Kronologi Lengkap Bocah Tewas di Rohil, Polisi Lakukan Penyelidikan Intensif
Kasus tragis menimpa seorang bocah perempuan berusia 4 tahun di Kecamatan Balai Jaya, Kabupaten Rokan Hilir. Korban meninggal dunia setelah...
Read more
Densus 88 Antiteror Polri menangkap lima orang yang diduga terlibat dalam perekrutan anak-anak dan pelajar untuk masuk ke dalam jaringan terorisme. Penangkapan ini mengungkap pola rekrutmen baru yang berjalan masif melalui ruang digital, mulai dari media sosial, game online, hingga aplikasi perpesanan.
Menurut Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, salah satu tersangka merupakan pemain lama yang sebelumnya pernah ditindak hukum namun kembali melakukan perekrutan setelah bebas.
“Dalam penegakan hukum ini, dua kategori ini ada ya. Pertama, pemain lama yang juga mencoba merekrut anak-anak kembali ya, dia sudah menjalani proses hukum, kemudian setelah lepas dia coba lagi merekrut beberapa anak,” kata Mayndra dalam konferensi pers, Selasa 18 November.
Lima tersangka yang ditangkap berasal dari berbagai daerah yang berbeda, yaitu FW alias YT (47) asal Medan, LM (23) asal Banggai, PP alias BMS (37) asal Sleman, MSPO (18) asal Tegal, dan JJS alias BS (19) asal Agam.
Namun, Mayndra tidak mengungkap identitas spesifik pelaku pemain lama tersebut. Ia hanya menyebut bahwa tersangka terafiliasi dengan jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau kelompok Ansharut Daulah.
“Jadi untuk pemain lama yang ditangkap pertama kali oleh Densus 88, diketahui jaringannya berasal dari jaringan ISIS atau Ansharut Daulah,” ujarnya.
Dalam pemeriksaan, Densus 88 menemukan adanya rencana aksi teror yang menargetkan Gedung DPR RI. Meski demikian, Mayndra tidak merinci siapa tersangka yang mempersiapkan rencana tersebut maupun detail skenario aksi.
“Yang terakhir kemarin kami temukan, salah satu dari pelaku ini juga berkeinginan untuk melakukan aksi di Gedung DPR RI. Nah ini yang membuat harus segera dilakukan penegakan hukum,” tutur Mayndra.
Densus 88 juga mengungkap meningkatnya propaganda dan penyebaran doktrin radikalisme yang menyasar pelajar dan anak di bawah umur melalui internet. Proses rekrutmen berjalan secara tertutup dan intensif, menggunakan platform digital yang sulit dipantau.
Berdasarkan data dari Densus 88, terdapat 110 anak yang merencanakan aksi teror di berbagai wilayah sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
“Jadi artinya kita bisa sama-sama menyimpulkan bahwa ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring,” kata Mayndra.
Temuan ini disebut sebagai sinyal serius bahwa upaya deradikalisasi dan literasi keamanan digital harus diperkuat, terutama di lingkungan pendidikan dan keluarga.
Referensi: CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat memiliki dua opsi utama dalam menghadapi konflik dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan setelah...
Situasi di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan setelah laporan resmi menyebut adanya pelanggaran gencatan senjata sepanjang April 2026. Data ini...