Krisis Pupuk Global Imbas Perang Iran, Harga Pangan Terancam Naik
Konflik yang melibatkan Iran memberikan dampak luas terhadap sektor global, tidak hanya energi tetapi juga pertanian. Salah satu efek paling...
Read more
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung hampir satu bulan memunculkan fakta yang cukup mengejutkan. Alih-alih lebih banyak menyerang Israel atau AS, Iran justru lebih sering menargetkan negara-negara Arab di kawasan Teluk.
Berdasarkan data dari lembaga riset berbasis di Washington DC, Stimson Center, mayoritas serangan Iran berupa drone dan rudal justru mengarah ke negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC.
Tercatat sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, sebanyak 4.391 serangan atau sekitar 83 persen diarahkan ke negara-negara Arab. Sementara itu, Israel hanya menjadi target sekitar 930 serangan atau 17 persen dari total serangan Iran.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai tujuan dan strategi militer Iran dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia tersebut.
Menurut analis kawasan dari Council for Arab British Understanding, Chris Doyle, serangan Iran sebenarnya ditujukan untuk menargetkan aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Meski mengklaim hanya menargetkan lokasi yang terkait dengan pasukan AS, sangat jelas bahwa Iran juga menyerang infrastruktur sipil,” kata Chris Doyle.
Negara-negara Arab menjadi sasaran karena mereka menjadi lokasi berbagai pangkalan militer AS. Dengan demikian, Iran berupaya menyerang kepentingan AS tanpa harus langsung menghadapi kekuatan utama Amerika atau Israel.
Namun, dampaknya justru dirasakan langsung oleh negara-negara Arab. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Arab News, Uni Emirat Arab menjadi negara yang paling terdampak, dengan lebih dari 2.000 serangan. Bahkan, korban jiwa dilaporkan akibat puing rudal yang jatuh.
Selain itu, Arab Saudi juga mengalami ratusan serangan yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka. Meski sebagian besar rudal berhasil dicegat, intensitas serangan ini menjadi ujian besar bagi sistem pertahanan udara di kawasan tersebut.
Menurut Doyle, langkah Iran ini merupakan bagian dari strategi memperluas medan konflik.
“Iran membuka front militer yang luas untuk memaksa AS dan sekutunya mempertahankan banyak titik sekaligus dan meningkatkan biaya perang,” jelasnya.
Strategi ini diharapkan dapat menekan Amerika Serikat agar segera mencari jalan keluar diplomatik dan kembali ke meja perundingan.
Sementara itu, analis dari New Lines Institute, Caroline Rose, menilai langkah Iran juga bertujuan menggoyahkan stabilitas kawasan.
“Strategi ini didasarkan pada asumsi bahwa negara-negara Teluk akan menekan AS untuk menghentikan konflik dan menjauh dari Israel,” kata Caroline Rose.
Namun, strategi tersebut dinilai berisiko berbalik merugikan Iran. Beberapa negara Arab justru mulai membuka peluang lebih besar bagi keterlibatan militer AS di wilayah mereka, bahkan mempertimbangkan ikut terlibat dalam konflik.
Situasi ini memperlihatkan bahwa negara-negara Arab menjadi pihak yang paling terdampak dalam konflik yang sebenarnya tidak mereka mulai. Selain kerugian material, ketegangan geopolitik di kawasan juga semakin meningkat akibat serangan yang menyasar infrastruktur vital dan sipil.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Bea Cukai Sidoarjo melakukan pemusnahan rokok ilegal dengan nilai mencapai Rp5,9 miliar sebagai bagian dari upaya penegakan hukum di bidang...
Kecelakaan tunggal terjadi di Dusun Medain, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat pada Jumat (10/4/2026), melibatkan sebuah mobil...