Masker Kain untuk Abu Vulkanik Anak Krakatau, Apakah Benar Cukup?

Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat di sejumlah wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan. Abu yang terbawa angin dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

Sebaran abu dilaporkan mencapai sejumlah wilayah Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan. Kondisi tersebut membuat penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan.

Namun, tidak semua jenis masker memberikan tingkat perlindungan yang sama. Masker kain yang biasa digunakan sehari-hari ternyata belum menjadi pilihan terbaik untuk menghadapi paparan abu vulkanik.

Menurut panduan U.S. Geological Survey atau USGS mengenai perlindungan dari abu vulkanik, bahan seperti buff, bandana, kaus, kerudung, dan sapu tangan yang digunakan untuk menutup hidung dan mulut memiliki kemampuan penyaringan yang lebih rendah dibandingkan masker tertentu. Bahan kain juga cenderung tidak menutup wajah dengan rapat sehingga masih memungkinkan partikel masuk melalui celah.

Penggunaan beberapa lapis kain memang dapat meningkatkan kemampuan penyaringan. Namun, perlindungannya tetap lebih rendah dibandingkan masker yang memang dirancang untuk menyaring partikel udara. USGS juga menyebutkan bahwa membasahi bahan kain tidak membuatnya menjadi lebih efektif dalam menyaring abu vulkanik.

Mengapa abu vulkanik perlu diwaspadai?

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel tersebut berasal dari material vulkanik dan dapat berukuran sangat kecil sehingga berpotensi masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup.

Paparan abu dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan. Kondisi ini perlu menjadi perhatian lebih bagi orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan seperti asma maupun penyakit paru lainnya.

Karena itu, langkah paling aman ketika terjadi hujan abu adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan dan berlindung di dalam bangunan. USGS menyarankan masyarakat menutup pintu dan jendela agar abu tidak mudah masuk ke dalam rumah. Jika harus keluar, penggunaan perlindungan pernapasan dapat membantu mengurangi paparan.

Imbauan serupa juga disampaikan pemerintah daerah di wilayah yang terdampak sebaran abu Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga:  Mandi Air Hangat Setiap Hari, Manfaatnya Nyata tapi Ada Risiko Tersembunyi

BPBD Jawa Barat, misalnya, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker serta kacamata pelindung ketika berada di luar ruangan. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali juga meminta warga mengurangi aktivitas di luar rumah selama hujan abu berlangsung.

“Kurangi aktivitas di luar rumah selama hujan abu berlangsung. Hindari mengemudi jika jarak pandang terganggu,” kata Teten Ali di Bandung.

Sementara itu, Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat mengenai risiko abu vulkanik terhadap kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Allin Hendalin Mahdaniar menyebut abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan kesehatan apabila terhirup atau mengenai mata dan kulit.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan tidak hanya diperlukan untuk saluran pernapasan, tetapi juga mata dan kulit, terutama ketika seseorang harus beraktivitas di luar ruangan.

N95 lebih disarankan saat terpapar abu vulkanik

Jika harus berada di luar ruangan ketika terdapat abu vulkanik di udara, masker N95 menjadi salah satu pilihan perlindungan yang paling disarankan untuk orang dewasa.

USGS menyebut masker bersertifikasi industri yang terpasang dengan baik, seperti N95, sebagai perlindungan pernapasan yang paling efektif bagi orang dewasa. Masker dengan standar setara seperti P2 dan FFP2 juga dapat digunakan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC juga merekomendasikan respirator N95 yang telah mendapatkan persetujuan NIOSH untuk melindungi paru-paru dari abu vulkanik, terutama ketika seseorang harus berada di luar ruangan atau membersihkan endapan abu di dalam rumah.

Yang tidak kalah penting adalah cara pemakaiannya. Masker harus menutup hidung dan mulut dengan rapat tanpa celah besar di sekitar hidung, pipi, dan dagu. Masker yang tidak terpasang dengan baik dapat mengurangi tingkat perlindungan karena partikel abu dapat masuk melalui celah di sisi masker.

USGS juga menjelaskan bahwa kecocokan masker dengan wajah menjadi faktor penting. Jika udara terasa masuk atau keluar melalui bagian tepi masker, posisi masker perlu diperbaiki atau pengguna sebaiknya mencari ukuran dan bentuk masker yang lebih sesuai.

Baca Juga:  Rekomendasi Suplemen Remaja yang Wajib Diketahui Orang Tua

Selain N95, masyarakat dapat mempertimbangkan masker berstandar setara seperti KN95, FFP2, atau P2, selama produk tersebut benar-benar memenuhi standar dan digunakan dengan benar.

Jika N95 atau masker setara tidak tersedia, penggunaan masker kain tetap dapat menjadi pilihan sementara dibandingkan tidak menggunakan perlindungan sama sekali. Namun, masker kain sebaiknya tidak dianggap sebagai perlindungan utama ketika konsentrasi abu di udara meningkat.

Perlindungan juga perlu diperhatikan ketika membersihkan abu yang sudah mengendap. Aktivitas menyapu atau membersihkan permukaan dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan kemudian terhirup.

ANTARA melaporkan bahwa sejumlah daerah telah membagikan masker kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi sebaran abu Gunung Anak Krakatau. Di Cimahi, misalnya, Polres Cimahi membagikan masker kepada pelajar dan mengingatkan pentingnya perlindungan ketika masyarakat tetap harus beraktivitas di tengah paparan abu.

Di Jakarta Pusat, Satpol PP juga membagikan 4.000 masker kepada masyarakat di 44 kelurahan, terutama di lokasi dengan aktivitas dan mobilitas tinggi seperti pasar, stasiun, permukiman, dan sejumlah ruas jalan.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak, pilihan terbaik tetap mengurangi paparan. Jika tidak ada keperluan mendesak, aktivitas di luar ruangan sebaiknya ditunda. Jika harus keluar, gunakan masker N95 atau masker setara yang terpasang rapat, serta pertimbangkan penggunaan kacamata untuk melindungi mata.

Orang dengan asma, penyakit paru, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya juga perlu mendapat perhatian lebih karena paparan abu dapat memperburuk gangguan pernapasan. CDC dan USGS sama-sama menekankan pentingnya mengurangi paparan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika berada di lingkungan berabu.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED