Matahari Terlihat Merah di Medan, BMKG Jelaskan Penyebab dan Kondisinya

BMKG menjelaskan fenomena Matahari tampak merah di Medan sebagai efek optik atmosfer akibat aerosol, debu, asap dan kondisi udara.

BMKG menjelaskan fenomena Matahari tampak merah di Medan sebagai efek optik atmosfer akibat aerosol, debu, asap dan kondisi udara

Fenomena Matahari tampak merah di Kota Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (6/9) sempat menarik perhatian masyarakat. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa warna kemerahan tersebut bukan berarti Matahari benar-benar mengalami perubahan warna.

Menurut BMKG Sumatera Utara, fenomena itu merupakan efek optik atmosfer. Cahaya Matahari mengalami proses hamburan dan penyaringan ketika melewati atmosfer sebelum akhirnya diterima oleh mata manusia.

“Fenomena Matahari tampak merah yang terlihat masyarakat Medan kemarin pada dasarnya merupakan efek optik atmosfer,” tulis BMKG Sumatera Utara dalam keterangannya.

Partikel yang berada di atmosfer, seperti aerosol, debu dan asap, dapat memengaruhi perjalanan cahaya Matahari. Dalam kondisi tersebut, cahaya biru lebih banyak mengalami hamburan sehingga cahaya yang sampai ke mata menjadi lebih didominasi warna merah atau jingga.

Efek tersebut biasanya semakin mudah terlihat ketika posisi Matahari masih rendah, terutama pada pagi atau sore hari. Kondisi atmosfer di sekitar Medan pada saat fenomena tersebut terjadi diduga turut memperkuat tampilan warna kemerahan.

Kondisi Udara Medan Ikut Memengaruhi Warna Matahari

BMKG mencatat adanya kondisi haze atau udara kabur di Kota Medan dan sekitarnya pada sore hingga malam hari. Keberadaan aerosol di atmosfer menjadi salah satu faktor yang diduga memperkuat efek visual tersebut.

Berdasarkan data pengamatan Automatic Solar Radiation Station (ASRS) dari Stasiun Klimatologi Sumatera Utara pada 6 September, intensitas radiasi Matahari atau Global Horizontal Irradiance (GHI) mencapai 1.099,7 watt per meter persegi pada pukul 11.49 WIB.

Baca Juga:  SpaceX Berhasil Luncurkan Teleskop NASA untuk Ungkap Misteri Energi Gelap

Pada waktu yang sama, suhu udara tercatat 32,2 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 71 persen. BMKG menyebut kondisi tersebut menunjukkan udara yang panas dan cukup lembap, bukan kondisi udara yang kering.

Kelembapan udara yang tinggi berarti terdapat cukup banyak uap air di atmosfer. Ketika kondisi tersebut berpadu dengan partikel aerosol, proses hamburan cahaya Matahari dapat berubah dan menghasilkan tampilan warna yang berbeda bagi pengamat.

Berdasarkan pemantauan BMKG pada awal September, asap juga masih terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Utara, seiring kondisi atmosfer yang relatif kering pada musim kemarau.

BMKG menjelaskan GHI merupakan ukuran radiasi Matahari yang memperhitungkan seluruh radiasi yang sampai ke sensor. Data tersebut digunakan untuk memantau kondisi radiasi Matahari di suatu wilayah.

BMKG mengimbau masyarakat tidak perlu panik melihat fenomena Matahari berwarna merah tersebut. Namun, apabila kondisi udara terlihat berkabut atau berasap dan jarak pandang menurun, masyarakat diminta tetap memperhatikan kualitas udara serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait.

Referensi:
CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Sains

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Sains Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia sains — semua ada di sana!

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED