Krisis Pupuk Global Imbas Perang Iran, Harga Pangan Terancam Naik

Perang Iran ganggu distribusi pupuk global dan berpotensi menaikkan harga pangan. Negara miskin diprediksi paling terdampak krisis ini.

Perang Iran ganggu distribusi pupuk global dan berpotensi menaikkan harga pangan

Konflik yang melibatkan Iran memberikan dampak luas terhadap sektor global, tidak hanya energi tetapi juga pertanian. Salah satu efek paling terasa adalah terganggunya distribusi melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dan bahan baku pupuk.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari berbagai sumber internasional, hampir setengah pasokan urea dunia berasal dari kawasan Teluk. Urea sendiri merupakan jenis pupuk berbasis nitrogen yang paling banyak digunakan dalam pertanian. Selain itu, kawasan ini juga menyumbang sekitar seperlima pasokan gas alam cair global yang menjadi bahan penting dalam produksi pupuk.

Menurut Josh Linville, analis pasar pupuk global dari StoneX, situasi ini bisa berkembang menjadi lebih buruk. “Ini benar-benar hanya satu langkah lagi menuju skenario terburuk,” kata Josh Linville.

Gangguan distribusi membuat sejumlah pabrik pupuk dan LNG di berbagai negara, mulai dari Qatar hingga Bangladesh, terpaksa menghentikan operasinya. Kondisi ini memperparah ketidakpastian pasokan global, terutama jika jalur pelayaran belum sepenuhnya pulih meski ada kesepakatan gencatan senjata sementara.

Dampak Global dan Strategi Mengatasi Krisis Pupuk

Krisis pupuk yang terjadi secara bersamaan dengan gangguan pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga pangan global. Negara-negara berkembang diperkirakan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya karena keterbatasan kemampuan dalam menahan lonjakan harga.

Menurut analisis dari lembaga seperti International Food Policy Research Institute, pemerintah di berbagai negara mulai mencari solusi cepat untuk menstabilkan kondisi pasar. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan cadangan pangan dan pupuk yang dimiliki.

India, misalnya, diketahui memiliki stok beras dan gandum dalam jumlah besar yang bisa digunakan saat pasokan terganggu. Sementara itu, China memiliki cadangan pupuk dalam jumlah signifikan.

Beberapa negara juga memilih memberikan subsidi pupuk untuk meringankan beban petani. Saat krisis pupuk akibat konflik Rusia dan Ukraina pada 2022, India bahkan menaikkan subsidi hingga 233 persen dari anggaran awal.

Namun, kebijakan seperti ini tidak selalu efektif secara global. Ketika suatu negara membatasi ekspor untuk menjaga kebutuhan dalam negeri, negara lain justru mengalami kekurangan pasokan. Situasi ini menciptakan efek domino yang memperburuk krisis.

Di tingkat petani, berbagai strategi mulai diterapkan untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk. Salah satunya adalah beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit nitrogen, seperti kedelai dan tanaman polong-polongan.

Meski demikian, pilihan ini tidak selalu mudah diterapkan. Menurut Joseph Glauber dari International Food Policy Research Institute, kondisi geografis dan iklim menjadi faktor pembatas. “Jika Anda adalah produsen padi di Asia Tenggara, pilihan tanamannya sangat terbatas,” ujarnya.

Alternatif lain adalah meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tanaman hanya menyerap sekitar setengah dari pupuk yang digunakan, sementara sisanya terbuang ke lingkungan.

Teknologi pertanian presisi seperti drone dan kecerdasan buatan mulai digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan pupuk. Namun, biaya tinggi membuat teknologi ini sulit diakses oleh petani kecil di negara berkembang.

Selain itu, inovasi juga mulai dikembangkan untuk memproduksi pupuk secara lebih mandiri. Salah satunya dilakukan oleh perusahaan seperti Pivot Bio yang memanfaatkan mikroba untuk membantu tanaman menyerap nitrogen dari udara.

Meski menjanjikan, solusi ini masih membutuhkan waktu untuk diimplementasikan secara luas. Dalam jangka pendek, stabilisasi pasokan tetap menjadi kebutuhan utama agar krisis tidak semakin meluas.

“Kita kehilangan pasokan dalam jumlah yang sangat besar, pada skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” ujar Josh Linville menegaskan besarnya dampak krisis ini.

Referensi:
Detik

📚 ️Baca Juga Seputar Internasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED