Harga BBM Pertamina Oktober Stabil, Cek Daftar BBM Subsidi dan Nonsubsidi
Harga BBM Pertamina Oktober 2026 Stabil, Cek Daftar BBM Subsidi dan Nonsubsidi Harga bahan bakar minyak atau BBM Pertamina pada...
Read more
Kinerja ekspor Indonesia menunjukkan peningkatan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kumulatif mencapai US$193,64 miliar, naik 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat US$184,89 miliar.
Pertumbuhan tersebut terutama masih ditopang oleh sektor industri pengolahan. Data perdagangan menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas ekspor tidak hanya berasal dari komoditas primer, tetapi juga dari produk yang telah melalui proses pengolahan dan memiliki nilai tambah lebih tinggi.
BPS mencatat nilai ekspor industri pengolahan sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$159,55 miliar, meningkat 7,87 persen secara tahunan dari US$147,91 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya kontribusi manufaktur terhadap perkembangan ekspor nasional. Produk hasil pengolahan menjadi bagian penting dalam peningkatan ekspor nonmigas Indonesia selama periode tersebut.
Menurut data BPS yang dikutip dalam laporan perdagangan, sejumlah produk yang mengalami peningkatan ekspor antara lain produk olahan nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari pertanian, aluminium, dan tembaga. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya pergerakan ekspor dari bahan mentah menuju produk yang telah mengalami proses pengolahan.
Sebelumnya, pada Januari-Juli 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat US$167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen secara tahunan. Pada periode tersebut, sektor industri pengolahan menyumbang US$137,26 miliar dari total ekspor kumulatif.
Data tersebut memperlihatkan bahwa industri pengolahan konsisten menjadi komponen terbesar dalam struktur ekspor nasional. Perannya juga berkaitan dengan perkembangan kebijakan hilirisasi yang mendorong pengolahan komoditas sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Kinerja manufaktur dalam negeri juga tercermin dari perkembangan indeks industri. Kementerian Perindustrian mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2026 berada pada level 51,93, yang masih menunjukkan fase ekspansi. Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, 15 subsektor tercatat mengalami ekspansi.
Peningkatan peran industri pengolahan turut berkaitan dengan upaya memperbesar nilai tambah komoditas di dalam negeri. Produk seperti nikel, aluminium, dan tembaga tidak hanya dipandang sebagai komoditas dasar, tetapi juga dapat menjadi bahan bagi produk dengan tingkat pengolahan lebih tinggi.
Menurut data yang dikutip ANTARA dari Kementerian Perdagangan, sepanjang Januari-Juli 2026 ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16 persen dan menyumbang 82,18 persen terhadap total ekspor nasional. Kemendag juga menyebut penguatan hilirisasi membuat struktur ekspor semakin banyak ditopang produk bernilai tambah.
Di sisi lain, perkembangan ekspor berlangsung bersamaan dengan kenaikan impor. BPS mencatat impor Indonesia pada Januari-Juli 2026 mencapai US$163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor tersebut didominasi bahan baku atau bahan penolong sebesar US$116,70 miliar, disusul barang modal US$32,46 miliar dan barang konsumsi US$14,16 miliar.
Komposisi impor tersebut menjadi bagian dari gambaran aktivitas industri nasional karena bahan baku dan barang modal dapat digunakan dalam proses produksi domestik. Data ANTARA yang mengutip Kementerian Perdagangan menunjukkan bahan baku dan barang penolong menyumbang 71,45 persen dari total impor Januari-Juli 2026, sedangkan barang modal mencapai 19,88 persen.
Pada Juli 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$121,9 juta, dengan ekspor US$26,22 miliar dan impor US$26,09 miliar. Surplus tersebut terdiri atas surplus nonmigas sebesar US$3,10 miliar yang mengimbangi defisit migas sebesar US$2,98 miliar.
Perkembangan tersebut menempatkan industri pengolahan dalam posisi penting pada struktur perdagangan Indonesia. Pada saat yang sama, kinerja ekspor tetap dipengaruhi kondisi pasar global, permintaan negara tujuan, harga komoditas, serta kebutuhan bahan baku industri.
Keterangan foto: Aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal pelabuhan yang menggambarkan kegiatan perdagangan ekspor Indonesia.
Photo Caption: Indonesia’s export performance strengthens as the manufacturing industry becomes a key driver of national trade.
Kompas — Ekspor RI Naik 4,74 Persen, Industri Pengolahan Jadi Penopang
ANTARA — BPS: Neraca Dagang RI hingga Juli 2026 Surplus 3,70 Miliar Dolar AS
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Bisnis Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia bisnis — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Teknologi Katup Jantung Makin Modern, TAVI dan TEER Hadir Tanpa Bedah Terbuka Gangguan katup jantung tidak selalu harus ditangani melalui...
Tren HP Lipat Makin Lebar, Desain Mirip Paspor Jadi Sorotan Kehadiran iPhone Duo membawa Apple ke pasar smartphone layar lipat...