Reza Pahlavi, Tokoh Oposisi yang Didukung Massa Demonstran Iran

Reza Pahlavi kembali mencuri perhatian setelah menyerukan rakyat Iran merebut kota dan menggulingkan rezim Ayatollah Khamenei. (Foto: X)
Reza Pahlavi kembali mencuri perhatian setelah menyerukan rakyat Iran merebut kota dan menggulingkan rezim Ayatollah Khamenei. (Foto: X)

Reza Pahlavi kembali mencuri perhatian setelah menyerukan rakyat Iran merebut kota dan menggulingkan rezim Ayatollah Khamenei

Pemimpin oposisi Iran Reza Pahlavi kembali menjadi sorotan internasional setelah secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei. Dalam sejumlah pernyataan video yang direkam dari Amerika Serikat, Pahlavi meminta warga tidak hanya turun ke jalan, tetapi juga mulai merebut pusat-pusat kota sebagai bagian dari apa yang ia sebut sebagai revolusi nasional.

Menurut Reza Pahlavi, fase perlawanan rakyat Iran kini telah berubah. Aksi demonstrasi tidak lagi dimaknai sekadar sebagai bentuk protes, melainkan sebagai langkah menuju kemenangan politik. Ia menilai kondisi sosial dan politik di Iran sudah mencapai titik krusial, sehingga rakyat harus bersiap mengambil alih ruang-ruang strategis di berbagai wilayah.

Dalam unggahan lanjutan pada Senin (12/1), Pahlavi juga mengeluarkan pernyataan keras kepada aparat keamanan. Ia menyerukan agar militer dan polisi memilih berpihak kepada rakyat. Jika tetap setia kepada rezim, aparat disebutnya akan menjadi target yang sah dalam konflik yang kian memanas. Seruan ini memperlihatkan eskalasi pesan politik Pahlavi yang semakin tegas terhadap struktur kekuasaan di Teheran.

Selain itu, Pahlavi mendesak seluruh perwakilan diplomatik Iran di luar negeri untuk mengganti bendera nasional yang digunakan saat ini dengan bendera sebelum Revolusi Iran 1979. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan Iran sudah dekat dan menyebut bantuan internasional akan segera datang seiring meningkatnya perhatian global terhadap situasi di negara tersebut.

Profil Reza Pahlavi dan Latar Belakang Politik

Reza Pahlavi merupakan Putra Mahkota terakhir Kerajaan Iran sekaligus Kepala Dinasti Pahlavi yang kini hidup di pengasingan. Ia lahir pada 31 Oktober 1960 dan secara resmi dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967, saat ayahnya Mohammad Reza Pahlavi masih berkuasa sebagai Shah Iran.

Pada 1978, ketika berusia 17 tahun, Pahlavi berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan pilot di Pangkalan Angkatan Udara Reese, Lubbock, Texas. Setahun kemudian, kekuasaan ayahnya runtuh akibat pemberontakan Islamis yang berujung pada berdirinya pemerintahan teokrasi di bawah kepemimpinan ulama Syiah.

Setelah digulingkan, Mohammad Reza Pahlavi berpindah-pindah negara untuk mencari suaka hingga akhirnya meninggal dunia akibat kanker di Mesir. Sejak saat itu, Reza Pahlavi secara simbolik mengambil peran sebagai Shah Iran di pengasingan. Ia menetap di Amerika Serikat, menempuh pendidikan ilmu politik, menikah dengan Yasmine Etemad-Amini, dan dikaruniai tiga putri.

Berdasarkan laporan media internasional, Pahlavi sempat melakukan kunjungan ke Israel pada April 2023. Lawatan tersebut disebut sebagai upaya membangun kembali hubungan historis antara Iran dan Israel. Dalam kunjungan itu, Pahlavi menghadiri upacara Hari Peringatan Holocaust, mengunjungi Tembok Barat, serta bertemu Presiden Israel Isaac Herzog dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED