Trump Ancam Hancurkan Iran Jika Serangan Terhadap Dirinya Terjadi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras kepada Iran di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Melalui akun...
Read more
Pemerintah Amerika Serikat kembali memperluas kebijakan sanksi terhadap Iran dengan menargetkan Ali Ansari, seorang bankir dan pengusaha Iran yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Selain Ansari, sebanyak 13 individu dan entitas lain juga dikenai pembatasan karena diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan keuangan yang disebut menguntungkan Mojtaba Khamenei, elite Iran, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Langkah tersebut diumumkan setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Situasi memanas menyusul rangkaian serangan yang melibatkan kedua negara dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Menurut Departemen Keuangan Amerika Serikat, Ali Ansari diduga memanfaatkan jaringan perusahaan cangkang dan rekening bank di berbagai yurisdiksi untuk mengelola aset bernilai jutaan dolar Amerika Serikat melalui perusahaan induk Smart Global Limited yang berbasis di Saint Kitts dan Nevis.
Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa meskipun sejumlah aset tercatat atas nama Ansari, manfaat ekonominya diduga mengalir kepada Mojtaba Khamenei, keluarganya, sejumlah elite Iran, serta IRGC.
“Meskipun atas nama Ansari, banyak kepentingan keuangan tersebut pada akhirnya dipegang untuk keuntungan finansial Mojtaba Khamenei, keluarganya, elite Iran lainnya, dan IRGC,” demikian pernyataan Departemen Keuangan Amerika Serikat.
Menurut data pemerintah Amerika Serikat, Ansari sebelumnya merupakan pemilik dan direktur Bank Ayandeh, lembaga keuangan yang telah lebih dahulu dikenai sanksi oleh Washington sebelum akhirnya ditutup pemerintah Iran pada Oktober 2025.
Selain individu, Office of Foreign Assets Control (OFAC) juga menjatuhkan sanksi kepada tiga perusahaan pertukaran mata uang di Iran, sejumlah warga negara Iran, CDM Trading Limited yang berbasis di Hong Kong, serta Naba Alzaki Raw Materials Trading LLC yang beroperasi di Uni Emirat Arab.
Pemerintah Amerika Serikat menilai perusahaan-perusahaan tersebut diduga membantu memindahkan dana dalam jumlah besar atas nama bank-bank Iran yang telah lebih dahulu dikenai sanksi dengan menggunakan jaringan perusahaan cangkang untuk menyamarkan aktivitas keuangan.
Menurut Tommy Pigott, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, kebijakan terbaru ini bertujuan memutus jalur pendanaan yang selama ini menopang elite penguasa Iran.
“Amerika Serikat mengambil tindakan tegas untuk memutus jalur keuangan yang menopang elit penguasa Iran,” kata Tommy Pigott.
Melalui sanksi tersebut, pemerintah Amerika Serikat berharap kemampuan jaringan yang ditargetkan untuk mengakses mata uang asing dan melakukan transaksi keuangan internasional dapat dibatasi. Hingga pengumuman ini disampaikan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait kebijakan sanksi terbaru tersebut.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Memasuki tahun ajaran baru, banyak orang tua mulai mempertimbangkan apakah anak sudah siap masuk taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Selama...
Cara Generasi Z mencari pekerjaan terus berubah seiring perkembangan media sosial. Jika selama bertahun-tahun LinkedIn dikenal sebagai platform utama untuk...