Hobi Olahraga Akhir Pekan Waspadai Bahaya Cedera Tulang Belakang
Fenomena weekend warrior, yaitu orang yang hanya berolahraga berat di akhir pekan, ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap...
Read more
Banyak pria mengira perubahan tubuh hanya terjadi saat masa remaja. Padahal, ada fase lain yang dikenal sebagai puber kedua, yang umumnya muncul di usia 30 hingga 50 tahun. Kondisi ini berkaitan erat dengan penurunan hormon testosteron secara bertahap atau yang dikenal sebagai andropause.
Berdasarkan penjelasan dari berbagai sumber kesehatan, setelah usia 30 tahun, kadar testosteron pria bisa menurun sekitar 1 persen setiap tahun. Penurunan ini memicu berbagai perubahan, baik secara fisik maupun mental.
Meski berlangsung perlahan, perubahan ini dapat berdampak pada kualitas hidup jika tidak disadari sejak awal.
Berikut beberapa tanda umum puber kedua yang sering dialami pria:
1. Mudah lelah dan energi menurun
Menurut berbagai sumber kesehatan, pria usia 30 hingga 40-an mulai merasakan penurunan energi. Aktivitas ringan pun bisa terasa lebih melelahkan. Hal ini berkaitan dengan turunnya hormon testosteron dan hormon pertumbuhan.
2. Perubahan komposisi tubuh
Massa otot cenderung berkurang, sementara lemak, terutama di area perut, lebih mudah menumpuk. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes.
3. Perubahan suasana hati
Perubahan hormon dapat memengaruhi zat kimia otak seperti serotonin dan dopamin. Akibatnya, pria bisa menjadi lebih mudah marah, cemas, atau bahkan mengalami gejala depresi.
4. Gangguan tidur
Penurunan testosteron juga berdampak pada kualitas tidur. Banyak pria mengalami insomnia atau tidur tidak nyenyak, sehingga memperburuk kondisi fisik dan mental.
5. Penurunan gairah seksual
Salah satu tanda yang paling umum adalah menurunnya libido. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga disertai gangguan fungsi seksual yang dapat memengaruhi kepercayaan diri.
6. Sulit fokus dan mudah lupa
Sebagian pria melaporkan kesulitan berkonsentrasi atau mengalami kabut otak. Hal ini berkaitan dengan perubahan hormon yang memengaruhi fungsi kognitif.
Selain gejala tersebut, penurunan testosteron juga dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang. Risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga gangguan metabolik seperti diabetes tipe 2 dapat meningkat.
Kepadatan tulang juga bisa menurun, sehingga pria menjadi lebih rentan mengalami osteoporosis.
Meski demikian, kondisi ini bukan tanpa solusi. Gaya hidup sehat menjadi kunci utama dalam mengelola puber kedua. Olahraga rutin, terutama latihan beban, dapat membantu menjaga massa otot dan keseimbangan hormon.
Pola makan seimbang, tidur cukup, serta kemampuan mengelola stres juga berperan penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Dalam beberapa kasus, terapi hormon seperti testosterone replacement therapy atau TRT dapat menjadi pilihan. Namun, terapi ini harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis karena memiliki risiko tertentu.
Mengenali tanda-tanda puber kedua sejak dini dapat membantu pria mengambil langkah tepat untuk menjaga kesehatan tubuh dan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉
Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabar baik bagi penggemar produk Apple di Tanah Air. iPhone 17e yang sebelumnya dirilis secara global pada Maret 2026 kini...
Pemerintah melalui Panitia Seleksi Nasional Sumber Daya Manusia Program Hasil Terbaik Cepat resmi membuka rekrutmen pengelola Koperasi Desa Merah Putih...