ChatGPT Diboikot, Imbas Kesepakatan OpenAI dengan Militer Amerika

Boikot ChatGPT menggema setelah OpenAI menandatangani kesepakatan dengan Pentagon. Pengguna beralih ke Claude dan AI lain. (Foto: AFP/JUSTIN TALLIS)

Boikot ChatGPT menggema setelah OpenAI menandatangani kesepakatan dengan Pentagon

Gelombang boikot terhadap ChatGPT ramai diperbincangkan di media sosial setelah OpenAI menandatangani kesepakatan dengan Departemen Perang Amerika Serikat atau Pentagon. Keputusan ini memicu kekhawatiran sejumlah pengguna terkait potensi penggunaan kecerdasan buatan untuk kepentingan militer.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari Independent, kesepakatan tersebut terjadi setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berupaya mengakhiri kontrak dengan perusahaan AI lain, Anthropic. Langkah itu disebut berkaitan dengan kekhawatiran Anthropic atas kemungkinan produknya digunakan untuk pengawasan massal dan sistem senjata otonom.

CEO Anthropic, Dario Amodei, menyatakan perusahaannya menolak permintaan tersebut. “Secara hati nurani kami tidak bisa menyetujui permintaan itu,” kata Dario Amodei. Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah sempat mengancam melabeli Anthropic sebagai “risiko rantai pasokan”, istilah yang biasanya digunakan untuk musuh Amerika Serikat dan belum pernah diterapkan pada perusahaan domestik.

Presiden Donald Trump turut mengomentari situasi ini melalui platform Truth Social. “Orang-orang gila sayap kiri di Anthropic telah melakukan KESALAHAN FATAL karena mencoba MENEKAN Departemen Perang, dan memaksa mereka untuk mematuhi Ketentuan Layanan mereka alih-alih Konstitusi kita,” tulis Donald Trump.

ChatGPT Ditinggalkan, Claude Melonjak

Sejak polemik ini mencuat, sejumlah pengguna memilih beralih dari ChatGPT ke chatbot lain. Chatbot Claude milik Anthropic bahkan melonjak ke posisi teratas aplikasi gratis di Apple App Store, menyalip ChatGPT.

CEO OpenAI, Sam Altman, menjelaskan bahwa kerja sama dengan Pentagon memungkinkan militer Amerika menggunakan teknologi AI OpenAI di dalam sistem rahasia mereka. Namun, ia menegaskan bahwa prinsip keselamatan tetap menjadi prioritas.

“Dua dari prinsip keselamatan terpenting kami adalah larangan terhadap pengawasan massal domestik dan tanggung jawab manusia atas penggunaan kekuatan, termasuk untuk sistem senjata otonom. Departemen Perang sepakat dengan prinsip-prinsip ini, mencerminkannya dalam hukum serta kebijakan, dan kami memasukkannya ke dalam kesepakatan kami,” tulis Sam Altman.

Meski demikian, pengumuman tersebut memicu gerakan boikot. Salah satu unggahan populer di komunitas Reddit r/ChatGPT yang memiliki sekitar 11 juta anggota menyerukan pembatalan langganan. Dalam unggahan itu disebutkan, “OpenAI baru saja membuat kesepakatan dengan iblis. Sam Altman memutuskan uang pertahanan lebih penting dari semua prinsip yang jadi fondasi berdirinya perusahaan ini.”

Sebuah kampanye bernama QuitGPT juga menuduh OpenAI lebih mementingkan keuntungan dibanding keselamatan publik. Dalam pernyataannya, mereka menyebut bahwa pada 27 Februari, Anthropic menolak memberikan akses tanpa batas kepada Pentagon untuk pengawasan massal atau produksi senjata AI tanpa pengawasan manusia.

QuitGPT juga mendorong pengguna beralih ke platform lain yang diklaim lebih mengutamakan privasi dan bersifat open-source, seperti Confer, Alpine, dan Lumo, serta Gemini dari Google dan Claude dari Anthropic. Selain itu, mereka merencanakan aksi protes langsung di markas besar OpenAI di San Francisco pada 3 Maret.

Referensi:
detikINET

📚 ️Baca Juga Seputar Internet

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internet Terpopuler 2026

. Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internet — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED