Bagi masyarakat Jepang, Licca-chan adalah ikon mainan anak-anak yang teramat sangat populer, bahkan kerap dianggap sebagai versi lokal dari boneka Barbie. Untuk makin memanjakan para penggemarnya, perusahaan produsen mainan tersebut pada masanya sempat membuat saluran telepon khusus. Melalui nomor ini, anak-anak bisa memutar rekaman suara Licca-chan yang menyapa mereka dengan ramah. Namun, di balik wajah cantiknya yang menggemaskan, tersimpan jalinan urban legend yang memancarkan paranoia mendalam.
Mitos urban mengenai boneka Licca Chan mulai merebak luas ketika beberapa anak melaporkan hal yang aneh. Bukannya mendengar sapaan ceria dari rekaman telepon, mereka justru mengaku mendengar bisikan bernada mengancam, seperti “Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu untuk membunuhmu.” Rumor mengerikan tersebut dengan cepat bertransformasi menjadi salah satu legenda urban paling berdarah dan membekas di tanah Jepang.
Keanehan ini tidak berhenti pada teror telepon yang berdering di tengah malam. Misteri tersebut makin memuncak tatkala beredar desas-desus mengenai cacat produksi massal yang melahirkan entitas terkutuk berwujud boneka dengan organ tubuh abnormal.
Asal-Usul Teror Panggilan Telepon dan Rumah yang Ditinggalkan
Kisah misteri ini berawal dari seorang gadis muda yang tengah merapikan barang-barang lama di kamar tidurnya. Di antara tumpukan kenangan masa kecil, ia menemukan kembali boneka Licca-chan kesayangannya. Merasa usianya sudah terlalu dewasa untuk menyimpan mainan, gadis tersebut memutuskan untuk membuang boneka itu ke tempat sampah di luar rumah tanpa penyesalan.
Beberapa waktu kemudian, keluarga gadis itu berpindah tempat tinggal ke kota yang baru. Suatu sore, sang gadis pulang ke rumah sendirian dalam keadaan sepi karena kedua orang tuanya masih bekerja. Begitu ia melangkahkan kaki melewati ambang pintu depan, dering telepon rumah memecah keheningan sore dengan sangat nyaring.
Ketika gagang telepon diangkat, terdengar suara kecil bernada anak-anak yang begitu dingin dari ujung saluran. Suara itu berbisik, “Halo, ini Licca-chan. Aku sedang berada di tumpukan sampah. Aku memang dicampakkan, tetapi sekarang aku sedang berjalan pulang.” Gadis itu segera menutup telepon karena menganggapnya sebagai lelucon jahat. Namun, hanya dalam hitungan menit, dering telepon kembali memekakkan telinga.
Dering Berulang yang Menuntun Sang Pembunuh ke Ambang Pintu
Telepon berdering untuk kedua kalinya. Saat diangkat, suara yang sama kembali bergema dengan jarak yang terasa semakin dekat, “Halo, ini Licca-chan. Aku sudah sampai di stasiun kereta. Sebentar lagi kita akan berkumpul kembali.” Rasa cemas yang luar biasa mulai merayapi dada sang gadis. Ia berupaya menenangkan diri, tetapi panggilan ketiga tidak menunggu waktu lama untuk masuk.
“Halo, ini Licca-chan. Aku sedang berjalan di lorong jalanmu. Apakah kamu menyayangiku dan merindukanku?” jerit suara di dalam telepon. Ketakutan yang hebat membuat gadis itu terkesiap. Ia memberanikan diri berjalan menuju jendela kamar, mengintip pelan di balik tirai kayu. Halaman depan rumah tampak kosong melompong dan sunyi senyap, tidak ada siapapun di sana.
Tepat saat ia bernapas lega dan merasa aman, dering telepon terakhir berbunyi dengan nada yang sangat intens. Saat gadis itu mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar, suara melengking berbisik tepat di gendang telinganya melalui gagang telepon: “Halo, ini Licca-chan… dan aku sekarang berada tepat di belakangmu.”
Fenomena Kelam Cacat Produksi dan Kemunculan Kaki Ketiga
Selain teror telepon pembalasan dendam, terdapat variasi legenda yang jauh lebih mengerikan yang dikenal sebagai kisah boneka Licca Chan berkaki tiga. Konon, pabrik pembuat mainan tersebut pernah mengalami kesalahan teknis fatal dalam lini produksi automatik mereka, yang secara tidak sengaja merakit sekumpulan boneka dengan tiga buah kaki. Sejumlah unit cacat ini terlanjur lolos dari kontrol kualitas dan tersebar ke pasaran.
Salah satu insiden mengerikan dialami oleh seorang wanita muda saat menggunakan fasilitas toilet umum di malam hari. Ketika sedang duduk di dalam bilik yang remang-remang, matanya menangkap sesosok benda asing yang tergeletak di lantai ubin yang dingin. Benda tersebut tidak lain adalah boneka berbentuk anak perempuan.
Merasa kasihan melihat mainan yang terbuang di tempat kotor, wanita itu membungkuk dan memungutnya. Namun, rasa iba itu seketika berubah menjadi horor murni ketika ia mengamati bagian bawah tubuh boneka tersebut. Boneka itu memiliki dua kaki plastik biasa yang berwarna merah muda, tetapi di antara keduanya terdapat kaki ketiga yang membengkak, berbulu, dan berwarna ungu membusuk.
Bisikan Kutukan Tanpa Henti dan Mitos Kaki Manusia
Terkejut bukan main, wanita tersebut secara tidak sengaja menjatuhkan sang boneka ke lantai dengan posisi tertelungkup. Di luar nalar manusia, kepala plastik boneka itu secara perlahan berputar 180 derajat menghadap ke atas, memandang lurus ke arah mata sang wanita. Bibir kecilnya yang tertekuk mulai bergerak-gerak dan berbisik secara repetitif: “Namaku Licca-chan dan aku dikutuk… Aku dikutuk… Aku dikutuk…”
Wanita itu lari tunggang-langgang menembus kegelapan malam, tetapi suara bisikan terkutuk itu tidak pernah pergi. Ke mana pun ia melangkah, jeritan dingin itu terus bergema di dalam kepalanya dan memanggil nomor selulernya tanpa henti. Keputusasaan yang mendalam akibat siksaan auditori tersebut akhirnya mendorong sang wanita melakukan tindakan ekstrem: merusak gendang telinganya sendiri demi menghentikan bisikan yang merusak jiwanya.
Berbagai versi cerita rakyat Jepang juga menyebutkan bahwa kaki ketiga berwarna ungu tersebut sebenarnya terbuat dari potongan daging manusia asli yang membusuk. Boneka menyeramkan ini diyakini berkeliaran di bilik toilet sekolah atau merayap di bawah ranjang saat manusia tertidur lelap, membawa pisau daging tajam untuk memotong kaki korbannya demi melengkapi organ tubuhnya yang cacat.