TV Makin Murah dan Canggih, Begini Alasan Harga Terus Merosot

Harga TV turun lebih dari 90 persen sejak 2000 berkat efisiensi produksi, teknologi LCD, dan persaingan produsen global. (Foto: Kompas.com/Lely Maulida)
Harga TV turun lebih dari 90 persen sejak 2000 berkat efisiensi produksi, teknologi LCD, dan persaingan produsen global. (Foto: Kompas.com/Lely Maulida)

Harga TV turun lebih dari 90 persen sejak 2000 berkat efisiensi produksi, teknologi LCD, dan persaingan produsen global

Harga televisi atau TV mengalami penurunan yang sangat tajam dalam lebih dari dua dekade terakhir. Sejak awal tahun 2000, harga TV dilaporkan telah turun lebih dari 90 persen, meskipun ukuran layar semakin besar dan kualitas gambar terus meningkat. Fenomena ini menjadi salah satu contoh paling mencolok bagaimana inovasi teknologi dan skala industri mampu mengubah struktur harga produk elektronik konsumen.

Menurut analisis Brian Potter dari Institute for Progress, penurunan harga TV bahkan berlangsung lebih cepat dibandingkan perangkat elektronik lain. Berdasarkan peninjauan iklan Black Friday selama sekitar 20 tahun terakhir, TV layar besar yang pada tahun 2000 dijual dengan harga sekitar USD 1.000 (sekitar Rp 15 jutaan) kini dapat ditemukan dengan harga USD 200 (sekitar Rp 3 jutaan), tanpa mengorbankan kualitas.

Menariknya, penurunan harga tersebut terjadi bersamaan dengan peningkatan spesifikasi. TV modern kini menawarkan layar lebih lebar, resolusi lebih tinggi, serta fitur visual yang jauh melampaui standar dua dekade lalu. Hal ini menegaskan bahwa murahnya harga TV bukan disebabkan oleh penurunan mutu, melainkan oleh perubahan mendasar dalam proses produksi.

Brian Potter menjelaskan bahwa produsen TV secara konsisten mengoptimalkan teknologi manufaktur layar liquid crystal display atau LCD. Inovasi ini memungkinkan pemangkasan biaya produksi secara signifikan dari waktu ke waktu.

Efisiensi Manufaktur dan Persaingan Global

TV menjadi kasus unik dibandingkan produk manufaktur lain seperti mobil, furnitur, pakaian, atau komputer. Meski produk-produk tersebut juga mengalami efisiensi, penurunan harga TV berlangsung jauh lebih ekstrem. Salah satu kuncinya adalah adopsi prinsip industri semikonduktor, terutama dalam hal produksi skala besar.

Produsen LCD memperbesar ukuran kaca dasar yang digunakan dalam proses produksi hingga hampir 100 kali lipat dibandingkan era 1990-an. Pendekatan ini mirip dengan peningkatan ukuran wafer pada industri chip, yang memungkinkan lebih banyak produk dihasilkan dalam satu siklus produksi. Dampaknya, biaya per unit TV dapat ditekan secara drastis.

Selain itu, berbagai faktor lain turut berkontribusi, seperti peningkatan otomatisasi pabrik, penggunaan ruang bersih yang lebih modern, kualitas kaca yang lebih baik, serta teknik injeksi kristal cair yang lebih efisien. Lonjakan permintaan layar LCD dari perangkat lain seperti PC, ponsel pintar, dan tablet juga mendorong pembangunan pabrik raksasa yang mampu memproduksi lebih dari satu juta layar per hari.

Persaingan ketat antarprodusen semakin mempercepat tren penurunan harga. Merek-merek mapan seperti Sony, LG, dan Samsung kini menghadapi tekanan serius dari produsen asal China, terutama Hisense dan TCL. Kedua merek tersebut tidak lagi hanya dikenal sebagai pemain kelas bawah, tetapi mulai mendominasi segmen menengah hingga premium.

Hisense, yang didukung subsidi pemerintah dan rantai pasok lokal yang kuat, meluncurkan TV Mini LED RGB dengan tingkat kecerahan hingga 10.000 nits, menetapkan standar baru dalam akurasi warna. Sementara itu, TCL memperkenalkan lini Super QLED di ajang CES 2026, termasuk teknologi SQD-Mini LED dengan klaim cakupan warna 100 persen Rec.2020 dan hingga 20.000 zona peredupan.

Inovasi tersebut membuat TCL bahkan melampaui Samsung dan LG dalam penjualan TV kelas atas di beberapa pasar global. Di sisi konsumen, kondisi ini menciptakan lebih banyak pilihan TV berkualitas tinggi dengan harga yang semakin terjangkau.

Namun, tren penurunan harga ini tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Faktor eksternal seperti tarif perdagangan global dan meningkatnya permintaan kecerdasan artifisial mulai memengaruhi harga komponen elektronik. Meski TV tidak membutuhkan memori sebanyak ponsel pintar atau PC, Samsung memperingatkan bahwa kekurangan chip memori akibat lonjakan kebutuhan pusat data AI berpotensi mendorong kenaikan harga TV dalam waktu dekat.

Analis memperkirakan harga modul memori bisa naik hingga 50 persen pada kuartal berjalan, yang kemungkinan besar akan lebih dulu berdampak pada TV kelas murah. Situasi ini menunjukkan bahwa meski inovasi teknologi telah membuat TV semakin terjangkau, dinamika pasokan global tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan ke depan.

Referensi: Detik

📚 ️Baca Juga Seputar Gadget

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Gadget Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia gadget — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED