Tren Liburan ke Eropa Bergeser, Wisatawan Kini Pilih Musim yang Lebih Sejuk

Gelombang panas ekstrem di Eropa membuat wisatawan mengubah waktu liburan. Shoulder season kini menjadi pilihan karena cuaca lebih nyaman dan destinasi tidak terlalu padat.

Gelombang panas ekstrem di Eropa membuat wisatawan mengubah waktu liburan

Pola perjalanan wisata ke Eropa mulai mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya musim panas menjadi waktu favorit untuk berlibur, kini semakin banyak wisatawan memilih datang pada shoulder season, yaitu periode di antara musim ramai dan musim sepi.

Perubahan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor sekaligus, mulai dari gelombang panas yang semakin ekstrem, kepadatan pengunjung di destinasi populer, hingga biaya perjalanan yang masih relatif tinggi. Menurut pelaku industri penerbangan, perubahan tersebut juga membuat musim wisata ke Eropa menjadi lebih panjang dibandingkan sebelumnya.

Menurut Peter Carter, Presiden Delta Air Lines, minat masyarakat untuk berkunjung ke Eropa tetap tinggi meski tidak lagi terpusat pada musim panas.

“Masih banyak destinasi di Eropa yang bisa dinikmati sepanjang tahun. Karena itu kami melihat permintaan perjalanan ke Eropa tetap kuat meski di luar musim panas,” kata Peter Carter.

Pernyataan serupa disampaikan Patrick Quayle, Senior Vice President Network Planning United Airlines. Menurutnya, batas antara musim puncak dan shoulder season kini semakin tipis karena semakin banyak wisatawan yang memilih bepergian di luar musim liburan tradisional.

Cuaca Ekstrem dan Fleksibilitas Kerja Ubah Kebiasaan Wisatawan

Perubahan tren perjalanan tidak lepas dari kondisi cuaca di Eropa yang semakin panas. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara di kawasan tersebut mengalami suhu tertinggi dalam sejarah, terutama pada akhir Juni hingga pertengahan musim panas.

Berbagai kota seperti Warsawa dan Roma bahkan harus menyediakan fasilitas pendingin tambahan bagi masyarakat dan wisatawan. Di sisi lain, destinasi populer seperti Barcelona dan Venesia juga menghadapi tekanan akibat lonjakan jumlah wisatawan selama musim panas.

Baca Juga:  Laos: Hidden Gem of Southeast Asia yang Wajib Masuk Bucket List Perjalanan Anda

Kondisi tersebut membuat banyak pelancong mencari waktu kunjungan yang menawarkan suhu lebih nyaman dan suasana yang tidak terlalu padat.

Selain faktor cuaca, perubahan pola kerja juga ikut mendorong tren baru ini. Semakin banyak perusahaan menerapkan sistem kerja fleksibel sehingga pekerja tidak lagi harus mengambil cuti pada musim liburan sekolah.

Kelompok Baby Boomers yang telah memasuki masa pensiun juga memiliki keleluasaan menentukan jadwal perjalanan sepanjang tahun tanpa terikat kalender akademik.

Fenomena tersebut ikut memengaruhi strategi maskapai penerbangan. Delta Air Lines mulai mengatur jadwal perawatan armada pada musim panas agar lebih banyak pesawat siap melayani penerbangan pada musim gugur, ketika permintaan perjalanan tetap tinggi.

Menurut data dari Kayak, harga tiket pesawat menuju Eropa memang masih lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi kenaikannya mulai melambat. Sebagai contoh, tiket pulang pergi Amerika Serikat menuju Athena pada akhir Juni berada di kisaran US$988 (sekitar Rp16,1 juta, asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS). Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$810 (sekitar Rp13,2 juta), namun lebih rendah dibandingkan dua bulan sebelumnya yang sempat menyentuh US$1.350 (sekitar Rp22 juta).

Shoulder Season Jadi Peluang Baru Industri Pariwisata

Perubahan perilaku wisatawan turut membuka peluang baru bagi destinasi yang sebelumnya identik dengan musim panas, salah satunya Sisilia di Italia.

Baca Juga:  Amanohashidate: Keajaiban Alam Jepang yang Disebut ‘Jembatan ke Surga’

Menurut Patrick Quayle, wilayah tersebut kini mulai menarik lebih banyak wisatawan pada musim gugur hingga awal musim dingin. Selain cuaca yang lebih bersahabat, wisatawan juga dapat menikmati tarif hotel yang lebih terjangkau dan objek wisata yang tidak terlalu padat.

General Manager Four Seasons San Domenico Palace di Taormina, Imelda Shllaku, mengatakan pemesanan kamar dari wisatawan Amerika pada bulan Maret, April, Oktober, hingga November terus meningkat dalam empat tahun terakhir.

Sementara itu, pengamat industri penerbangan Brett Snyder menilai maskapai kini memiliki peluang memaksimalkan penggunaan pesawat berbadan lebar sepanjang tahun sehingga investasi armada menjadi lebih efisien.

Menurut UN Tourism, perubahan preferensi wisatawan akibat cuaca, biaya perjalanan, dan fleksibilitas gaya hidup merupakan salah satu faktor yang membentuk tren pariwisata global beberapa tahun terakhir. Wisatawan kini tidak hanya mengejar cuaca terbaik, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan, harga, dan kualitas pengalaman selama perjalanan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa shoulder season semakin berkembang menjadi periode favorit bagi banyak pelancong. Selain memperoleh harga yang lebih kompetitif, wisatawan juga dapat menikmati destinasi dengan suasana yang lebih tenang dan cuaca yang lebih nyaman dibandingkan saat puncak musim panas.

Referensi:
Detik Travel

📚 ️Baca Juga Seputar Travel

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Travel Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia travel — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED