Kisah Haru Penyesalan Seorang Ibu: Keheningan Malam dan Goresan Luka yang Tak Pernah Sembuh
Suara detik jarum jam di dinding kamar terasa begitu keras, membentur dinding-dinding sepi saat malam mencapai puncaknya. Di atas ranjang...
Read more
Aroma aspal basah dan embun dingin malam merayap masuk lewat celah jendela kaca kafe yang separuh terbuka. Di atas meja kayu bulat berukuran sedang, uap tipis mengapung pelan dari cangkir chamomile tea yang mulai mendingin.
Laras menyentuh pinggiran cangkir keramik itu dengan ujung jarinya. Bukan untuk menyesap sisa cairan hangat di dalamnya, melainkan sekadar memastikan bahwa jemarinya masih memiliki daya untuk meraba. Namun, rasa dingin yang mengendap di luar sana seolah berpindah, menetap permanen di balik kulit dan rongga dadanya.
Di hadapannya, sebuah kursi kayu tua terbiar kosong.
Ada kebiasaan kecil milik Aris yang baru sangat dirasakannya ketika pria itu tak lagi berada di sana: Aris selalu mengetukkan telunjuk kanannya dua kali di meja setiap kali ia hendak menyampaikan sesuatu yang penting. Ketukan samar yang ritmis—tuk, tuk—seperti detak jam dinding kuno yang tak pernah terlambat.
Laras memejamkan mata. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ketukan itu masih terdengar. Begitu nyata, memanggil namanya dari ruang ingatan yang menolak padam.
“Kalau gerimisnya reda sebelum pukul delapan, kita lewat jalan lingkar selatan saja,” ujar Aris malam itu. Suara beratnya yang tenang berpadu dengan deru usang kipas angin kafe. Tangannya sibuk mengaitkan gesper jaket kulit hitam yang sudah agak mengelupas di bagian siku. Ada kehangatan spontan yang selalu terpancar dari matanya yang menyipit setiap kali ia tersenyum—sebuah senyum sederhana yang selalu berhasil membuat Laras merasa bahwa dunia yang bising ini mendadak hening seketika.
Laras memiringkan kepala, menatap kerutan halus di sudut mata Aris. “Jalan lingkar? Jam segini biasanya truk kontainer masih suka ugal-ugalan, Ris. Lewat jalan kota saja, ya?”
Aris menghentikan gerakannya. Ia menatap Laras, lalu mengulurkan tangan melintasi meja. Ibu jarinya merengkuh jemari Laras yang berada di atas meja, menyapunya lembut. Sentuhan yang tidak terburu-buru, membawa rasa aman yang meresap hingga ke dalam sel-sel tubuh Laras.
“Jalan kota lampu merahnya ada tujuh, Ras. Aku cuma mau makin cepat sampai di rumahmu, makin lama duduk di teras sebelum ibumu keluar mematikan lampu depan,” bisiknya. Ada nada humor hangat yang diselipkan dengan rapi di balik kejujuran polos itu.
Laras tertawa pelan, menggelengkan kepala. Namun ia tidak menolak. Ia tak pernah bisa—dan tak pernah ingin—menolak cara Aris mencintainya: tidak megah, tidak riuh oleh janji-janji muluk, tetapi kokoh seperti akar pohon tua di halaman belakang rumah mereka.
Mereka naik ke atas sepeda motor tua berwarna biru gelap milik Aris. Laras merapatkan jaket denimnya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aris, lalu menyandarkan dagunya di bahu kiri pria itu. Aroma minyak kayu putih bertumpuk dengan wangi sabun mandi yang khas dari tubuh Aris melingkupi inderanya. Itu adalah aroma kenyamanan. Aroma tempatnya selalu pulang.
Lampu belakang sepeda motor memancarkan cahaya merah temaram menyusuri jalanan malam yang basah. Jalan lingkar selatan memang sepi, dipayungi deretan pohon angsana yang meneteskan sisa air hujan ke atas helm mereka.
Aris menepuk pelan tangan Laras yang terlingkar di perutnya. “Nanti Sabtu depan, kita cari toko furnitur yang kemarin kamu ceritakan, ya? Yang jualan meja makan kayu kecil itu.”
“Meja yang sudutnya bulat?” suara Laras agak terendam angin malam.
“Iya. Supaya kalau anak kita nanti belajar jalan dan lari-lari, kepalanya enggak terbentur,” jawab Aris santai.
Jantung Laras mendesis hangat. Pipinya menempel semakin erat pada punggung Aris. “Kamu berpikirnya jauh banget, sih. Menikah saja belum.”
“Tinggal empat bulan lagi, Laras. Empat bulan itu cuma sejauh empat kali ganti kalender dinding,” jawab Aris, terkekeh pelan. Suara tawa itu bergetar melalui rongga dadanya, merambat lurus ke telapak tangan Laras.
Namun, getaran itu tiba-tiba terputus.
Di persimpangan tak berlampu di depan mereka, sorot cahaya putih yang sangat menyilaukan mendadak memotong kegelapan malam. Cahaya itu terlalu tinggi, terlalu luas, dan bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal dari arah berlawanan.
Suara klakson angin bergelombang kasar membelah malam—panjang, tajam, dan memekakkan telinga.
“Aris—!”
Laras merasakan tubuh Aris menegang seketika. Dalam hitungan milidetik yang terasa merenggang jadi selamanya, Aris tidak menarik rem secara mendadak yang bisa membuat mereka terpelanting ke kolong ban. Sebaliknya, lengan Aris yang kekar secara refleks membanting stang ke arah kiri sejauh mungkin, sembari memutar seluruh badannya—menggunakan punggung dan tubuhnya sendiri sebagai tameng utuh untuk melindungi Laras dari benturan utama.
Dunia seakan kehilangan gravitasinya.
Suara dentuman besi bertabrakan dengan berat menggelegar, disusul bunyi decitan ban yang menyeret aspal basah. Udara mendadak penuh dengan bau hangus karet, minyak berceceran, dan pecahan kaca yang beterbangan seperti kristal tajam di bawah lampu sorot truk.
Laras terlempar ke semak-semak di pinggir jalan. Tubuhnya menghantam tanah basah dengan keras, napasnya terputus seketika. Pandangannya kabur, diwarnai kilatan merah dan hitam yang berputar acak. Suara dengung berfrekuensi tinggi memenuhi kedua telinganya.
“A… ris…” suara Laras keluar berupa bisikan tipis yang remuk.
Dengan sisa tenaga dan rasa sakit yang menjalar hebat di bahu kirinya, Laras merangkak. Tanah basah mengotori jemarinya, masuk ke balik kuku-kukunya. Beberapa meter di depannya, di bawah bayang-bayang badan truk yang miring, sepeda motor biru itu hancur tak berbentuk.
Dan di sana, tergeletak di antara ceceran oli dan pecahan kaca yang memantulkan cahaya lampu jalan, Aris berbaring telentang.
Laras mencapai tubuh itu. Tangannya yang gemetaran hebat menyentuh dada Aris. Jaket kulit Aris terasa basah dan hangat—bukan oleh air hujan.
“Ris… Aris, bangun…” suara Laras tercekik di kerongkongan.
Aris tidak bergerak. Helmnya telah terlepas entah ke mana. Mata pria itu terbuka redup, menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. Tidak ada darah yang keluar dari bibirnya, tetapi napasnya datang dalam hembusan pendek-pendek yang patah—seolah rongga di dalam sana telah runtuh sepenuhnya.
Ketika Laras menggenggam tangan kanan Aris, jemari pria itu berusaha menyambutnya. Dengan sisa kesadaran yang kian menipis seperti lilin dihempas badai, telunjuk kanan Aris bergerak pelan di atas punggung tangan Laras.
Ketuk.
Ketuk.
Dua ketukan lemah. Isyarat terakhir bahwa ia ada, bahwa ia masih mencintainya.
Bibir Aris bergerak tanpa suara. Laras mendekatkan telinganya ke mulut Aris, air matanya menetes panas meresap ke dalam kain pakaian Aris yang dingin.
“…ma… af…” bisik Aris. Begitu tipis, seperti embun yang menguap diusap angin. “…meja… makan… nya…”
Setitik air mata luruh dari sudut mata Aris, mengalir melewati pelipisnya, bercampur dengan minyak dan tanah basah. Setelah itu, tidak ada lagi helaan napas pendek. Tidak ada lagi gerakan pada telunjuk kanan itu. Dada di bawah telapak tangan Laras berhenti naik dan turun.
Suara sirene ambulans mulai terdengar samar dari kejauhan, membelah malam yang sepi, namun semuanya sudah terlambat. Dunia telah kehilangan detaknya.
Laras mengedipkan mata, ditarik kembali secara paksa oleh kenyataan di meja kafe yang dingin.
Ia menatap jemari tangannya sendiri. Tidak ada lagi tangan hangat Aris yang menggenggamnya. Tidak ada lagi pembicaraan sederhana tentang meja makan bersudut bulat atau empat lembar kalender yang tersisa. Yang ada hanyalah sunyi yang teramat luas—sebuah ruang hampa yang ditinggalkan oleh seseorang yang membawa separuh nyawanya pergi malam itu.
Pelayan kafe datang menghampiri, meletakkan selembar kuitansi dengan sopan. “Mbak, maaf, kafenya sepuluh menit lagi mau tutup.”
Laras mengangguk pelan. “Iya, terima kasih.”
Ia berdiri, merapatkan mantelnya, lalu berjalan keluar menuju gerimis tipis yang kembali turun. Saat kakinya melangkah melewati pintu kaca, Laras menoleh sebentar ke belakang—pada kursi kosong di sudut ruangan yang kini benar-benar gelap.
“Empat bulan sudah lewat, Ris,” bisik Laras pada angin malam yang dingin. “Dan aku masih di sini, belajar bernapas tanpa kamu.”
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Novel Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia novel — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Suara detik jarum jam di dinding kamar terasa begitu keras, membentur dinding-dinding sepi saat malam mencapai puncaknya. Di atas ranjang...
Kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perkembangan tersebut kini juga memunculkan kekhawatiran baru...