Pakar Nilai Iran Tak Akan Percaya Klaim Trump Soal Perang Hampir Selesai

Pakar hubungan internasional menilai Iran tidak akan percaya klaim Donald Trump yang menyebut perang hampir selesai. Simak analisis lengkapnya. (Foto: White House)

Pakar hubungan internasional menilai Iran tidak akan percaya klaim Donald Trump yang menyebut perang hampir selesai

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa perang melawan Iran hampir selesai memunculkan berbagai tanggapan dari para pengamat hubungan internasional.

Salah satunya datang dari pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah yang menilai Iran kemungkinan besar tidak akan mempercayai pernyataan tersebut.

Menurut Rezasyah, pernyataan Trump lebih mencerminkan upaya politik untuk meningkatkan citra dirinya di mata publik Amerika Serikat.

Menurut Rezasyah, jika dunia internasional menerima narasi bahwa Trump berhasil mengakhiri konflik tersebut, maka hal itu dapat meningkatkan kredibilitas politik Trump di dalam negeri.

“Jika publik internasional menerima ide tersebut, kredibilitas Donald Trump menaik, sekaligus memupus kredibilitas di dalam negerinya yang sedang dipermasalahkan. Dengan demikian, Partai Republik tetap di atas angin dan tidak tergerus pada pemilihan sela bulan November tahun ini,” ujar Rezasyah kepada wartawan.

Namun demikian, Rezasyah menilai pemerintah Iran tidak akan mudah percaya terhadap pernyataan tersebut.

Iran dinilai sulit percaya pada pernyataan Trump

Menurut Rezasyah, hubungan antara Amerika Serikat dan Iran selama ini diwarnai oleh berbagai ketegangan dan pelanggaran kesepakatan.

Ia menilai pengalaman tersebut membuat Iran cenderung tidak mempercayai pernyataan atau janji dari pemerintah Amerika Serikat.

“Bagi Iran, ide Presiden Trump di atas tidak bisa dipercaya. Karena sejak Trump menjadi Presiden, semangat damai Iran telah tiga kali dilanggar oleh Amerika Serikat melalui berbagai aksi pengeboman,” ujar Rezasyah.

Ia juga menyinggung serangan militer yang terjadi pada akhir Februari lalu yang menyebabkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.

Menurut Rezasyah, serangan tersebut dipandang oleh pemerintah dan masyarakat Iran sebagai tindakan serius yang melanggar hukum internasional.

“Terakhir, pengeboman pada 28 Februari lalu telah mensyahidkan Ayatollah Ali Khamenei, yang bagi pemerintah dan masyarakat Iran merupakan sebuah kejahatan luar biasa atas hukum internasional serta kedaulatan dan keutuhan wilayah Iran,” ujarnya.

Rezasyah juga menilai masyarakat Iran telah menilai Trump sebagai pemimpin yang tidak dapat dipercaya dalam hubungan diplomatik internasional.

Ia bahkan memperkirakan bahwa jika dialog antara Amerika Serikat dan Iran benar terjadi, hasilnya belum tentu bertahan lama.

“Kalaupun kedua negara menjalin dialog, apa pun hasilnya akan dibantah oleh Amerika Serikat sendiri. Andaikan Amerika Serikat dan Iran tiba pada sebuah perjanjian yang disepakati, maka Amerika Serikat akan membatalkannya kembali,” ujarnya.

Di sisi lain, Iran saat ini disebut sedang berfokus untuk mempertahankan kedaulatan negaranya di tengah konflik yang masih berlangsung.

Rezasyah menjelaskan bahwa pemerintahan Iran yang kini dipimpin oleh Mojtaba Khamenei berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa negara tersebut tetap mempertahankan kedaulatannya.

Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan prinsip Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa, yang memberikan hak bagi suatu negara untuk mempertahankan diri.

Sementara itu, Trump sebelumnya menyatakan bahwa perang melawan Iran hampir selesai dan bahkan berjalan lebih cepat dari perkiraan awal.

Dalam wawancara telepon dengan CBS News, Trump mengklaim kekuatan militer Iran telah mengalami kerusakan besar akibat serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

“Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya,” kata Trump dalam wawancara tersebut.

Trump juga mengklaim bahwa Iran telah kehilangan sebagian besar kemampuan militernya, termasuk armada laut, komunikasi militer, serta sejumlah fasilitas produksi drone.

Menurut Trump, operasi militer Amerika Serikat yang dinamakan Operation Epic Fury bahkan berhasil menghantam lebih dari tiga ribu target di wilayah Iran pada tahap awal operasi.

Ia juga menyebut bahwa konflik tersebut berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan awal.

“Kita sangat jauh lebih cepat dari jadwal,” ujar Trump.

Meski demikian, berbagai analis menilai situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah masih sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu waktu.

Referensi:
Detik

📚 ️Baca Juga Seputar Internasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED