HP Perlahan Tergeser, Kacamata Pintar Mulai Dilirik Raksasa Teknologi

Kacamata pintar diprediksi menjadi teknologi pengganti smartphone seiring berkembangnya AI dan wearable. (Foto: Pixabay.com)
Kacamata pintar diprediksi menjadi teknologi pengganti smartphone seiring berkembangnya AI dan wearable. (Foto: Pixabay.com)

Kacamata pintar diprediksi menjadi teknologi pengganti smartphone seiring berkembangnya AI dan wearable

Dominasi smartphone yang selama ini menjadi pusat aktivitas digital mulai dipertanyakan. Sejumlah perusahaan teknologi global kini memandang kacamata pintar sebagai perangkat komputasi generasi berikutnya yang berpotensi menggantikan sebagian fungsi handphone.

Pandangan ini bukan sekadar spekulasi. Para pemimpin raksasa teknologi sejak beberapa tahun terakhir telah menyuarakan keyakinan bahwa era ponsel pintar tidak akan berlangsung selamanya. Mark Zuckerberg, CEO Meta, termasuk sosok yang paling vokal mengenai perubahan ini.

Menurut Zuckerberg, kacamata pintar akan menjadi transisi alami berikutnya dalam evolusi teknologi personal. Dalam acara Meta Connect 2024, ia memprediksi bahwa miliaran orang yang saat ini menggunakan kacamata konvensional akan beralih ke kacamata pintar dalam satu dekade ke depan. “Sama seperti semua orang yang beralih ke telepon pintar, saya pikir semua orang yang berkacamata akan segera beralih ke kacamata pintar dalam dekade berikutnya,” kata Zuckerberg.

Prediksi tersebut diperkuat oleh perkembangan teknologi wearable yang kian pesat. Tahun 2026 disebut sebagai momentum penting bagi kebangkitan kacamata pintar, terutama karena perangkat ini mampu menghadirkan interaksi yang lebih natural dengan kecerdasan buatan atau AI, tanpa ketergantungan pada layar sentuh.

Tantangan Teknis Menuju Era Pasca Smartphone

Meski potensinya besar, adopsi kacamata pintar secara massal masih menghadapi tantangan. Menurut Misa Zhu, CEO perusahaan teknologi Rokid, industri kacamata pintar harus menuntaskan apa yang ia sebut sebagai “segitiga mustahil”.

“Tantangan tersebut mencakup keseimbangan antara kualitas tampilan, daya tahan baterai, dan kenyamanan pemakaian,” kata Zhu. Ia menilai, selama tiga aspek tersebut belum bisa disatukan secara optimal, kacamata pintar belum sepenuhnya siap menggantikan peran smartphone.

Zhu memperkirakan terobosan signifikan baru akan tercapai dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan. Jika tantangan itu terpecahkan, kacamata pintar dapat berfungsi sebagai layar besar saat dibutuhkan, asisten AI yang selalu aktif, serta tetap nyaman digunakan seperti kacamata biasa.

Dalam fase transisi, kacamata pintar masih akan berperan sebagai pelengkap. “Mereka mungkin masih menjadi aksesori dalam tiga tahun ke depan, tetapi akan ada perubahan setelah tiga hingga lima tahun, dan sangat mungkin mereka tidak akan lagi menjadi aksesori setelah lima tahun,” jelas Zhu.

Perangkat ini dinilai sangat ideal untuk menjalankan konsep AI aktif, seperti navigasi GPS real-time, notifikasi instan, hingga interaksi singkat dengan asisten AI tanpa harus mengeluarkan ponsel dari saku.

Produk Nyata Mulai Masuk Pasar Global

Pergeseran menuju era pasca-smartphone tidak lagi sebatas wacana. Sejumlah produk komersial kacamata pintar mulai dipasarkan ke publik. Rokid, perusahaan asal China yang telah lebih dari satu dekade mengembangkan teknologi augmented reality, resmi membawa AI Glasses Style ke pasar Amerika Serikat dan Jerman melalui Amazon pada Januari 2026.

Perangkat ini memiliki bobot 38,5 gram dengan baterai 210mAh, kamera 12 megapiksel yang mampu merekam video 3K, serta speaker dan mikrofon terintegrasi. AI Glasses Style mendukung panggilan hingga lima jam dan pemutaran musik hingga enam jam. Kacamata pintar ini juga dibekali ChatGPT 5.2 untuk perintah audio dan visual, serta Microsoft Translator dengan terjemahan offline lebih dari 100 bahasa. Produk tersebut dipasarkan dengan harga US$299 (Rp5.023.300).

Persaingan semakin ketat dengan masuknya Alibaba ke pasar kacamata pintar. Perusahaan yang berbasis di Hangzhou ini mengumumkan Quark AI Glasses, yang dijadwalkan meluncur di China pada akhir 2025. Perangkat ini ditenagai model bahasa besar Qwen dan asisten AI bernama Quark.

Melalui Quark AI Glasses, pengguna dapat melakukan panggilan tanpa tangan, streaming musik, terjemahan bahasa real-time, hingga transkripsi rapat. Kacamata ini juga terintegrasi dengan ekosistem Alibaba, termasuk navigasi, pembayaran Alipay, dan belanja di Taobao.

Masuknya Alibaba menambah daftar pemain besar di kategori kacamata pintar, bersama Meta yang berkolaborasi dengan Ray-Ban, serta produsen China lain seperti Xiaomi. Dalam waktu dekat, Google dan Samsung juga disebut tengah menyiapkan perangkat serupa.

Dengan semakin banyaknya raksasa teknologi terjun ke segmen ini, sinyal pergeseran dari era smartphone ke perangkat wearable berbasis AI kian menguat. Meski ponsel pintar belum akan sepenuhnya ditinggalkan, bentuk teknologi penggantinya kini mulai terlihat jelas.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Gadget

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Gadget Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia gadget — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED