Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Kerugian Maskapai hingga Rp19 Miliar per Hari

Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat maskapai berpotensi rugi hingga Rp19 miliar per hari akibat pembatalan, pengalihan rute dan biaya operasional.

Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat maskapai berpotensi rugi hingga Rp19 miliar per hari akibat pembatalan, pengalihan rute dan biaya operasional

Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya mengganggu perjalanan penumpang, tetapi juga memberikan tekanan besar terhadap industri penerbangan Indonesia. Sebaran abu vulkanik yang mengganggu sejumlah bandara membuat maskapai harus menghadapi pembatalan penerbangan, penundaan, pengalihan rute hingga tambahan biaya operasional.

Indonesia National Air Carriers Association atau INACA memperkirakan potensi kerugian maskapai dapat mencapai Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari apabila gangguan penerbangan terjadi dalam skala sedang di Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Jakarta, dan Bandara Radin Inten II (TKG), Lampung.

Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengatakan kerugian tersebut memiliki dua sumber utama, yakni hilangnya pendapatan dan meningkatnya biaya operasional.

“Kerugian maskapai saat IROP abu vulkanik itu ‘dobel’: pendapatan hilang plus biaya naik,” kata Bayu Sutanto, Sekretaris Jenderal INACA.

Dalam simulasi tersebut, gangguan diasumsikan menyebabkan 30 sampai 50 penerbangan dibatalkan setiap hari. Pendapatan yang hilang diperkirakan mencapai Rp8 miliar sampai Rp15 miliar per hari.

Di saat yang sama, maskapai masih harus menanggung biaya tambahan. Pengeluaran untuk bahan bakar, kru, dan parkir pesawat diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar hingga Rp3 miliar per hari. Ada pula potensi biaya kompensasi dan layanan penumpang sekitar Rp500 juta sampai Rp1,2 miliar.

Jika gangguan berlangsung selama satu pekan, total potensi kerugian dapat mencapai Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.

Pembatalan penerbangan menjadi beban terbesar

Menurut Bayu, komponen terbesar dalam kerugian maskapai berasal dari pendapatan yang hilang akibat pembatalan penerbangan. Kursi yang sebelumnya sudah terjual tidak lagi menghasilkan pendapatan ketika pesawat tidak dapat beroperasi.

“Pendapatan hilang karena cancel itu yang paling besar, sekitar 50-60 persen dari total kerugian. Kursi yang sudah terjual tapi tidak terbang, revenue langsung hangus. Refund juga membuat cashflow keluar,” ujar Bayu Sutanto.

Masalahnya, pembatalan penerbangan tidak serta-merta membuat seluruh biaya maskapai berhenti. Pesawat tetap mengalami depresiasi, sementara biaya sewa atau leasing tetap berjalan. Maskapai juga masih harus membayar biaya kru dan sejumlah kebutuhan operasional lainnya.

Baca Juga:  Tragis di Blora Ibu Tewas Tersetrum Saat Rumah Terendam Banjir

Tekanan tambahan muncul ketika pesawat harus menghindari wilayah yang terdampak abu vulkanik. Pengalihan rute dapat membuat waktu penerbangan lebih panjang dan meningkatkan konsumsi bahan bakar.

Untuk sejumlah penerbangan menuju Lampung, Bengkulu, Palembang, serta rute internasional menuju Australia, pesawat dapat diarahkan melalui jalur yang lebih aman. Menurut simulasi INACA, perubahan rute tersebut dapat menambah waktu terbang sekitar 20 hingga 40 menit.

Penundaan atau holding juga menjadi salah satu skenario yang mungkin terjadi. Pesawat dapat menunggu sampai jalur penerbangan dinyatakan aman sebelum melanjutkan perjalanan. Di Jakarta, penundaan diperkirakan dapat berlangsung sekitar 60 hingga 120 menit pada periode tertentu.

Dampaknya juga dapat merambat ke penerbangan berikutnya. Satu pesawat yang mengalami keterlambatan di Jakarta dapat memengaruhi tiga hingga empat rute selanjutnya. Kondisi tersebut berpotensi menekan tingkat keterisian penerbangan pada sore dan malam hari.

Gangguan penerbangan akibat abu vulkanik memang telah terjadi dalam skala besar. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan yang disampaikan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, hingga Senin, 7 September 2026, sebanyak 2.961 penerbangan domestik dan internasional terdampak, terdiri dari 2.339 penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional. Sekitar 341.000 penumpang ikut terdampak.

Sejumlah bandara sempat ditutup sementara sebagai langkah keselamatan karena sebaran abu vulkanik dan perubahan arah angin. Pemerintah juga menyiapkan sejumlah bandara alternatif untuk menjaga konektivitas penerbangan dan mencegah penumpukan penumpang.

Dari sisi teknis, biaya tidak berhenti ketika penerbangan kembali normal. Pesawat yang diduga terpapar abu vulkanik dapat membutuhkan pemeriksaan mesin menggunakan metode borescope sebelum kembali menjalani operasi normal.

Bayu memperkirakan pemeriksaan tersebut dapat menelan biaya US$20 ribu hingga US$50 ribu per mesin, atau sekitar Rp352,6 juta hingga Rp881,5 juta dengan asumsi kurs Rp17.630 per dolar AS.

Baca Juga:  Kebakaran Nipah Park Makassar Terungkap, BPBD Ungkap Dugaan Penyebab Api

Abu vulkanik memang menjadi ancaman serius bagi pesawat karena partikel dapat masuk ke mesin dan mengganggu sistem penerbangan. Karena itu, keputusan pembatalan, penundaan atau pengalihan rute sangat bergantung pada perkembangan sebaran abu dan informasi keselamatan penerbangan.

Menurut simulasi INACA, jika status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih Siaga dengan Volcanic Ash Advisory berada pada level Orange, sekitar 15-25 persen penerbangan dari Jakarta dan 40-60 persen penerbangan dari Lampung berpotensi mengalami keterlambatan atau pembatalan setiap hari.

Durasi gangguan menjadi faktor penting berikutnya. Jika erupsi dan sebaran abu berlangsung lebih dari lima hari, dampaknya diperkirakan dapat meluas ke sektor lain seperti pariwisata, perjalanan bisnis, logistik dan pengiriman kargo.

“Kalau erupsi dan sebaran abu lebih dari lima hari, dampaknya bisa mulai sistemik. Kerugian ekonomi bisa tembus Rp100 miliar lebih dan mulai menggerus target kuartal III-IV maskapai,” kata Bayu Sutanto.

Gangguan penerbangan juga berpotensi meluas apabila arah angin berubah. Sebaran abu ke arah barat dapat memengaruhi Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandung, sedangkan pergerakan ke selatan dapat berdampak pada jalur penerbangan menuju Denpasar dan Lombok.

Dengan skala gangguan yang telah mencapai ribuan penerbangan, tekanan terhadap maskapai menjadi salah satu dampak ekonomi langsung dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemerintah dan operator penerbangan harus terus menyesuaikan operasional berdasarkan kondisi abu vulkanik dan informasi keselamatan penerbangan.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED