Komet MAPS Hancur di Dekat Matahari, Ini Fakta Menarik di Baliknya
Fenomena komet C/2026 A1 atau MAPS menjadi salah satu peristiwa astronomi yang paling dinantikan pada April 2026. Namun, harapan untuk...
Read more
Fenomena badai geomagnetik kuat melanda secara global pada 12 hingga 14 November 2025. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa peristiwa ini tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap infrastruktur di wilayah Indonesia.
Ketua Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG, Syirojudin, menjelaskan bahwa badai geomagnetik kali ini dipicu oleh aktivitas Matahari yang sangat tinggi berupa suar Matahari kelas X5.1, salah satu kategori paling kuat dalam sistem pengamatan cuaca antariksa.
“Peristiwa itu memicu lontaran plasma dan medan magnet berkecepatan tinggi atau Coronal Mass Ejection (CME) yang mengarah ke Bumi. Berdasarkan pantauan dari NOAA Space Weather Prediction Center (SWPC), tingkat badai geomagnetik mencapai level G4 atau kategori berat,” kata Syirojudin, dikutip Kamis (13/11).
Berdasarkan pengamatan di sejumlah observatorium magnet bumi milik BMKG seperti di Tondano, Tuntungan, dan Serang, aktivitas geomagnetik mulai terdeteksi sejak dini hari pada 12 November dan berlangsung selama tiga hari.
Hasil pemantauan menunjukkan nilai indeks K maksimum mencapai level badai berat, namun dampaknya relatif kecil di Indonesia. Menurut Syirojudin, posisi geografis Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa menjadi faktor utama yang mengurangi efek ekstrem dari badai geomagnetik.
“Wilayah ekuator memiliki sabuk magnetosfer yang kuat, disebut Equatorial Electrojet, yang berfungsi sebagai perisai alami dari partikel berenergi tinggi,” jelasnya.
Dengan kondisi ini, Indonesia terlindungi secara alami dari sebagian besar efek badai geomagnetik berat yang biasanya lebih dirasakan di wilayah lintang tinggi seperti Amerika Utara atau Eropa.
Meski secara umum aman, Syirojudin tetap mengingatkan adanya potensi gangguan minor hingga moderat pada beberapa sistem berbasis teknologi. Gangguan tersebut bisa terjadi pada komunikasi satelit, navigasi GPS, serta komunikasi radio frekuensi tinggi (HF) di sejumlah wilayah Indonesia.
Karena itu, BMKG menyarankan agar sektor-sektor yang bergantung pada sistem tersebut, terutama transportasi udara dan laut, melakukan pemantauan intensif terhadap indeks K dan indeks A secara real-time. Lembaga ini juga merekomendasikan agar operator menyiapkan protokol komunikasi cadangan untuk mengantisipasi gangguan sementara.
“Tidak ada alasan untuk panik. Perlindungan magnetosfer membuat ancaman terhadap kehidupan sehari-hari maupun jaringan listrik di Indonesia sangat kecil,” tegas Syirojudin.
Dengan perlindungan alamiah magnetosfer dan sistem pemantauan yang aktif, Indonesia dipastikan tetap aman dari dampak besar badai geomagnetik global yang tengah terjadi.
Referensi: CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Sains Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia sains — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kasus dugaan pencurian terjadi di salah satu resort di kawasan Ubud, Bali. Seorang warga negara asing (WNA) asal India diduga...
Seorang pria berusia 39 tahun diamankan aparat kepolisian di wilayah Kalideres, Jakarta Barat, setelah diduga melakukan pelecehan terhadap tiga anak...