Telur Rebus Setengah Matang atau Matang, Pilihan Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang mudah diperoleh, bergizi tinggi, dan dapat diolah dengan berbagai cara. Salah satu...
Read more
Banyak orang percaya bahwa anak yang lahir dari orang tua cerdas memiliki peluang lebih besar untuk memiliki kemampuan intelektual yang baik. Anggapan tersebut memang memiliki dasar ilmiah, tetapi para ahli menegaskan bahwa faktor genetik bukan satu-satunya penentu kecerdasan seorang anak.
Perkembangan kemampuan berpikir dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor keturunan, lingkungan, nutrisi, hingga pola pengasuhan sejak masa kehamilan. Karena itu, upaya membangun kecerdasan anak tidak cukup hanya mengandalkan faktor bawaan.
Menurut dr. Kanya Ayu, dokter spesialis anak, faktor genetik memang berperan dalam perkembangan kecerdasan. Namun, perkembangan otak pada masa awal kehidupan justru menjadi periode yang sangat menentukan.
“Dari dalam kandungan sampai setidaknya 1.000 hari pertama kehidupan atau sampai usia 2 tahun, perkembangan otak manusia mencapai sekitar 80 persen otak dewasanya,” kata dr. Kanya Ayu, dokter spesialis anak.
Menurut dr. Kanya Ayu, perkembangan kecerdasan anak dipengaruhi oleh tiga komponen utama yang dikenal sebagai asah, asih, dan asuh. Ketiganya perlu berjalan secara seimbang agar kemampuan kognitif anak berkembang secara optimal.
Komponen asah berkaitan dengan pemenuhan nutrisi. Selama masa pertumbuhan, anak membutuhkan asupan protein, zat besi, DHA, vitamin, dan berbagai mikronutrien lain untuk mendukung pembentukan jaringan otak serta fungsi sistem saraf.
Selain gizi, faktor asih juga memegang peranan penting. Orang tua diharapkan membangun hubungan emosional yang positif dengan anak melalui kasih sayang, perhatian, serta membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosi ketika menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, asuh berkaitan dengan stimulasi yang diberikan kepada anak sejak dini. Berdasarkan penjelasan dr. Kanya Ayu, stimulasi sederhana seperti mengajak bayi berbicara, membaca buku, bermain, bernyanyi, hingga berinteraksi secara aktif dapat membantu perkembangan kemampuan bahasa, daya ingat, dan keterampilan sosial.
“Percuma kalau orang tuanya pintar dan kebutuhan gizi anak terpenuhi, tetapi anak tidak pernah diajak berinteraksi atau diberikan stimulasi yang sesuai. Semua faktor tersebut harus berjalan seimbang,” kata dr. Kanya Ayu.
Berdasarkan berbagai penelitian mengenai perkembangan anak, 1.000 hari pertama kehidupan merupakan masa yang sangat penting karena otak berkembang sangat pesat pada periode tersebut. Kekurangan nutrisi, minimnya stimulasi, atau lingkungan yang kurang mendukung dapat memengaruhi perkembangan kemampuan belajar di kemudian hari.
Selain itu, lingkungan keluarga yang hangat, kesempatan bermain, kualitas tidur yang baik, aktivitas fisik, serta akses terhadap pendidikan juga ikut membentuk kemampuan berpikir anak seiring pertambahan usia.
Karena itu, para ahli menilai kecerdasan bukan hanya hasil warisan genetik, tetapi merupakan kombinasi antara potensi biologis dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
"The strongest warrior is not always defeated by a stronger enemy—sometimes he is defeated by the throne he chooses to...
Banyak orang percaya bahwa anak yang lahir dari orang tua cerdas memiliki peluang lebih besar untuk memiliki kemampuan intelektual yang...