Kiprah Andre Rosiade Berbuah Penghargaan di Ajang KWP Awards 2026
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Andre Rosiade, meraih penghargaan dalam ajang Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) Awards 2026. Ia...
Read more
Seorang pria berinisial WFT (22) ditangkap aparat setelah dia mengaku sebagai hacker bernama “Bjorka” dan menyatakan telah meretas 4,9 juta data nasabah. Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan dugaan peretasan dan transaksi data ilegal melalui jaringan gelap (dark web).
“Dia mem-posting tampilan salah satu akun nasabah bank swasta dan mengirimkan pesan ke akun resmi bank tersebut serta mengklaim telah meretas 4,9 juta akun database nasabah,” ujar Kasubdit IV Ditres Siber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon, pada Kamis (2/10).
WFT yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, ditangkap di Desa Totolan, Kecamatan Kakas Barat pada Selasa (23/9).
Berikut lima fakta penting terkait kasus ini:
Menurut AKBP Fian Yunus, Wakil Direktur Siber Polda Metro Jaya, WFT melakukan transaksi data ilegal melalui dark web sejak 2020.
“Pelaku kita ini bermain di dark web … sudah mulai mengeksplor sejak tahun 2020,” kata Fian Yunus.
WFT mengaku menjual data institusi dalam dan luar negeri, perusahaan kesehatan dan swasta, menggunakan metode pembayaran mata uang kripto.
Dalam pemeriksaan, polisi menyebut WFT sudah mengeksplor dark web sejak tahun 2020.
Ia pernah berganti nama pengguna beberapa kali — “Bjorka”, “SkyWave”, “ShinyHunter”, hingga “Opposite6890” — untuk menyamarkan diri.
Ganti username ini dianggap sebagai strategi agar pelaku sulit dilacak oleh aparat penegak hukum.
WFT mengaku harga data yang dijual bervariasi tergantung pembelinya di dark forum.
“Pengakuannya satu kali menjual data itu kurang lebih nilainya puluhan juta,” kata Fian Yunus.
Transaksi dilakukan dengan metode pembayaran cryptocurrency, menurut keterangannya.
Polisi menyebut WFT bukan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan bukan ahli bidang teknologi informasi (IT).
“Yang bersangkutan ini bukan ahli IT, hanya orang yang tidak lulus SMK,” jelas Fian Yunus.
Ia belajar kriminal siber secara otodidak melalui komunitas media sosial.
Polisi masih menyelidiki apakah tindakan WFT terkait kebocoran data pejabat negara, seperti data NPWP 6 juta warga termasuk Presiden.
“Mungkin (Bjorka yang membocorkan data), jawabannya saya bisa jawab ‘mungkin’ … mungkin dia Opposite6890 yang dicari,” terang Fian Yunus.
Nama “Bjorka” sebelumnya sempat mencuat terkait kebocoran data pejabat seperti Luhut Binsar, Mahfud MD, dan Anies Baswedan.
Kasus ini memperlihatkan betapa sulitnya membendung kejahatan siber yang memakai jalur gelap (dark web) dan sistem pembayaran anonim seperti kripto.
Walau pelaku bukan ahli formal IT, metode pembelajaran mandiri dan jaringan online memungkinkan mereka beraksi secara luas. Perubahan identitas digital juga menjadi kendala besar dalam investigasi digital forensik.
Terlebih, jika fakta kebocoran data terkait pejabat terbukti, maka dampak politik dan kepercayaan publik bisa signifikan. Ke depan, penegak hukum perlu memperkuat kapasitas teknologi, kerjasama antar lembaga, serta regulasi transaksi kripto agar penyalahgunaan data makin sulit dilakukan.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Sebuah rekaman CCTV memperlihatkan aksi pelecehan terhadap karyawati toko ponsel di kawasan Pasar Benai, Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi, yang...
Fenomena weekend warrior, yaitu orang yang hanya berolahraga berat di akhir pekan, ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap...