Militer AS Resmi Blokade Pelabuhan Iran Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS resmi memulai operasi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini...
Read more
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Hizbullah secara tegas menolak rencana perundingan damai antara Israel dan Lebanon. Pertemuan tersebut rencananya akan berlangsung di Washington DC pada Selasa (14/4) waktu setempat.
Menurut pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, upaya negosiasi tersebut tidak memiliki arti karena situasi di lapangan masih memanas akibat serangan Israel yang terus berlangsung di wilayah Lebanon.
“Israel dengan jelas menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah,” kata Qassem dalam pidatonya yang disiarkan televisi.
Ia menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menghentikan perlawanan. “Kami tidak akan beristirahat, berhenti, atau menyerah. Sebaliknya, kami akan membiarkan medan perang berbicara sendiri,” ujarnya.
Rencana pertemuan antara perwakilan Lebanon dan Israel di Amerika Serikat disebut bertujuan membuka jalan menuju negosiasi damai formal. Namun, menurut Hizbullah, langkah tersebut justru dinilai sebagai bagian dari strategi untuk menekan mereka agar melepaskan senjata.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyatakan bahwa negaranya menginginkan kesepakatan damai jangka panjang.
“Kami menginginkan pelucutan senjata Hizbullah, dan kami menginginkan perjanjian perdamaian sejati yang akan berlangsung selama beberapa generasi,” kata Netanyahu.
Pemerintah Lebanon sendiri berada dalam posisi yang kompleks. Prioritas utama mereka disebut masih berfokus pada upaya menjaga gencatan senjata. Namun, tekanan politik dalam negeri juga meningkat, terutama setelah muncul aksi demonstrasi di ibu kota Beirut.
Para demonstran menilai pemerintah terlalu jauh membuka peluang dialog dengan Israel, sementara serangan militer masih terus terjadi di berbagai wilayah.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam laporan konflik, serangan Israel di Lebanon selatan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, termasuk anak-anak dan tenaga medis. Situasi ini memperkuat penolakan Hizbullah terhadap negosiasi yang dianggap tidak adil.
Selain itu, gencatan senjata yang sebenarnya telah berlaku sejak November 2024 dinilai tidak berjalan efektif. Serangan disebut masih terjadi hampir setiap hari, sehingga memicu ketidakpercayaan terhadap proses diplomasi.
Dalam pernyataan lainnya, Hizbullah juga menyoroti rencana penguatan militer Lebanon oleh pihak luar sebagai bagian dari strategi untuk melemahkan kelompok tersebut.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai masih jauh dari harapan. Dengan kondisi di lapangan yang terus memanas, proses negosiasi berisiko tidak berjalan efektif.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sidang kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook digelar pada Selasa (14/4/2026) di Pengadilan Tipikor Jakarta dan menjadi perhatian publik. Dalam persidangan...
Kebijakan baru terkait perpanjangan STNK tanpa KTP pemilik asli kini resmi berlaku secara nasional. Aturan ini merupakan terobosan yang awalnya...