sering menghadiri majelis ilmu, kemudian tanpa sadar mulai merasa dirinya lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya.
Padahal, kita tidak pernah tahu bagaimana akhir kehidupan seseorang.
Ujub Bisa Datang dari Nikmat
Harta bisa menjadi ujian.
Jabatan bisa menjadi ujian.
Ilmu bisa menjadi ujian.
Bahkan ibadah pun bisa menjadi ujian ketika membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang bahaya ujub. Dalam hadis yang dinukil dalam Syu’ab al-Iman, beliau bersabda:
“Jika kalian tidak berdosa, maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya, yaitu ujub.”
Hadis tersebut dinukil oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 6868 dan dinilai hasan sebagaimana disebutkan pada sumber yang menjadi rujukan.
Pesannya sangat dalam: jangan merasa aman hanya karena kita melihat diri kita tidak melakukan dosa-dosa tertentu. Penyakit hati juga harus kita waspadai.
Ujub dan Sombong Itu Tidak Persis Sama
Keduanya memang berkaitan, tetapi ada perbedaan.
Ujub lebih berkaitan dengan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri dan amal atau kelebihannya.
Sedangkan sombong (kibr) memiliki unsur merendahkan atau memandang rendah orang lain.
Seseorang bisa saja merasa kagum terhadap dirinya tanpa mengatakannya kepada siapa pun. Namun jika perasaan tersebut berkembang menjadi keyakinan bahwa dirinya lebih tinggi dan orang lain lebih rendah, maka ia dapat terjatuh kepada kesombongan.
Ada nasihat yang dinukil dari Abu Wahb Al-Marwazi ketika bertanya kepada Ibnul Mubarak tentang makna kesombongan.
Jawabannya:
“Meremehkan orang lain.”
Ketika ditanya tentang ujub, beliau menjelaskan bahwa ujub adalah ketika seseorang memandang dirinya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Ini menjadi bahan introspeksi yang sangat penting.
Jangan Sampai Amal Justru Menghancurkan Hati
Ada orang yang meninggalkan maksiat, tetapi kemudian merasa dirinya lebih baik daripada pelaku maksiat.
Ada orang yang rajin menghadiri kajian, lalu meremehkan orang yang belum mendapatkan kesempatan belajar.
Ada orang yang banyak bersedekah, kemudian memandang rendah orang yang hartanya lebih sedikit.
Ada pula orang yang merasa ibadahnya sudah banyak sehingga lupa bahwa semua kemampuan untuk beribadah sebenarnya adalah nikmat dari Allah.
Padahal, siapa yang memberi kita kemampuan untuk salat?
Siapa yang memberikan kesehatan?
Siapa yang memberikan kesempatan untuk belajar?
Siapa yang membuka hati kita untuk mengenal agama?
Semuanya berasal dari Allah.
Maka tidak pantas bagi seorang hamba menjadikan nikmat tersebut sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.
Jangan Merasa Aman dengan Amal Kita
Salah satu cara menjaga hati dari ujub adalah menyadari bahwa kita tidak pernah tahu apakah amal kita diterima atau tidak.
Kita bisa melihat diri kita rajin beribadah hari ini, tetapi bagaimana dengan hari esok?
Kita mungkin sedang berada dalam kebaikan sekarang, tetapi bagaimana akhir kehidupan kita?
Karena itu, orang yang benar-benar memahami dirinya akan lebih banyak bersyukur daripada membanggakan amal.
Ia akan berkata dalam hati:
“Ya Allah, kalau bukan karena pertolongan-Mu, aku tidak akan mampu melakukan semua ini.”
Inilah sikap yang menjaga seseorang dari rasa kagum terhadap dirinya sendiri.
Cara Mengobati Ujub
Ketika muncul rasa bangga berlebihan terhadap diri sendiri, segera lakukan beberapa hal sederhana:
1. Ingat bahwa semua kelebihan berasal dari Allah.
Ilmu, harta, kesehatan, kemampuan beribadah, dan segala bentuk kebaikan adalah karunia Allah.
2. Ingat kekurangan diri sendiri.
Tidak ada manusia yang sempurna. Ketika melihat kelebihan orang lain, jangan lupa melihat kekurangan diri sendiri.
3. Jangan meremehkan orang lain.
Seseorang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja Allah beri hidayah dan menjadi jauh lebih baik daripada kita.
4. Banyak berdoa agar hati dijaga.
Kita membutuhkan pertolongan Allah bukan hanya untuk mendapatkan nikmat, tetapi juga agar mampu menggunakan nikmat tersebut dengan benar.
5. Perbanyak introspeksi.
Sesekali tanyakan kepada diri sendiri: “Aku melakukan kebaikan ini karena Allah atau karena ingin dianggap baik?”
Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi cermin bagi hati.
Nikmat Bukan Alasan untuk Merasa Lebih Baik
Mungkin kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Mungkin kita lebih berilmu.
Mungkin kita lebih banyak beribadah.
Mungkin rezeki kita lebih luas.
Mungkin kita memiliki jabatan atau kehidupan yang lebih baik.
Tetapi semua itu bukan alasan untuk memandang rendah orang lain.
Sebab kita tidak tahu apa yang tersembunyi di balik kehidupan mereka. Bisa jadi orang yang kita anggap biasa saja memiliki hati yang jauh lebih ikhlas di sisi Allah.
Dan bisa jadi seseorang yang kita remehkan justru memiliki akhir kehidupan yang lebih baik daripada kita.
Penutup
Ujian tidak selalu berupa kesulitan. Nikmat pun bisa menjadi ujian.
Karena itu, ketika Allah memberikan kita ilmu, harta, kesehatan, jabatan, atau kesempatan untuk beribadah, jangan hanya meminta agar nikmat tersebut bertambah.
Mintalah juga agar hati kita tetap rendah.
Sebab yang paling berbahaya bukan ketika seseorang memiliki banyak kelebihan, tetapi ketika kelebihan tersebut membuatnya lupa bahwa semuanya berasal dari Allah.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari ujub, sombong, riya, dan penyakit hati lainnya. Semoga setiap nikmat yang kita miliki justru membuat kita semakin rendah hati, semakin bersyukur, dan semakin dekat kepada-Nya.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ibadah Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ibadah — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Ada orang yang diuji dengan sakit, kehilangan, kegagalan, dan kesempitan rezeki. Namun ada pula yang diuji dengan sesuatu yang justru...
Selama berabad-abad, dunia akademis internasional meyakini bahwa kemampuan berpikir abstrak dan seni bercerita manusia pertama kali lahir di benua Eropa....