Mengapa Anak Perlu Menegaskan Diri Meski Terlihat Membantah?

Pakar menjelaskan pentingnya anak berani bersuara demi kesehatan mental dan kepercayaan diri, serta bagaimana orangtua bisa mengarahkan tanpa memaksa kepatuhan. (Foto: Halodoc)

Pakar menjelaskan pentingnya anak berani bersuara demi kesehatan mental dan kepercayaan diri, serta bagaimana orangtua bisa mengarahkan tanpa memaksa kepatuhan

Anak Bersuara Tanda Sehat Mental Menurut Pakar

Sebagian orangtua kerap menilai perilaku anak yang menyatakan ketidaksetujuan sebagai sikap membantah. Namun menurut pakar parenting Reem Raouda, kemampuan anak untuk bersuara merupakan indikator penting dari perkembangan mental yang sehat. Ia menilai bahwa anak perlu diberi ruang untuk menegaskan diri, meskipun terkadang cara penyampaiannya belum ideal.

Menurut Raouda, advokasi diri adalah keterampilan dasar yang membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Ketika orangtua memberi kesempatan bagi anak untuk menyampaikan perasaan, hal tersebut membangun landasan harga diri yang kuat dan membantu mereka memahami kebutuhan serta batasannya sendiri. Ia menegaskan bahwa martabat anak—mulai dari pikiran hingga perasaannya—lebih penting daripada sekadar kepatuhan.

Pandangan serupa disampaikan juga oleh figur publik Dax Shepard. Dalam salah satu episode podcastnya, ia mengungkapkan bagaimana kedua putrinya ia dorong untuk berpendapat kepada orang dewasa, termasuk dirinya. Meskipun ada orang yang menganggap hal tersebut sebagai perilaku kasar, ia menilai keberanian anak untuk membela diri merupakan bekal penting ketika mereka menghadapi situasi menantang di masa depan.

Perbedaan Bersuara dan Bersikap Tidak Sopan

Raouda menjelaskan bahwa orangtua sebaiknya meninjau kembali definisi mengenai ketidaksopanan. Bagi sebagian keluarga, anak yang menyampaikan keberatan bisa langsung dianggap tidak hormat, padahal menegaskan diri tidak selalu identik dengan perilaku buruk. Bagi banyak anak, ini merupakan bagian dari proses belajar memahami emosi dan cara menyampaikannya secara tepat.

Menurutnya, anak yang tidak diberi ruang untuk berbicara berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang terlalu berfokus pada kebahagiaan orang lain, sehingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Pola ini dapat berujung pada kecemasan atau kelelahan emosional ketika dewasa. Karena itu, memberi kesempatan anak untuk menyampaikan perasaannya dapat menjadi langkah pencegahan jangka panjang.

Meski begitu, Raouda mengakui bahwa terdapat garis tipis antara advokasi diri dan sikap yang mengabaikan perasaan orang lain. Kuncinya adalah mengajarkan anak tentang kesadaran emosional dan empati, yang keduanya perlu ditanamkan sejak dini melalui contoh nyata dari orangtua. Anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan sekadar dari apa yang mereka dengar.

Orangtua dapat memulai dengan kebiasaan sederhana seperti berbicara jujur mengenai perasaan mereka, misalnya menggunakan ungkapan seperti “saya senang” atau “saya sedang kesal”. Ini membantu anak memahami bagaimana cara menggambarkan emosi, yang kemudian menjadi dasar untuk belajar mengelola reaksi dan menegaskan diri secara sehat.

Menumbuhkan Empati dan Sikap Hormat Sejak Kecil

Raouda menekankan pentingnya memberi teladan empati melalui interaksi sehari-hari. Ketika orangtua menunjukkan perhatian, kelembutan, dan kesabaran terhadap anak maupun orang lain, anak secara natural akan meniru perilaku tersebut. Sikap ini sekaligus menumbuhkan pola pikir bahwa rasa hormat berawal dari perasaan dihargai.

Ia juga menyarankan agar orangtua tidak terlalu memaksakan penggunaan kata-kata sopan seperti tolong dan terima kasih. Mengajarkan sopan santun melalui contoh nyata dinilai jauh lebih efektif dibandingkan memerintah anak untuk mengucapkannya. Menurutnya, anak yang merasa dihormati akan lebih mudah memahami nilai-nilai moral dan etika sosial.

Selain itu, meminta maaf kepada anak juga menjadi bagian penting dari pembelajaran emosional. Ketika orangtua mengakui kesalahan, anak belajar mengenai tanggung jawab pribadi dan empati terhadap perasaan orang lain. Sikap ini membantu mereka membangun rasa percaya bahwa pendapat dan emosi mereka valid.

Raouda menutup penjelasannya dengan menegaskan pentingnya membesarkan anak yang percaya diri, membumi, dan tidak takut bersuara. Menurutnya, anak yang memahami dirinya akan lebih siap menghadapi lingkungan sosial yang dinamis dan tantangan emosional di masa depan.

Referensi:
Detik
MediaIndonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Parenting

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Parenting Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia parenting — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED