Sering Lemas dan Tidak Bertenaga? Ini Bisa Jadi Tanda pH Darah Tidak Seimbang

Ketidakseimbangan pH darah dapat menyebabkan kelelahan dan kram otot. Kenali tanda-tandanya dan cara tubuh menjaga keseimbangannya. (FFoto: Freepik)

Ketidakseimbangan pH darah dapat menyebabkan kelelahan dan kram otot

Tubuh terasa lelah meski sudah cukup tidur, otot sering kejang, dan kepala terasa berat bisa jadi bukan sekadar efek stres atau kurang istirahat. Menurut sejumlah dokter di Singapura, kondisi tersebut bisa mengindikasikan adanya ketidakseimbangan pH darah, yang memengaruhi cara sel-sel tubuh bekerja dan menghasilkan energi.

Kisah seorang pensiunan guru berusia 70 tahun di SingHealth Polyclinics menggambarkan hal ini. Ia merasa tidak bertenaga selama berbulan-bulan dan mengira hal itu wajar karena faktor usia. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan kadar bikarbonat dalam darahnya meningkat, tanda metabolic alkalosis atau kondisi ketika darah terlalu basa.

Menurut Associate Consultant Dr Patricia Chia dari SingHealth Polyclinics, perubahan tersebut terjadi setelah pasien mengonsumsi obat diuretik untuk mengendalikan tekanan darah tinggi, bersamaan dengan penggunaan steroid jangka panjang untuk eksim. “Pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan bikarbonat, indikator utama bahwa darah menjadi terlalu alkali,” kata Dr Chia.


Apa Itu pH Darah dan Mengapa Penting?

Secara alami, pH darah manusia berada di rentang 7,35 hingga 7,45, sedikit bersifat basa. Menurut Dr Chia, tubuh harus menjaga keseimbangan ini secara ketat karena penyimpangan kecil saja bisa memengaruhi fungsi sel dan organ vital.

Perlu dicatat bahwa pH darah berbeda dengan pH organ tubuh lainnya. Misalnya, lambung bersifat sangat asam untuk mencerna makanan, sedangkan vagina memiliki pH sedikit asam untuk mencegah infeksi bakteri. “Perbedaan pH antarorgan ini normal dan tidak mencerminkan pH darah,” jelas Dr Chia.

Berdasarkan data medis, bila darah menjadi terlalu asam (acidosis) atau terlalu basa (alkalosis), sistem tubuh akan berupaya menyesuaikan dengan melibatkan organ seperti paru-paru, ginjal, dan lambung.


Bagaimana Tubuh Menjaga Keseimbangan pH Darah?

Tubuh memiliki sistem pertahanan alami untuk mencegah perubahan pH ekstrem. Menurut Dr Jasmin Koh dari Doctor Anywhere, lambung, paru-paru, dan ginjal memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ini.

“Asam lambung yang kuat akan menetralkan zat alkali sebelum masuk ke aliran darah,” kata Dr Koh. Ginjal kemudian berfungsi menyaring darah dan menyesuaikan kadar asam-basa sesuai kebutuhan tubuh. “Ginjal dapat mengeluarkan kelebihan asam atau bikarbonat melalui urin, atau menyerapnya kembali ke dalam darah,” tambahnya.

Paru-paru juga berperan dalam menjaga keseimbangan pH dengan mengatur kadar karbon dioksida. “Ketika darah menjadi terlalu asam, otak memberi sinyal pada paru-paru untuk bernapas lebih cepat dan dalam guna mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida,” ujar Dr Koh. Proses ini membantu mengurangi kadar asam dalam darah.


Jenis Ketidakseimbangan pH Darah dan Gejalanya

Secara umum, gangguan pH darah terbagi menjadi dua kategori besar: acidosis (darah terlalu asam) dan alkalosis (darah terlalu basa).

Acidosis dapat dibedakan menjadi:

  • Lactic acidosis, akibat aktivitas fisik berat yang meningkatkan asam laktat.

  • Diabetic ketoacidosis, komplikasi diabetes yang menyebabkan darah bersifat asam karena kelebihan keton.

  • Renal tubular acidosis, akibat gangguan fungsi ginjal dalam membuang asam.

  • Respiratory acidosis, ketika paru-paru tidak mampu mengeluarkan cukup karbon dioksida, sering terjadi pada penderita asma atau sleep apnea.

Alkalosis, di sisi lain, biasanya disebabkan oleh:

  • Metabolic alkalosis, akibat kelebihan bikarbonat dari muntah berlebihan, dehidrasi, atau penggunaan diuretik.

  • Respiratory alkalosis, yang terjadi saat seseorang bernapas terlalu cepat (hiperventilasi) karena stres, demam, atau berada di dataran tinggi.

Gejala kedua kondisi ini sering kali tidak spesifik. Menurut Dr Koh, acidosis bisa menyebabkan kelelahan berat, kebingungan, napas cepat, dan sakit kepala. Sementara alkalosis bisa menimbulkan kram otot, kesemutan di tangan atau wajah, pusing, dan rasa gelisah.

Namun, gejala baru akan terasa bila kondisi sudah cukup parah. Karena itu, diagnosis medis yang akurat sangat penting sebelum menentukan penyebab pasti.


Penyebab Lain Ketidakseimbangan pH Darah

Obat diuretik adalah penyebab paling umum alkalosis, terutama pada lansia dengan tekanan darah tinggi. “Obat ini membantu mengeluarkan kelebihan air dan garam, tapi juga membuang ion hidrogen yang penting untuk menjaga pH darah,” jelas Dr Chia.

Selain itu, aktivitas fisik berat dapat memicu lactic acidosis karena otot menghasilkan asam laktat dalam jumlah tinggi. Kondisi ini biasanya bersifat sementara dan akan pulih setelah tubuh beristirahat.

Ketidakseimbangan juga dapat terjadi akibat muntah berkepanjangan, diare berat, keracunan makanan, atau kehamilan dengan mual ekstrem (hyperemesis gravidarum). Dr Chia menambahkan bahwa kekurangan cairan akibat dehidrasi memperparah gangguan pH darah.

Bagi mereka yang bepergian ke daerah pegunungan atau tempat dengan ketinggian tinggi, perubahan kadar oksigen dapat menyebabkan gangguan pernapasan sementara yang turut memengaruhi pH darah.


Dampak Bila Diabaikan

Menurut Dr Koh, acidosis dapat mengganggu sistem saraf pusat dan menyebabkan kehilangan kesadaran hingga koma. Selain itu, kadar asam berlebih dapat mengganggu irama jantung, menurunkan fungsi pompa jantung, dan memperburuk kondisi pasien dengan penyakit jantung.

Dr Chia menambahkan bahwa tubuh bisa mengambil mineral dari tulang untuk menetralkan keasaman darah. “Akibatnya, tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Ketidakseimbangan garam dan mineral juga bisa menimbulkan kram, kebingungan, hingga kejang,” jelasnya.

Sebaliknya, alkalosis yang dibiarkan dapat memicu kejang otot dan gangguan saraf serius. “Baik acidosis maupun alkalosis, jika tidak segera ditangani, bisa mengancam nyawa karena mengganggu fungsi berbagai organ,” kata Dr Koh.


Cara Mendeteksi dan Mengatasinya

Untuk memeriksa pH darah, dokter biasanya menggunakan tes Arterial Blood Gas (ABG) yang mengukur kadar oksigen, karbon dioksida, dan pH darah. Namun, menurut Dr Chia, “Pemeriksaan sederhana seperti tes fungsi ginjal dan kadar bikarbonat sudah cukup untuk mendeteksi kemungkinan gangguan pH darah.”

Perawatan disesuaikan dengan penyebabnya. Jika disebabkan oleh dehidrasi akibat diare, pasien cukup mendapatkan cairan dan pengobatan anti-diare. Jika akibat obat tertentu, dokter akan menyesuaikan dosis atau mengganti jenis obat.

Dr Koh menegaskan bahwa waktu pemulihan bervariasi tergantung tingkat keparahan. “Ketidakseimbangan berat bisa stabil dalam hitungan jam di rumah sakit, sedangkan kasus ringan memerlukan pemantauan jangka panjang,” ujarnya.


Mitos Alkaline Water dan Diet Basa

Banyak yang percaya air alkali atau diet basa dapat membantu menyeimbangkan pH darah. Namun menurut Dr Koh, hal itu tidak benar. “Tubuh secara alami mempertahankan pH darah yang sangat stabil. Air atau makanan alkali tidak berpengaruh signifikan,” katanya.

Dr Chia juga menambahkan bahwa lambung akan menetralkan semua zat yang dikonsumsi. “Begitu air alkali masuk ke perut, asam lambung akan menyesuaikan pH agar proses pencernaan tetap optimal,” jelasnya.

Karena itu, pola makan seimbang dan hidrasi cukup tetap menjadi cara terbaik menjaga keseimbangan tubuh, bukan dengan membeli dispenser air alkali yang mahal.

Referensi: CNA Lifestyle

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED