Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia, BMKG Jelaskan Penyebab dan Daerah Terparah
Sejumlah wilayah di Indonesia tengah dilanda cuaca panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Warga ramai mengeluhkan suhu udara yang terasa sangat menyengat, bahkan sejak pagi hari.
“Cuaca panasnya sudah tidak masuk akal, seperti disembur naga,” tulis salah satu pengguna media sosial yang mengaku merasakan suhu mencapai 36 derajat celcius di pagi hari. Keluhan serupa juga muncul dari warganet lain yang mengeluhkan kulit gatal dan iritasi akibat panas berlebih.
Penyebab Cuaca Panas Menurut BMKG
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan bahwa fenomena panas kali ini disebabkan oleh beberapa faktor utama.
Pertama, pergeseran semu matahari ke selatan Indonesia. Pergeseran ini menyebabkan intensitas radiasi matahari meningkat di wilayah selatan, sehingga suhu udara terasa lebih terik.
Kedua, minimnya tutupan awan di atmosfer. Kondisi ini membuat sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi tanpa banyak hambatan, sehingga udara menjadi panas dan kering.
Ketiga, masa pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Pada masa ini, suhu udara umumnya tinggi dan disertai angin kering.
Menurut BMKG, cuaca panas ekstrem ini masih termasuk dalam batas normal selama periode peralihan musim. Namun masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi tubuh, menghindari paparan matahari berlebihan, serta memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan akibat panas.
Daerah dengan Suhu Tertinggi
Berdasarkan data BMKG, beberapa wilayah mengalami suhu tertinggi dalam periode panas ekstrem ini:
-
DKI Jakarta mencapai 35 derajat celcius.
-
Surabaya dan Sidoarjo (Jawa Timur) hingga 36 derajat celcius.
-
Semarang, Grobogan, dan Sragen (Jawa Tengah) antara 34 hingga 35 derajat celcius.
-
Bali dan Nusa Tenggara mencapai 35 derajat celcius.
BMKG memperkirakan cuaca panas ini akan mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025, bersamaan dengan datangnya musim hujan yang meningkatkan tutupan awan dan menurunkan suhu udara.
“Fenomena ini masih dalam batas normal untuk periode peralihan musim, namun masyarakat perlu menjaga kondisi tubuh agar tidak mudah mengalami heat exhaustion atau kelelahan akibat panas,” kata Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG.
Referensi: DetikHealth